• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis Bab 7 Jatuh Cinta Bikin Lemot Mendadak

Bymutiaradee

Jul 30, 2021

“Kesabarannya, keteguhannya dan perhatiannya membuat dinding tinggi dan kokoh yang sudah lama ku bangun hancur begitu saja
perasaan ini hadir lagi, akan ku jalani apapun yang terjadi walau akan ada hati yang tersakiti”
– Tiara –

“Telah dan akan selalu ku tahan rasa yang terus menggebu di dada, aku tidak akan membuat kesalahan, aku datang hanya sebagai seseorang teman”
– Tara –
Pak Maman itu perantau yang berasal dari Jawa. Waktu aku masih kecil, Pak Maman bekerja sebagai tukang becak. Tapi lambat laun usianya semakin tua dan membuatnya tidak kuat lagi jika harus membanting tulang sebagai tukang becak. Semenjak saat itu, yang dilakukan Pak Maman hanya mengumpulkan sampah-sampah plasktik yang ada di taman ini. Karena rumah beliau yang dekat dengan taman ini, akhirnya beliau memutuskan untuk selalu membersihkan taman ini sekaligus mengumpulkan sampah plastik untuk dijual. Karena keadaannya yang semakin renta beliau memutuskan untuk mengumpulkan uang dan pulang kampung. Sudah hampir 8 tahun terakhir ini beliau mengumpulkan uang untuk pulang kampung. Akhirnya uang itu berhasil dikumpulkannya dan beliau pulang kampung 2 bulan yang lalu. Sebelum pulang kampung Pak Maman berpamitan kepada keluargaku padahal jarak rumah kami cukup jauh. Kami memang sangat dekat dengan Pak Maman bahkan kami telah menganggap Pak Maman sebagai keluarga sendiri. Semenjak kepergian Pak Maman, taman ini jarang dibersihkan. Sehingga banyak rumput dan tanaman liar yang tumbuh. Awalnya sebulan setelah Pak Maman pulang kampung, warga sekitar masih sering membersihkannya. Tapi lama kelamaan warga mulai meninggalkan kegiatan itu. Miris sekali melihat taman ini tidak terawat lagi. Ku pikir akan lebih menyenangkan kalau aku dan keluarga membersihkan taman ini bersama-sama.
Itulah yang ku jelaskan kepada Tara. Ku pikir saat ini dia telah tidur di sampingku karena penjelasanku yang panjang lebar tadi. Tapi ternyata dugaanku salah. Tara sangat memerhatikan dan mendengarkan setiap kata yang ku ucapkan. Dia memang beda dengan cowok-cowok seumuran kami.
“Wah, taman ini tidak bisa dibiarkan terus seperti ini. Kita harus bertindak!” kata Tara dengan penuh semangat.
“Kamu benar Tara. Bagaimana kalau besok kita membersihkan taman ini. Aku akan ajak Ayah, Ibu dan Han.” Usulku pada Tara.
“Ide yang bagus! Kebetulan Papa dan Mamaku akan datang ke sini.”
“Apa? Kamu serius? Wah aku sudah kangen sama Papa dan Mama kamu.”
“Oh iya sebaiknya kita pulang sekarang. Aku juga harus menjemput Papa dan Mamaku di bandara.”
“Iya. Aku juga ingin melanjutkan tidurku.” Kataku sambil beranjak berdiri dan pergi mendahului Tara.
Selang beberapa menit, Tara bisa menyejajarkan kecepatan jalannya denganku.
“Oh iya kamu tadi kok bisa tidur nyenyak sampai siang sih?” tanya Tara memecah kesunyian.
“Aku begadang nggak bisa tidur.” Jawabku singkat.
“Emang ngapain aja? Kok nggak bisa tidur?” tanya Tara.
“Mikirin kamu.” Jawabku sambil tersenyum dan berjalan sambil berlari kecil mendahului Tara.
Aduh, gimana sih? Kok aku bisa keceplosan kayak gini! Saat aku menengok kebelakang, dari jauh ku lihat ada ulasan senyum manis yang tulus terlihat dari bibir Tara.
“Ara… Tunggu!” Kata Tara sambil berlari mengikutiku.
Sesampainya di depan rumah, ku persilahkan Tara untuk mampir terlebih dahulu. Kasihan juga dia, harus berlari mengikutiku. Wajahnya juga terlihat lelah. Ku bawakan dia es teh manis untuk mengobati dahaganya.
“Kamu tega Ra. Masak ninggalin aku gitu aja!” kata Tara sambil cemberut.
“Yeee… Biarin.” Kataku sambil menjulurkan lidahku tanda mengejeknya.
“Oh iya, aku mau jemput Papa dan Mamaku. Aku sampai lupa. Embem, aku pulang dulu ya! Titip salam buat Ayah, Ibu, sama Han.”
“Iya, aku juga titip salam Buat Papa dan Mamamu.”
“Oh iya besok kamu harus bangun pagi! Ingat! Kita mau kerja bakti nih! Entar malam langsung tidur, jangan mikirin aku mulu! Tanpa kamu mikirin aku aja, aku selalu hadir di hatimu kok!” kata Tara sambil nyengir kuda.
“Wah kamu sekarang pinter gombal ya! Gih pulang! Entar Papa sama Mama kamu nungguin lho!”
“Iya iya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”

BACA JUGA :   Momen yang tak terlupakan

Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Yah yang biasanya bangun pukul 04.30 WIB. Eh tidak ada angin tidak ada hujan aku malah bangun pukul 03.00 WIB. Karena semangatnya, saat aku bangun aku langsung menuju kamar Han adikku tersayang dan membangunkannya.
“Woy Han bangun dong!” teriakku sambil menggedor-gedor pintu kamar Han.
Aku sudah memanggil dia beberapa kali dan tidak ada jawabannya. Sungguh sia-sia.
“Woy curut! Bangun dong. Dasar kebo!” teriakku lagi dengan suara yang lebih keras.
Wah baru kali ini aku memanggil Han dengan sebutan “kebo” biasanya kan dia yang memanggilku seperti itu. Wah Ara memecahkan rekor nih! Wajib dikasih penghargaan dari MURI nih!! Apaan sih Ara? Lebay lu!! Jlebb… tambah down deh!
Kembali ke Han. Rasanya suaraku ini sudah hampir habis jika terus menerus meneriaki Han seperti ini. Alhasil aku memutuskan membuka pintu kamarnya. Dan kalian tahu apa yang terjadi?? Pintunya terbuka. Ini berarti pintunya tidak dikunci. Oh Tuhan andai aku tahu dari tadi pasti tenggorokanku tidak sekering ini karena memanggil-manggil Han terus menerus.
“Han bangun dong!” teriakku lagi dengan suara yang sedikit lirih.
Ih dasar kebo! Sudah berapa kali dibangunin tetap aja tidak bangun bangun! Aku punya ide!
“Curut!! Kebakaran!!” teriakku di sebelah telinga Han.
Wah, cara seperti ini juga sia-sia. Emang dasar kebo! Sudah dibangunin pake beberapa cara tapi tetap aja molor! Ternyata ada yang lebih parah dari aku.
“Han bangun dong! Gue sudah capek nih?” kataku di sebelah telinga Han.
Tiba-tiba saja Han menjawab perkataanu dan membuatku kaget.
“Are you okay?” tanya Han.
“Bad. Akhirnya lu bangun juga. Dasar kebo sudah dibangunin dari tadi kagak bangun bangun. Sampai suara gue serak kayak gini.”
“Apa lu bilang? Kebo? Di rumah ini yang kebo itu cuma lu doang!” jawab Han sambil menguap.
“Terus yang tadi itu apaan kalau bukan kebo?”
“Oh yang tadi? Itu namanya acting. Makannya jadi orang jangan lemot dong!! Ya lu pikir aja siapa sih yang kagak bakal bangun dengar suara cempreng lu! Mana pake acara bilang kalau ada kebakaran lagi! Lu pikir gue bakal percaya gitu? Dasar kebo lemot!!”
“Hann!!” teriakku sambil menjitak kepala Han.
“Jadi dari tadi lu sudah bangun? Adik kurang ajar lu! Tanggungjawab dong, suara gue jadi serak nih!!” lanjutku.
“Siapa suruh teriak-teriak kagak jelas. Dasar kebo lemot!” Kata Han sambil menjulurkan lidahnya dan mengejekku.
“Huuhh untung aja gue tidak lagi bad mood. Kalo tidak lu pasti sudah habis gue telan!” kataku sambil memelototi Han.
“Lu juga sih yang keterlaluan! Masak masih jam segini sudah bangun. Kesambet apaan lu!” keluh Han sambil memanyunkan bibirnya.
“Yee… biasa aja kali! Emang jam berapa sih?”
“Tuh lu lihat sendiri! (sambil menunjuk jam beker di meja belajarnya) asal jangan sampai pinsan aja!”
Astaga. Masih jam tiga pagi. Kenapa aku bangun sepagi ini. Pantas saja Han terus-terusan mengejekku seperti itu. Ada apa denganku? Padahalkan di dalam rumah ini yang doyan tidur cuma aku. Kenapa sekarang malah aku yang bangun paling pagi. Wahh harus cari alasan nih buat ngibulin si Han.
“Sudah dong melongonya! Entar kamar gue banjir, kan gue juga yang repot.”
“Eh sialan lu.”
“Lagian lu juga sih tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja bangun sepagi ini? kenapa? Padahalkan yang paling doyan tidur di rumah ini cuma elu!”
Haduh kenapa sekarang aku merasa adikku yang paling ganteng ini bisa baca pikiranku ya! Jangan sampai deh dia tahu kalau aku kayak gini cuma gara-gara tidak sabar ketemu si Tara.
“Wah apa jangan-jangan lu kayak gini gara-gara Kak Tara, ya? Lu suka sama dia? Hahahaha… tidak apa-apa sih gue setuju-setuju aja. Tapi apa dia juga suka sama elu. Maklumlah kan lu orangnya ceroboh, tidak pernah dandan, doyan tidur alias kebo, terus…” Han tidak meneruskan kata-katanya karena dia telah melihatku membawa bantal dan siap untuk memukulnya. Oh iya rasanya kayak disambar petir nih. Lagi-lagi tu anak tahu apa yang aku pikirkan. Wah jangan-jangan adikku ini punya bakat jadi paranormal. Idih serem gila! Jadi kepikiran sama kata-kata Han nih. Apa benar aku suka sama Tara? Tapi mungkin saja, cuma dia orang yang selalu ada disampingku saat aku butuh begitu pun sebaliknya walaupun jarak yang memisahkan kita. Ceilah kok jadi puitis gini ya! Oh iya yang aku tahu kalau orang tiba-tiba jadi puitis kayak gini, tanda-tandanya orang tersebut lagi jatuh cinta. Oh Tuhan. Tidak… Han tidak boleh tahu soal ini. Dan bagaimana dengan persahabatan kami?
“Oi! Kok bengong sih? Mikirin Kak Tara ya? Cie… ternyata Kakak gue tercinta sudah gede sekarang.”kata Han sambil senyum-senyum tidak jelas.
“Apaan sih lu! Emang bawaan dari orok kali kalau gue itu lebih tua dari elu. Dan kenapa gue tadi bangun sepagi ini? Eeemmm (sambil mikir) ya karena tadi gue dengar ada ayam berkokok. Makanya gue langsung bangun. Gue kira sudah pagi.”
“Dan ternyata matahari aja belum nongol!” sela Han dengan ketus.
“Dasar nyebelin!” kataku pada Han.
Tiba-tiba saja Ibu dan Ayah datang. Dan langsung menegur kami karena sudah bertengkar sepagi ini.
“Ini ada apa lagi? Masih kurang bertengkarnya kemarin?” Tanya Ibu dengan wajah yang sudah lelah melihat kami setiap hari bertengkar.
“Kak Ara nih Bun, masak masih jam segini aku sudah dibangunin. Mana pake gedor-gedor pintu segala!” keluh Han
Terus aja ngadunya, sekalian pembicaraan masalah Tara juga. Kataku dalam hati sambil memelototi Han.
“Sudah sudah lebih baik sekarang Ara bantu Ayah dan Ibu untuk siap-siap.” Kata Ayah sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuanku dan Han. Layaknya anak kecil yang memperebutkan permen.
“Iya Yah. Lanjutkan tidurmu dan silahkan bermalas-malasan!” kataku ketus.
Dan langsung berbalik ntuk membuntuti Ayah dan Ibu menuju dapur. Belum sempat aku keluar dari kamar Han tiba-tiba saja tanganku ditarik lagi olehnya.
Astaga. Anak ini apa sih maunya?
“Lu punya hutang sama gue!” kata Han dengan raut wajah yang serius.
“Hutang apa lagi sih?” jawabku sambil cemberut.
“Buat yang tadi. Untung saja gue tidak buka mulut soal Kak Tara. Dan karena jasa gue itu, gue butuh imbalan.”
Haduh, lagi-lagi si curut satu ini bisa membaca pikiranku. Makan apa sih ni anak? Bisa secerdik ini. Awas aja nanti!
“Gue kan tidak pernah nyuruh lu buat bantuin gue!”
“Ya sudah. Kalau gitu gue mau ngasih tahu Ayah dan Ibu tentang yang kita omongin tadi.”
Wah sepertinya Han tidak main-main. Sebaiknya aku mengikuti permainannya saja dari pada berabe.
“Iya iya. Mau imbalan apa lu?”
“Oke akan gue pikir-pikir lagi.”
Setelah pembicaraan itu selesai aku langsung menuju dapur dan membantu Ayah dan Ibu untuk bersiap-siap. Sedangkan Han melanjutkan kegiatannya untuk bermalas-malasan di kamar.
Jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB. Wah masih harus menunggu satu jam lagi nih. Kataku dalam hati sambil duduk-duduk di atas ranjang dengan bantal dipangkuanku dan menyangga kepalaku dengan tanganku. Entah apa yang terjadi saat aku melihat cermin besar di almari. Rasanya ada yang menuntunku ke sana. Seperti ada ketertarikan khusus. Mungkin angin yang membawaku menuju ke depan cermin. Saat ku lihat keadaanku di cermin. Oh astaga. Penampilanku buruk sekali. Mata merah, rambut berantakan, masih pakai baju tidur yang… idihh tidak banget deh pokoknya. Wah kalau si Tara lihat penampilanku kayak gini gimana ya? Pasti bakal lari terbirit-birit. Idiihh Ara berlebihan deh. Emangnya aku hantu, kok sampai segitunya. Wah sudah mulai ngaco nih!! Saat ku lihat jam dinding, astaga sudah jam setengah enam dan aku belum bersiap-siap sama sekali? Oh God. Ampuni aku! Aku langsung bergegas mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi. Saat di dapur, bagian tulang keringku terbentur meja kecil. AAaaaaaaauuuuuuu!!! Teriakku keras sekali. Oh God, ini sakit sekali. Huhuhuhu… aku langsung duduk memegangi bagian tulang keringku. Rasanya saakiiiiiittt sekali.
“Haduh Ra, makanya hati-hati dong!!” kata Ibu sambil membantuku berdiri.
“Makanya kalau punya mata dipakai. Meja diam aja ditabrak!” ejek Han.
“Sudah deh tidak usah banyak omong!��� kataku sambil menahan kesakitan.
“Kamu juga Ra, bangun sudah dari tadi kok baru mandi sekarang. Ayah kira kamu sudah siap dari tadi.” Kata Ayah sambil mempersiapkan peralatannya.
“Sekarang jam berapa Bun?” Tanyaku sambil meringis kesakitan.
“Wah, sudah jam enam kurang seperempat Ra. Sebentar lagi mereka pasti ke sini.” Kata Ibu sambil berlalu dan segera menyiapkan segalanya.
“Oh Tuhan. Aku harus segera mandi nih!” kataku.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *