• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

“Episode 3” Laki-laki Manis Berpeci Hitam

Episode 3
“Apakah ini awal yang baik ?”

Hari ini, kebetulan setelah memberi les privat kepada adik-adik SMA aku melanjutkan kegiatanku di sebuah komunitas yang bernama Dewa Trainer and Outbond disana aku memberi berbagai kegiatan lapangan kepada para peserta yang tergabung dalam outbond tersebut. Di komunitas ini aku sangat nyaman sekali dengan lingkungan dan sahabat- sahabat yang sudah aku anggap sebagai keluarga. Aku menemukan sebuah permata dengan tergabung di komunitas ini, terutama kepada timku yang selalu memberi warna dalam kehidupanku selama di Surabaya. Setiap aku kesusahan teman-temanku semua selalu ada terutama komandan timku beliau selalu mendengarkan segala keluh kesah ku, kegalauanku, permasalahan keluargaku, Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Kak Hermanto.

Malam itupun, disebuah kedai kopi Kak Hermanto memanggilku ingin berbicara empat mata denganku. ” Ada apa gerangan yang membuat Kak Hermanto mengajakku bicara empat mata” gumamku dalam hati. Aku pun menghadiri Kak Hermanto.
Tiba-tiba Kak Hermanto membicarakan seseorang yang bernama Aril, aku sendiri tidak mengerti siapa sebenarnya seseorang yang dibicarakan Kak Hermanto. Beliau berkata ingin mengenalkanku kepada seseorang yang katanya dia adalah rekan kerjanya dibidang pemasaran di Kota Malang. Kalau memang aku berkenan Kak Hermanto ingin mengajakku untuk bertemu dengannya besok disebuah angkringan. Akupun tetap mengiyakan ajakan Kak Hermanto.
Dalam ceritanya, Laki-laki tersebut ingin menjalin sebuah hubungan denganku, dan dia juga berkepribadian baik, pekerja keras dan mandiri. Mendengar ceritanya akupun berpikir, Apakah ini jalan untukku menemukan orang yang tepat ? Karna aku tidak mau jika haru ls dinikahkan dengan putra bungsu Pak Sumanto. Tapi, apakah dia mau menerimaku dengan keadaan keluargaku yang mengemban begitu banyak hutang ?

Malam itu ada sebuah syair yang kubaca

-Setiap lontaran hinaan itu, membuat algojoku sekalipun akan memerangi isi kepalaku
– Setiap detik kuciptakan sebuah mahakarya dalam hidupku dengan bersuara
– Melantunkan sebuah Nyanyian tentang seni kehidupan
– Berpuisi riang seakan-akan yang menyerah tak terjatuh
-Yang menangis tak merasakan mengemis
-Namun kutempuh hidup ini dengan rapuh setiap detiknya
– Dan bertanya ?
– Mengapa harus aku, hidup ini sudah membuatku menderita
– Celetuk seorang bersorban putih menjawab “Begitulah Takdir”
– Siapakah Aku ? Mengapa Tuhan tak adil terhadapku ?
– Seseorang Berkalung tasbih menjawab ” Aku adalah pikiranmu sendiri, dan Tuhan adalah hal yang ada di dalam hatimu sendiri”
– Lantas bagaimana aku menemuinya ?
– Seseorang lagi menjawab ” Kamu mau aku ajarkan tentang sebuah seni ?”
– Apa hubungannya antara aku dan Tuhan dengan sebuah seni ?
– Lelucon macam ini ?
– sesorang yang tak kukenal itu tersenyum mengatakan ” Bukankah kamu mencari kebenaran Tuhan sama saja meragukannya ?”
– Bagaimana aku bisa yakin ? Dan bagaimana aku bisa mempercayai diriku dan orang-orang disekitarku ?
–Tidak, bagiku tidak ada siapa yang benar atau salah
-Sebab sudah kuputuskan bahwa aku adalah aku
– Mereka tidak berhak mengaturku
– Mengatakan bahwa aku salah jika aku membuat patung
– Emang kamu mau berhala ?
– Mengatakan bahwa aku sala menari dengan mengenakan baju adat
– Di dalam hadist itu musyrik
– Ketika Aku menyanyi mereka menghinakanku, yang katanya suara itu aurat bagi anak Adam dan hawa
– Jika kata mereka aku salah ?
– Itu tinggal persepsi mereka masing-masing
– Jika dalam ilmu kuno mengatakan seni “Jaranan” itu hal.yang religius
– Tapi mengapa mereka menyorakku katanya aku “Laknat”
– Kalian bukanlah Tuhanku
– Bahkan begitu abstrak alasan kalian untuk saling menghina
– Merasa diri kita adalah manusia paling sempurna
– Paling khusyuk diantara hamba yang lain
– Terkadang Tuhan memberi kita pilihan pada suatu agama
– Yang Islam sholatlah
– Yang Kristen Sembayanglah
– Yang Hindu beribadahlah
– Bukankah selalu membawa nama Tuhan untuk menghinakan sesama manusia itu juga laknat ?
– Pertanyaan bukanlah siapa aku ? Kenapa ada sebuah seni ? Dan kamu mau pilih Tuhan yang sama
– kamu tau galah yang pendek tidak akan pernah bisa meraih buah yang matang dari pohonnya
– Begitu juga dengan pikiranmu!
– Jika pikiranmu terlalu pendek Kamu tidak akan pernah tau dibalik ilmu Kalam dan tauhid
– Jangan seolah-olah paling benar kamu menyorakkan ” Kamu Manusia Salah”
– Hidup ini tentang sebuah fatamorgana yang kita harus yakin akan kebenarannya melalui sebuah kitab
– dalam untaian sebuah seni letak permasalahannya bukan pada rasa saling menyalahkan
– Tapi balik arahlah jari telunjukmu
– Ya benar masalahnya hanya pada ” Aku ” bukan orang lain
-Tidak, bagiku tidak ada siapa yang benar atau salah
-Sebab sudah kuputuskan bahwa aku adalah aku
– Mereka tidak berhak mengaturku
– Mengatakan bahwa aku salah jika aku membuat patung
– Emang kamu mau berhala ?
– Mengatakan bahwa aku sala menari dengan mengenakan baju adat
– Di dalam hadist itu musyrik
– Ketika Aku menyanyi mereka menghinakanku, yang katanya suara itu aurat bagi anak Adam dan hawa
– Jika kata mereka aku salah ?
– Itu tinggal persepsi mereka masing-masing
– Jika dalam ilmu kuno mengatakan seni “Jaranan” itu hal.yang religius
– Tapi mengapa mereka menyorakku katanya aku “Laknat”
– Kalian bukanlah Tuhanku
– Bahkan begitu abstrak alasan kalian untuk saling menghina
– Merasa diri kita adalah manusia paling sempurna
– Paling khusyuk diantara hamba yang lain
– Terkadang Tuhan memberi kita pilihan pada suatu agama
– Yang Islam sholatlah
– Yang Kristen Sembayanglah
– Yang Hindu beribadahlah
– Bukankah selalu membawa nama Tuhan untuk menghinakan sesama manusia itu juga laknat ?
– Pertanyaan bukanlah siapa aku ? Kenapa ada sebuah seni ? Dan kamu mau pilih Tuhan yang sama
– kamu tau galah yang pendek tidak akan pernah bisa meraih buah yang matang dari pohonnya
– Begitu juga dengan pikiranmu!
– Jika pikiranmu terlalu pendek Kamu tidak akan pernah tau dibalik ilmu Kalam dan tauhid
– Jangan seolah-olah paling benar kamu menyorakkan ” Kamu Manusia Salah”

Aku yakin hari akan berlalu begitukah cepat, tapi aku harus mempersiapkan pertemuanku besok dengan koleganya Kak Hermanto, semoga besok menjadi hari yang baik.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *