• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Polemik Vaksinasi, Yang Katanya Membahayakan Diri?

ByAidaannisa28

Jul 26, 2021 ,

Virus Covid-19 di Indonesia, yang berawal dari bulan Maret 2020, hingga sampai saat ini belum juga usai. Virus yang juga telah tersebar di 221 negara di dunia, dan menginfeksi 125.335.393 manusia di bumi ini.

Beragam cara pun dilakukan untuk memutus rantai virus Covid-19. Dari kebijakan pemerintah yang menghimbau masyarakat untuk menerapkan 5M, sampai PPKM (Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) di sejumlah daerah di Indonesia.

Namun, berbagai cara tersebut, masih belum ampuh untuk mengatasi penyebaran virus covid-19. Adanya pandemi virus Covid-19, membuat banyak ilmuwan berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin virus Covid-19 yang dapat memberantas permasalahan yang terjadi di seluruh dunia ini.

Hingga pada bulan Desember. Pemerintah mengumumkan, bahwa 1,2 juta vaksin virus Covid-19 telah tersedia di Indonesia, dan akan melewati tahapan pemeriksaan untuk akhirnya dapat didistribusikan kepada masyarakat.

Hal tersebut tentu menjadi kabar baik untuk kita, karena dengan adanya vaksin kita bisa kembali ke situasi normal seperti sedia kala.
Namun, sayangnya kabar baik tersebut, tidak semua masyarakat menyambut baik datangnya vaksin virus Covid-19 itu, hingga menimbulkan polemik diantara kalangan masyarakat, dengan pemerintah.

Hal ini dikarenakan munculnya kabar burung tentang vaksin virus Covid-19 dari berbagai media, yang membuat masyarakat menjadi ragu untuk melakukan vaksinasi.
Kabar burung yang penulis temui dari berbagai media adalah tentang vaksin virus Covid-19 yang beredar di tengah masyarakat adalah vaksin virus Covid-19 yang dapat membuat pembekuan darah, yang berefek bagi penggunanya mengalami kelumpuhan, bahkan sampai kematian.

Tentunya, kabar burung tersebut yang bertebaran dari berbagai media, akan berdampak negatif pada proses penyuluhan masyarakat untuk melakukan vaksinasi, dan membuat pandemi akan berlangsung lebih lama, karena sikap penolakan untuk vaksinasi dari masyarakat.
Penulis menyadari keraguan masyarakat tentang vaksin virus Covid-19, yang menjadi hambatan untuk memutus rantai virus Covid-19 ini.

Diharapkan dengan tulisan ini, dapat memberikan jawaban tentang keamanan vaksin virus Covid-19.

Rekam jejak Vaksin Virus Covid-19.
Terdapat 5 alur penggunaan vaksin Covid-19, sebelum nantinya bisa digunakan secara massal oleh masyarakat, yaitu :
1. Tahap Penelitian Dasar
Pada tahap ini peneliti menelusuri mekanisme potensial. Peneliti fokus meneliti virus, sel-sel yang terkait virus tersebut, dengan sel-sel yang diinfeksi virus ini dan diperbanyak. Dimulai melakukan pembuatan vaksin dalam jumlah terbatas.

  1. Uji Pre-Klinis
    Menguji vaksin kepada sel sebelum dilanjutkan pada hewan untuk percobaan (studi envitro dan envivo). Pre-klinis untuk memastikan vaksin aman apabila diujikan pada manusia.
    Setelah tahap Penelitian, dan uji pre-klinis berjalan dengan lancar, dan vaksin sudah dipastikan aman jika digunakan untuk manusia. Menurut pemaparan dari Prof. Wiku Adisasmito, ada 3 fase Uji klinis, yaitu :
  2. Fase satu
    Memastikan keamanan dosis pada manusia serta menilai farmaco kinetik dan farmaco dinamik. Untuk menentukan dosis aman pada manusia. Fungsi dari fase satu adalah untuk menguji vaksin virus Covid-19, apakah berpengaruh untuk membentuk sistem kekebalan tubuh pada manusia atau tidak.
  3. Fase dua
    Melakukan studi pada manusia biasa dengan jumlah sampel 100 sampai 500 orang. Studi ini ingin memastikan dan menilai keamanan pada manusia dapat tercapai dan menilai efektivitas serta menentukan rentan dosis optimal dan frekuensi pemberian dosis paling optimal dan efek samping jangka pendek. Pada tahap ini, vaksin di ujikan ke beberapa kelompok yaitu anak-anak, dan orang dewasa. Fungsi dari tahap ini adalah untuk mengetahui vaksin bekerja dengan berbeda atau tidak. Sehingga dari tahap ini, dapat diketahui apakah vaksin mampu untuk merangsang sistem kekebalan atau tidak, pada rentang usia tersebut.
  4. Fase tiga
    Dengan uji sampel 1.000 orang sampai 5.000 orang untuk memastikan keamanan, efektivitas, keuntungan yang melebihi risiko penggunaan pada populasi yang lebih besar. Dan apabila uji klinis fase tiga ini tuntas dan hasil memuaskan maka akan masuk fase persetujuan.
    “Kita pastikan mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) semua proses uji ini sudah berjalan dengan baik maka bisa masuk ke dalam proses persetujuan yang dilanjutkan dengan pembuatan vaksin dalam jumlah besar,”
BACA JUGA :   Potensi dan peran perempuan di era digital tetap penting dan strategis dalam kemajuan bangsa

Urgensi vaksin virus Covid-19 untuk Herd Immunity.
Herd Immunity yaitu terlindunginya sebagian besar individu dalam kelompok tersebut (menjadi kebal) terhadap penyakit infeksi yang disebabkan karena intervensi program imunisasi nasional. Yang artinya adalah untuk membangun sistem kekebalan kelompok terhadap suatu virus diperlukan setidaknya 60-80% penduduk di Indonesia harus sudah divaksinasi.

Dengan begitu, herd immunity pada masyarakat akan terbentuk dan bisa melawan virus Covid-19.
Dalam konteks ini, jika masyarakat tetap menolak vaksinasi virus Covid-19, maka dampak yang akan terjadi, adalah tingkat kekebalan tubuh masyarakat dalam melawan virus Covid-19 ini, akan lemah, dan jumlah penduduk yang meninggal karena virus Covid-19 ini diperkirakan akan mencapai 12,2 juta penduduk di Indonesia. Angka yang sangat banyak, bukan?
Karena pertimbangan tersebut lah, jika masyarakat tetap menolak vaksinasi akan sangat beresiko terjadi lonjakan kasus virus Covid-19 yang sangat signifikan, seperti yang terjadi pada bulan Juni, dan Juli 2021.

Dari JHU CSSE COVID-19 Data, perkembangan kasus virus Covid-19. Jumlah orang yang terpapar virus Covid-19 mengalami lonjakan kasus yaitu pada tujuh hari di tanggal 26 Juni – 2 Juli rata-rata sebanyak 21.302 kasus terkonfirmasi positif. Jika dijumlahkan kasus virus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 2,2 juta jiwa, sembuh 1,89 juta jiwa, dan jumlah kasus meninggal adalah 58.995 jiwa.

Di tambah dengan adanya fakta bahwa ada varian baru dari virus Covid-19, yaitu Delta, Kappa, dan Lambda.
Ketiga varian virus Covid-19 ini dikatakan memiliki banyak mutasi pada protein lonjakan, yang bisa menjadi faktor yang menyebabkan penyebaran virus. Dari potensi penyebaran virus Covid-19 ini, yang lebih mudah, dan cepat menular. Sehingga membuat pandemi ini situasinya kian genting.

BACA JUGA :   5 Tips Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Jika kasus virus Covid-19 tidak segera diatasi dengan seluruh elemen masyarakat agar mau divaksinasi. Maka bukan hal yang mustahil, kalau pandemi ini bisa segera kita lewati, dan kita semua bisa kembali menjalani hidup normal seperti sedia kala.
Polemik tentang vaksin Covid-19, yang katanya membahayakan diri?

Komnas KIPI memberikan detail kasus 30 orang yang meninggal pasca vaksinasi 27 Sinovac, dan 3 vaksin Astra Zeneca. Hampir semuanya dengan diagnosis penyakit bawaan, sehingga memberikan efek KIPI serius (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Berikut ini adalah 27 kasus meninggal dunia pasca vaksin Sinovac :
1. 10 orang karena terinfeksi COVID-19
2. 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah
3. 1 orang karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak
4. 2 orang diabetes melitus, dan hipertensi yang tidak terkontrol.

Berikut ini adalah 3 kasus meninggal dunia pasca vaksin Astra Zeneca :
1. 1 orang karena radang paru
2. 1 orang karena terinfeksi COVID-19
3. 1 orang dead on arrival (DOA), masih dilakukan pendalaman/autopsi lanjutan untuk memastikan penyebab.

Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari mengatakan mereka yang meninggal setelah vaksinasi diyakini tak terkait vaksin COVID-19.

“Kenapa kami bisa membuat diagnosis itu, karena datanya lengkap, diperiksa, dirawat, dirontgen, di CT-Scan, di-lab, jadi dapat diagnosisnya, jadi semuanya tertangani,” kata Prof Hindra saat rapat kerja bersama DPR Komisi IX, Kamis (20//2021).

Prof Hindra juga menyampaikan hingga 16 Mei, tercatat ada 229 laporan KIPI serius. Sedangkan untuk KIPI non serius ada 10.628 kasus dengan 9.738 setelah vaksinasi Sinovac dan 889 setelah menerima vaksin AstraZeneca.

“Non serius itu demam, mual, muntah, pusing, nyeri, hingga sakit kepala,” bebernya.

Dari pernyataan diatas, orang yang akan menjalani vaksinasi Covid-19 hendaknya untuk jujur dengan kondisi dirinya, agar tidak terjadi KIPI serius pasca vaksinasi.

Solusi dari polemik tentang vaksinasi Covid-19 :
1. Biasakan berpikir ilmiah
Dalam keadaan apapun dan dimana pun, berpikir ilmiah sangatlah penting. Agar kita tidak menjadi orang yang mudah menelan mentah-mentah segala informasi yang datang pada diri kita. Seperti halnya informasi tentang vaksin virus Covid-19 yang katanya berbahaya. Untuk orang yang tidak terbiasa berpikir ilmiah, akan mudah percaya akan kabar burung tersebut. Hingga akhirnya menghasilkan tindakan yang bisa saja merugikan diri sendiri, maupun orang lain. Oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan informasi yang kita terima dengan penalaran yang logis, dan bisa dipertanggung jawabkan.

  1. Membaca berita dari sumber yang terpercaya
    Penulis sering kali menemui broadcast yang diterima di grup WhatsAap orang tua, dan teman-teman penulis. Isi dari broadcast tersebut, tidak lain adalah berita hoax yang disebarluaskan di grup-grup media online. Seperti yang sekarang terjadi, banyak sekali broadcast tentang vaksin virus Covid-19 yang katanya adalah bisa membuat cacat, bahkan meninggal, dll. Hal tersebut akan menjadi bahaya, jika berita hoax tersebut diterima oleh banyak orang, dan akhirnya menjadi pola pikir di masyarakat yang menyebabkan program vaksinasi virus Covid-19 ini akan terhambat. Untuk mencegah itu, sebaiknya kita membaca berita dari sumber yang terpercaya, seperti website resmi pemerintah yang sifatnya kredibel, dan valid, seperti https://covid19.go.id/,
  2. Membangun budaya literasi
    “Jangan membaca sampai koma, tapi bacalah sampai titik.” – Sepositif.
    Kutipan kalimat tersebut related sekali dengan keadaan di masyarakat sekarang yang mudah mempercayai sesuatu, hanya dengan mendengar, atau membacanya secara sekilas. Sehingga memunculkan kesimpulan yang tidak tepat, dari informasi yang sebenarnya ingin disampaikan. Oleh karena itu, kita harus membangun budaya literasi, agar terhindar dari kesalahpahaman informasi yang kita baca.
BACA JUGA :   Polisi di Kabupaten Tegal Bekuk Pengedar Sabu

Penutup
Polemik vaksinasi, yang katanya membahayakan diri? adalah bentuk ketidaktahuan masyarakat terhadap fakta yang sebenarnya. Vaksin Covid-19 memang memberikan efek samping, yang disebut KIPI. Namun, efek samping tersebut tidak lebih besar jika dibandingkan dengan manfaat Vaksinasi. Kita menyelamatkan diri sendiri, dan orang lain. Namun, pada beberapa kondisi seseorang yang mempunyai penyakit kronis (Jantung, Diabetes Mellitus, Ginjal, Kanker,dll) dianjurkan tidak mengikuti program vaksinasi Covid-19, karena daapt menimbulkan efek KIPI berat.
Dengan menerapkan ketiga solusi diatas, Insya Allah bisa menjadikan kita insan yang senantiasa bertabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya), sehingga tidak membuat rugi diri sendiri, maupun orang lain. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, agar bisa beraktifitas sebagaimana mestinya. aamiin

Sumber :
https://www.kompas.com/tag/herd-immunity
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5577067/terungkap-daftar-penyebab-30-kasus-meninggal-usai-vaksin-covid-19
https://tirto.id/vaksin-covid-19-alur-pengembangan-hingga-bisa-diproduksi-massal-f6gN

Aidaannisa28 (26)

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram)
Happy Reading!

Bagikan Yok!

Aidaannisa28

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram) Happy Reading!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *