• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Nicola Samori, about horror, sadness

Kamu pasti pernah merasakan  ketakutan dalam hidupnya, entah dalam memikirkan karir, putus cinta, kesepian, masa depan, tekanan, bahkan kematian. Perasaan takut, jika dibiarkan berlarut, akan berubah menjadi racun yang dapat menyakiti pikiran dan tubuh.

Karena itu, banyak orang akan berupaya mengambil jarak dari rasa takut. Lantas apakah dengan menghindar dari rasa takut sudah cukup untuk menghapus ingatan kita tentang rasa sakit itu? Saya rasa tidak. Rasa takut itu akan terus menjadi bayang-bayang yang menghantui kehidupan kita, masuk perlahan ke dalam keseharian, dan memberi penyiksaan tak berkesudahan.

Misalnya, seorang mahasiswa semester akhir, yang sekarang sedang menjalani proses pengerjakan skripsi. Ia sedang berada pada fase takut akan apa-apa saja yang menantinya di depan sana: perihal pekerjaan, percintaan, pertemanan, dan seterusnya.

Baginya, fase sekarang ini memberi tekanan yang begitu besar, karena pilihan-pilihan itu berkaitan dengan tanggung jawab besar yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia takut salah dalam mengambil Langkah, karena semua keputusan yang akan ia pilih, mau tidak mau,  akan menjadi tanggung jawab yang harus ia tanggung. 

Orang lain merasakan dikenai rasa takut dalam persoalan yang berbeda-beda, pada hal-hal kecil ataupun besar, yang telah berlalu ataupun sedang berlangsung, takut akan kesepian, kegelapan, kegagalan, kematian, tidak menjadi siapa-siapa, dan seterusnya. 

Pokok persoalannya, yakni: bagaimana cara untuk mengolah rasa takut itu menjadi hal yang lebih bermakna bagi kita? Bagaimana cara untuk meniadakan rasa takut tersebut? Apakah perasaan takut itu seharusnya dihindari atau dilawan? bagaimana aku menindak atas rasa takut itu? Dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu akan saya bahas menggunakan perspektif stoisisme.

Stoisisme, adalah aliran filsafat klasik yang berfokus pada ajaran etika dan filsafat manusia pada masa Helenisme di Yunani. Aliran ini pertama kali dikenalkan oleh Zeno of Zitium (abad 3 SM), kemudian berkembang menjadi ajaran yang dikenal dengan mazhab stoa.

BACA JUGA :   Pancasila Bukan Hanya Soal Toleransi, Tetapi Soal Kebahagiaan

Mereka membahas persoalan-persoalan mendasar menyangkut individu-manusia, aktualisasi diri. Mereka membicarakan bagaimana  manusia seharusnya bersikap di tengah gesekan antara ke-Aku-an (mikro kosmos) dan dunia  di luar diri si individu (makro kosmos).

Stoisisme mengajarkan pada pengembangan self-control,  memaksimalkan emosi positif dan mengolah emosi destruktif secara bijaksana. Secara khusus, stoa hendak memberi jawaban pada beragam masalah mendasar, diantaranya ketakutan, kegelisahan, stress, dan beragam pertanyaan lain perihal kondisi manusia.

Stoa membagi dua domain dari kehidupan: eksternal dan internal. Eksternal, yang terletak di luar diri, tak bisa kita kontrol. Internal, dalam diri, yang berkaitan dengan interpretasi dan reaksi kita atas dunia yang dapat kita kehendaki. Fokus manusia adalah pada domain internal, yang terjangkau dan terkendali.

Kembali pada ketakutan. Ia sebenarnya merupakan reaksi dari emosi terhadap dunia sekitar. Rasa takut adalah emosi alamiah yang dialami manusia. Sedangkan fenomena atau objek yang menyebabkan rasa takut itu muncul adalah domain eksternal.

Stoa adalah tentang bagaimana mengontrol rasa takut, bukan pada gejala-gejala di luar diri.   Seorang stoik tidak memusingkan tanggapan orang terhadapnya, masa depannya yang jelas-jelas belum terjadi, perasaan kesepian, dan seterusnya.

Ia lebih merasa takut pada efek negatif yang akan berpengaruh pada kesehatan tubuh dan mentalnya jika terus-menerus terjebak pada perasaan takut yang tak berkesudahan.

“Whenever I see a person suffering from nervousness, I think, well, what can he expect? If he had not set his sights on things outside man’s control, his nervousness would end at once.” -Epictetus

Artinya kurang lebih adalah “kapanpun aku melihat seseorang menderita karena kegugupan, aku pikir, apa yang bisa ia harapkan? Jika ia tidak mengarahkan pandangannya dengan dunia di luar jangkauan yang bisa ia kontrol, kegugupannya akan sirna sekaligus”. 

BACA JUGA :   Merdeka Hanyalah Jembatan Emas, Betulkah Demikian?

Maksudnya, manusia bertugas untuk mengenal dirinya lebih dalam, tidak terkecuali ketakutan-ketakutan apa saja yang ia rasakan. Tugas selanjutnya adalah pengendalian diri. Mengendalikan diri termasuk menjangkau apa-apa saja yang masih mungkin, bukan sibuk dan terjerembab hal-hal yang berada di luar kontrol dirinya.

Di sini, stoa lebih menekankan pada seni melepaskan. Ia tidak ingin ketakutan menghantui pikirannya, lalu memberikan siksaan alih-alih ketenangan jiwa bagi dirinya. “We suffer more often in imagination than we do in reality” (kita menderita lebih sering dalam imajinasi kita melebihi apa yang kita rasakan dalam realitas,” Seneca.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

2 thoughts on “Merefleksikan Rasa Takut dalam Bingkai Stoa”
  1. Benar bung Yogy rupanya resep manjur ala Stoa mengatasi penyakit manusia modern jaman ini yakni ketakutan masih efektif sekali.tulisan ini cocok di publikasikan di media agar bermamfaat bagi pembaca .tindakan mengontrol diri sangat penting.saya dulu tersiksa dengan rasa takut kalau dengar suara burung hantu malam hari, melihat mayat atau dengar cerita horor dan saat mendekati dosen penguji skripsi yang killer.ternyata itu hanya karena kita sendiri merespon hal di luar diri kita dengan cara berlebihan sampai menguasai perasaan kita pikiran kita dan pelan pelan kita terbelenggu rasa takut yg kita ciptakan sendiri.cara saya keluar dr rasa takut dg melatih indra kita mengenal fenomena yang terjadi lewat meditasi malam.ketika dengar lolongan anjing atau suara burung hantu kita harus mengatakan kepada indra kita bahwa itu suara burung hantu yang sangat indah di dalam ketenangan malam.atau itu lolongan anjing untuk mengisi kepekatan malam .dengan cara ini kita terbebas dari ketakutan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *