• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Masyarakat, Negara, dan Pandemi

ByLaksa Tiar Makmuria

Jul 30, 2021

Hari-hari ini berbagai platform informasi dijejali berbagai macam varian mengenai pandemi. Dari kebijakan negara menghadapi pagebluk, resistensi masyarakat dalam kemasan agama, hingga gelombang protes atasnama kebutuhan hidup.

Semua berpilin-kelindan yang tak nampak ujung-pangkal. Padahal, semua sedang dalam badai yang sama. Pemerintah yang sejak mula tidak menyikapi dengan tegas pagebluk ini dan berimbas pada terus menjauhnya ufuk pandemi, berdalih kas negara sudah tipis.

Tapi ketika kita buka buku kas negara, proyek infrastruktur mendapat jatah yang lebih besar, alih-alih penggelontoran anggaran yang lebih besar untuk sektor kesehatan demi pemulihan. Negara seolah gagal menyusul skala prioritas untuk masyarakat.

Di akar rumput sendiri, terjadi pembelahan di ruang publik. Semuanya menyuarakan resistensi dan mengarahkan telunjuknya ke istana. Satu kelompok memakai pendekatan nalar saintis yang mengamini pandemi ini terjadi dan salah kelola oleh negara. Satu kelompok lagi adalah para penganut teori konspirasi yang menganggap covid-19 adalah kebohongan publik, meski hingga hari ini tenaga kesehatan terus bekerja keras.

Kelompok yang terakhir ini lebih banyak menambah permasalahan ketimbang menyelesaikannya. Sedang kelompok pertama adalah orang-orang kritis tapi tak dilengkapi perkakas atau instrumen kebijakan berskala besar.

Negara sendiri menghadapi tiga hal sekaligus. Pagebluk yang dianggap enteng yang berefek domino pada pembelahan masyarakat yang penuh kepentingan pula. Dalam perjalanannya menghadapi semua itu, pengelola negara malah menampakan kesalah-kaprahannya. Usulan soal tempat isolasi mandiri untuk anggota DPR di hotel bintang 3, Presiden yang menyerahkan tanggungjawab penanganan pandemi bukan pada ahlinya, dan praktek koruptif yang sudah mengakar meski di tengah bencana dunia.

Biak dirunut ke belakang, praktek para pengelola negara yang demikian itu merupakan wajah kegagalan proses kaderisasi di partai dan dominannya para pengusaha-pengusaha besar mempengaruhi produk undang-undang. Kemapanan mereka terbukti membuat mereka lambat bertindak dan justru meletakan tanggungjawab masalah kepada masyarakat.

BACA JUGA :   Kemalanganku

Di akar rumput sendiri, masyarakat yang keinginan politiknya hanya tersalurkan via pemilihan umum elektoral pun gagal paham soal apa yang terjadi. Mereka berpulang pada pengalaman relijiusitas yang sangat banyak sekali variannya.

Di sisi lain, mereka yang paham dan mencoba melakukan resistensi melalui jalur-jalur yang legal malah dicap pembangkang. Keberhasilan satu-satunya negara dalam hal ini adalah sukses menjadikan Indonesia sebagai episentrum Korona Asia Tenggara. Hingga kita ditakuti secara harfiah oleh negara tetangga. Bukan disegani.

Kita bisa melihat betapa efek domino ini menjalar terus seolah tak berujung. Sedang bilang ujung itu telah nampak, yang akan kita hadapi adalah kondisi yang sama sekali “mengenaskan” alih-alih bayang-bayang dunia “normal” selaiknya sebelum pandemi.

Bagikan Yok!
2 thoughts on “Masyarakat, Negara, dan Pandemi”
    1. Hal-hal yang dipaparkan dalam artikel ini saling berhubungan. Jadi perbaikan dari satu sisi akan menyelaraskan semuanya. Namun, jika itu tidak diupayakan (dalam hal ini negara karena punya perkakas paling lengkap) alam akan menyelaraskan dengan sendirinya. Itulah yang dalam kajian sosial disebut “revolusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *