• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

4 RAHASIA RUMAH TANGGA BAHAGIA

Penelitian yang dilakukan oleh John Gottman, psikolog yang juga ahli pernikahan menemukan bahwa pola komunikasi pasangan berperan besar dalam menentukan kebahagiaan pernikahan. Ada bentuk komunikasi yang membuat pasangan bahagia, dan ada yang membuat pasangan tak bahagia. Berikut adalah 4 pola komunikasi yang dapat menentukan masa depan rumah tangga Anda:

“Timbal balik komunikasi”
Pada pasangan yang bahagia, ketika satu orang mengatakan hal-hal yang baik, misalnya, “Aku mendapat kenaikan gaji!”, maka pasangannya langsung merespons dengan kalimat positif, seperti, “Wow, luar biasa!”. Sementara itu, jika kalimat yang sama diucapkan oleh pasangan yang tak bahagia, pasangannya mungkin diam saja, atau menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Di sisi lain, dalam pernikahan yang bahagia, ketika pasangannya mengatakan hal-hal negatif, misalnya, “Mobil ini menyebalkan sekali, sih, sedikit-sedikit ada masalah,” maka pasangannya tidak langsung memberikan respons, atau hanya memberikan respons netral. Misalnya, “Iya, ya, ada masalah terus dengan mobil ini.” Jika kalimat yang sama diucapkan oleh mereka yang tak bahagia, pasangannya justru langsung merespons dengan kalimat yang lebih negatif, misalnya, “Kamu, sih, nggak pernah mau ngurusin mobil!”.

“Interpretasi pesan”
Beberapa kalimat bisa diinterpretasikan sekaligus, sebagai pesan untuk memperbaiki hubungan atau untuk menunjukkan kemarahan. Contohnya, ketika seseorang mengatakan, “Jangan ganggu aku!” Pasangan yang tidak bahagia mudah sekali melihat bahwa pesan itu menunjukkan kemarahan, sehingga merespons dengan kemarahan pula, misalnya mengatakan, “Aku nggak bakal ganggu kamu kalau dari tadi kamu sudah bereskan semua urusan ini!” Respons marah ini kemudian justru memperpanas situasi keduanya. Sebaliknya, pasangan yang bahagia justru menginterpretasi pesan yang sama sebagai usaha memperbaiki hubungan, misalnya justru memahami bahwa pasangannya sedang sangat kebingungan. Oleh karena itu responsnya menjadi lebih damai, misalnya, “Oh maaf, aku tak bermaksud mengganggumu,” atau mengatakan dengan tenang, “Oke, aku menunggu saja sampai aku sudah bisa bertanya kepadamu.”

BACA JUGA :   Belajar vs Kuota

“Interpretasi perilaku”
Gottman memperhatikan bahwa para pasangan bahagia menginterpretasikan perilaku pasangannya secara berbeda dibandingkan dengan pasangan yang tak bahagia. Contohnya, perilaku yang mengesalkan seperti baru saja sampai ke rumah dan langsung membanting barang. Pasangan yang tak bahagia cenderung langsung mengartikan perilaku tersebut sebagai tanda bahwa ia memang seorang yang egois, tak ramah kepada keluarga, menyebalkan, dan sifat-sifat buruk lainnya. Mereka yakin bahwa sifat buruk inilah yang merupakan sisi asli dari pasangannya. Sementara itu, perilaku yang sama diartikan oleh pasangan yang bahagia sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja, seperti sedang tidak mood, sedang ada masalah di kantor, bukan sebagai sifat yang menetap ada padanya. Bagaimana jika perilaku yang ditunjukkan positif? Apa yang diinterpretasikan ketika pasangan menunjukkan romantisme atau kebaikhatiannya membantu? Pasangan yang tak bahagia justru melihatnya sebagai sesuatu yang sementara, kebetulan saja, atau hanya keberuntungan dirinya. Di sisi lain, pasangan yang bahagia justru meyakini bahwa kebaikan-kebaikan itulah yang merupakan sifat asli dari pasangannya.

“Pola menuntut vs menarik diri”
Sering kali, istri menuntut suami melakukan ini dan itu, suami tak suka dituntut lalu justru menjauh dari istri. Lalu, istri semakin menuntut, dan suami semakin menjauh. Itulah pola yang sering terjadi pada pernikahan yang tak bahagia. Akhirnya, permasalahan tak pernah tuntas dibahas, dan keduanya semakin menjauh dari satu sama lain. Perlu dipahami bahwa memang ada perbedaan antara istri dan suami dalam menyelesaikan masalah. Istri cenderung banyak berbicara dalam usaha mencari solusi, oleh karena itu ia butuh didengarkan. Sebaliknya, suami cenderung berdiam diri dulu untuk berpikir, dan baru mau bicara ketika sudah merasa siap, oleh karena itu ia butuh diberi waktu berpikir. Yang sungguh diharapkan, pada saat istri menuntut, tetap memahami suaminya, bukan memaksakan suami mendengarkan. Sebaliknya, suami juga diharapkan lebih berusaha mendengarkan ketika istri bicara, bukan langsung memberi solusi. Pola seperti inilah yang ada dalam pernikahan yang bahagia.

BACA JUGA :   Penyetan sambel terasi udang

By:Ayahbunda.co.id

Djuan Revi (303)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!

Djuan Revi

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *