• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Rasa Takut dalam Perspektif Nietzsche

Tulisan ini berisi counter argument atau argument pembanding dari tulisan saya sebelumnya tentang stoisisme. Di sini kita akan melihat bagaimana Friedrich Nietzsche akan menantang kita, justru, untuk mengenal lebih dekat rasa sakit itu bukan mengabaikannya.

Perasaan takut alih-alih dijauhi seharusnya didekati. Ketakutan membuat kita menjadi lebih kuat, “what doesn’t kill you make you stronger” (apa yang tidak membunuhmu membuatmu lebih kuat) Friedrich Nietzsche.

Bahwa rasa takut sebenarnya tidak baik untuk dijauhi. Satu hal yang membuat manusia bertahan hidup dari abad ke abad adalah rasa takut yang mereka olah menjadi bahan memikirkan kreativitas dan jalan menghubungkan diri dengan dunia.

Rasa takut menunjukkan naluri kemanusiaan kita. Rasa takut memberikan kita alasan untuk hidup. Memiliki alasan untuk hidup adalah cara untuk menyadari bahwa kita eksis. “fear is a mother of morality”, kata Nietzsche dalam Beyond Good and Evil, untuk meyakinkan kita bahwa rasa takut menjadi dasar kita dalam hidup berkelompok dan melahirkan nilai-nilai moralitas.

Rasa takut membuat kita berada dijalur moralitas. Ia hadir sebagai musuh yang harus dilawan sekaligus teman yang harus dipahami karakteristiknya. Selain itu, kita pasti tidak bisa mengabaikan begitu saja apabila kemanusiaan diinjak-injak di hadapan kita.

Kita tidak bisa mengabaikan protokol kesehatan begitu saja hanya demi membuktikan bahwa apa yang dikatakan para konspirator benar adanya, sedangkan tenaga medis berkorban mati-matian menghimbau dan merawat korban yang tertular virus Covid-19.

Kita manusia, memiliki emosi yang mampu menilai baik-buruk bagi kita dan manusia lainnya. Pandangan ini yang membedakan Nietzsche dengan para pemikir Stoisisme pada umumnya, bahwa Nietzsche secara radikal menganggap rasa takut sebagai sesuatu yang harusnya menjadi trigger kita untuk bergerak.

BACA JUGA :   Benarkah Kodrat Kita Jahat?

Jadi, Nietzsche memperluas pandangan stoisisme tentang rasa takut. Jika melihat pada psikologi kontemporer, perasaan takut apabila dimaknai sebagai proses pencarian dan pengalaman eksistensial, akan membuat kita jauh lebih berkembang.

Zachary Sikora, seorang ahli psikologi klinis menjelaskan bahwa ketakutan adalah respon manusia untuk bertahan hidup. Memang, terdapat beberapa efek dari rasa takut yang akan berdampak buruk kepada kita berupa kesakitan yang akan mengganggu pikiran dan tubuh, sehingga menyulitkan kita untuk memikirkan sesuatu secara jernih. Namun, disamping ke dua hal tersebut, ketakutan ternyata tidak seburuk itu.

Bayangkan seseorang yang merasakan kegembiraan ketika menaiki roller coaster, misalnya, terpacunya adrenalin justru memberikan kepuasan tersendiri. Dengan kata lain, ada hal positif yang bisa kita tarik dari rasa takut yakni memberikan kesenangan.

Kesenangan, berkaitan dengan sensasi yang kita rasakan ketika berupaya melawan rasa takut itu. Dalam analogi Roller Coaster, tubuh memang akan tergetar selama berada di dalam wahana permainan itu, namun tubuh juga akan merespon keluarnya hormon Dofamine, hormone yang kenikmatan. Pun setelah permainan berakhir, diri akan merasakan kepuasan yang mampu meringankan beban di pikiran.

Perasaan takut adalah respon alamiah tubuh terhadap ancaman dari lingkungan  di luar dirinya. Bagi Sikora, penting untuk memiliki rasa takut karena hal itu akan membuat kita merasa lebih aman. Positif atau negatif konsekuensi yang ditimbulkan perasaan takut tergantung dari bagaimana setiap subjek individu mengalami dan memaknainya.

Jika perasaan takut itu berlanjut dan menimbulkan stres bahkan depresi,  serta trauma yang kemudian mengganggu aktivitas keseharian, tentu hal itu bersifat negatif. Bahkan lebih jauh, rasa takut terhadap sesuatu secara berlebihan akan berdampak pada munculnya fobia.

Sedikit kesimpulan. Baik dalam pandangan stoisisme ataupun Nietzsche, rasa takut dilihat sebagai emosi yang muncul secara alamiah. Rasa takut tidak untuk dihindari, seharusnya ia dijadikan bahan refleksi untuk memaknai diri dan kehidupan.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

BACA JUGA :   Belajar Filsafat Lebih Mudah. Cek Akun Instagram Ini
Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *