• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Vaksin Covid, Data di Lapangan dan Fakta di Media

vaksin covid

Vaksin covid, data di lapangan dan fakta di media terkadang ada sisi lain yang tidak terangkat ke masyarakat melalui media. Media memberi pengaruh besar pada masyarakat meski kadang yang dipublikasi merupakan bagian kecil dari sisi negatif dan mengabaikan fakta besar lainnya di lapangan.

Vaksin Covid, menurut corona.jakarta.go.id dalam lamannya, vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme atau bagiannya atau zat yang dihasilkannya yang telah diolah sedemikian rupa sehingga aman, yang apabila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Sementara fungsi penggunaan vaksin bertujuan untuk memutus rantai penularan penyakit dan menghentikan wabah Virus Corona. Vaksin ini bermanfaat untuk memberi perlindungan tubuh agar tidak jatuh sakit akibat pandemi dengan cara menimbulkan atau menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh dengan pemberian vaksin. Seperti itu lah yang di katakan situs pedulilindungi.id. Sedangkan pelaksanaannya di lakukan oleh petugas kesehatan.

Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sangat besar untuk penanganan wabah covid-19. Tentunya, dengan anggaran yang begitu banyak, kita, bangsa Indonesia berharap pandemi ini dapat segera di atasi dan kita bisa hidup normal kembali.

Namun penanganan demi penanganan yang di lakukan bukannya tanpa masalah. Kita ambil contoh dalam pelaksanaan vaksin covid kepada masyarakat. Beredar di media sosial video yang menampilkan kejadian seseorang setelah menerima vaksin ini. Kemudian video tersebut di beri caption narasi negatif dan di sebar hingga di lihat oleh ribuan pengguna media sosial.

Efeknya apa? Tentu ketakutan bagi mereka yang melihat video tersebut jika diri nya mendapatkan suntikan vaksin covid-19. Akibatnya banyak masyarakat yang takut untuk melakukan vaksin hanya karena sebuah video amatir tanpa penulusuran fakta lebih jauh. Mengapa saya mengucapkan demikian? Sebab penulis sendiri telah melakukan vaksin, dan jika di bedah akan banyak rentetan kejadian yang perlu di telusuri.

BACA JUGA :   PERKEMBANGAN VAKSIN VIRUS CORONA

Pada tulisan kali ini penulis mencoba menjabarkan rentetan saat melakukan vaksin. Judul tulisan di atas “Vaksin Covid, Data di Lapangan dan Fakta di Media” adalah sedikit cerita ketika penulis mendapatkan suntikan Vaksin Covid ini. Penulis mencoba mengulas apa saja yang terjadi di lapangan dan fakta yang muncul di media. Semoga tulisan ini nantinya bisa membuka wawasan pembaca yang belum melakukan vaksin ataupun takut jika terjadi hal negatif pada tubuh setelah menerima vaksin.

  1. Pertama

Vaksin, data dari covid19.go.id di targetkan penerima vaksin covid di Indonesia sebanyak 208.265.720 orang. Hingga hari ini Senin, 26/7/2010 sebanyak 44.469.974 orang mendapatkan vaksinasi pertama dan 17.906.504 orang yang sudah menerima vaksin sebanyak dua kali (update per 25 Juli 2021).

Dari data tersebut bisa di lihat masyarakat Indonesia yang sudah mendapatkan vaksin belum ada separoh dari yang di targetkan. Dan seperti yang sudah di bahas di atas, adanya unggahan nasari atau video dengan narasi negatif usai mendapat vaksin mendorong warga untuk tidak melakukan vaksin. Padahal sudah di jelaskan pada paragraf kedua dari tulisan ini tentang fungsi vaksin.

2. Kedua

Data, data di lapangan tentang runtutan alur pelaksanaan vaksin tidak terunggah ke publik. Yang terekspos justru kejadian kecil yang jika di runtut belum tentu kebenarannya. Namun sayangnya hal kecil tersebut sudah terlanjur menyebar hingga menutup fakta besar yang ada di baliknya.

3. Ketiga

Fakta di media, fakta soal vaksin covid-19 yang tersebar di media terkadang berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Tapi justru itulah yang di yakini oleh banyak masyarakat sebagai sebuah kebenaran. Di pembahasan ketiga ini mungkin akan sedikit panjang. Tapi mungkin ini perlu di angkat ke publik supaya publik tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Di sini penulis akan bercerita kembali proses pelaksanaan vaksin. Sebelum menerima suntikan vaksin, seseorang akan mendapat lembaran formulir question yang harus di isi. Formulir ini yang akan menjadi patokan petugas, nama dalam formulir tersebut layak mendapat suntikan vaksin atau tidak.

BACA JUGA :   Wisata Ancol Resmi Dibuka Mulai Hari Ini, Pengunjung Wajib Vaksin, Anak-anak Belum Boleh Masuk

Dalam form tersebut berisi sekitar 6 atau 7 pertanyaan yang harus di jawab jujur oleh calon penerima vaksin. Salah satu pertanyaan yang masih penulis ingat adalah “Apakah saat ini Anda sedang hamil?” Pertanyaan ini tentunya di peruntukkan bagi kaum Hawa. Di samping pertanyaan tersebut ada kolom jawaban, jawabannya sangat mudah, yaitu kita di suruh untuk men-check atau memberi tanda centang pada kolom jawaban “Ya” dan “Tidak.”

Jika dari semua jawaban isinya “Tidak” dalam arti tubuh kita dalam kondisi baik dan layak mendapat vaksin. Lalu, jika ada salah satu saja jawaban yang masuk di kolom “Ya” berarti kita menyatakan bahwa tubuh kita sedang mengalami sesuatu. Jika ini terjadi sudah pasti petugas tidak akan memberi suntikan vaksin. Di sinilah di tuntut kejujuran dari calon penerima vaksin.

Apakah hanya cukup sampai di situ? Ternyata tidak. Dalam form tersebut pertanyaan yang di ajukan kebanyakan menggunakan bahasa medis. Orang berpendidikan saja terkadang masih harus berpikir keras soal bahasa medis apalagi bagi orang yang tingkat pendidikannya kurang.

Pada fase ini yang terjadi bukan soal jujur atau tidak saat mengisi form tersebut. Tapi soal paham dan tidak paham. Bisa saja karena tidak paham dengan bahasa yang ada akhirnya calon penerima vaksin memilih jawaban yang salah. Misal, kalau jujur seharusnya dia memilih jawaban “Ya” tapi karena tidak paham akhirnya dia memilih kolom “Tidak.”

Karena Jawaban “Tidak”, ini mencerminkan tubuh calon penerima vaksin dalam kondisi sehat, akhirnya tanpa ragu petugas pun melakukan suntikan vaksin. Jika ini terjadi dan ada efek yang timbul setelah menerima vaksin, ini sekali lagi bukan vaksinnya yang membahayakan seperti yang tersebar di sosial media. Namun ada ketidak sinkronan informasi saat vaksin hendak di suntikkan.

Selanjutnya peranan media, ketika terjadi efek negatif penerima vaksin, media mengupdate, masyarakat pun merespon hal tersebut secara negatif pula. Di sini, media, apakah pernah media menuliskan runtutan tersebut untuk di baca publik, jawabannya tentu Tidak.

BACA JUGA :   Nostalgia - Kisah Stadion Siliwangi yang Jadi Bagian Sejarah Persib Bandung

Jika di telisik secara jelas antara fakta data di lapangan dan fakta pemberitaan di media terjadi dua sisi yang berbeda. Mari kita bedah. Jika terjadi sesuatu hal negatif pada penerima vaksin yang di unggah media, pernahkah kita bertanya berapa orang yang melakukan vaksin di tempat yang sama pada hari yang sama? Kita tidak akan berpikir sampai ke hal itu.

Berdasar pengalaman pribadi penulis saat melakukan vaksin di salah satu Puskesmas di daerah kami, ada sekitar 90an peserta vaksin. Dari 90an peserta tersebut tak ada satupun yang mengalami efek negatif. Di sini, peran media, Nihil.

Jika pada suatu daerah terjadi efek negarif pada salah satu peserta vaksin, pastinya media akan memuat hal itu pada lamannya, padahal dalam faktanya saat melakukan vaksin orang yang menderita efek negatif tentu tidak sendirian, bisa jadi ada puluhan atau ratusan penerima vaksin di tempat dan hari yang sama. Pertanyaannya kemudian, kenapa puluhan atau ratusan peserta yang tidak mengalami efek negatif tidak di angkat media?

Jawabannya bukan soal Pro atau Kontra terhadap pembuat kebijakan, tapi soal trafik artikel. Semakin banyak pembaca artikel, semakin banyak pula pundi-pundi rupiah yang masuk ke kantong penulis. Bayangkan jika penulis mengangkat tulisan dengan tema puluhan orang penerima vaksin yang tidak mengalami efek apapun, siapa yang mau baca artikelnya?

Pengalaman ini pernah penulis alami sendiri, ketika menulis artikel yang membuat pembaca penasaran maka makin banyak yang klik artikel tersebut. Imbasnya pundi-pundi rupiah bisa terkumpul. Sampai di sini paham ya para pembaca? Media tidak selamanya bohong, namun media mencari sisi lain dari sebuah kejadian.

Mrs. D (2)

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *