• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Dear Mahasiswa, Stop Menyebut Masyarakat dengan Sebutan Awam

www.pinterest.com

Mahasiswa adalah sebutan bagi para penyandang kelas tertinggi dalam ajang pendidikan. Mereka adalah orang-orang terpilih – setidaknya begitu kata kakak-kakak senior saat ospek berlangsung – karena tidak semua mampu mengenyam studi paska SMA seperti mereka, entah karena biaya atau tidak lolos ujian masuk kuliah.

Wahai adik-adik mahasiswa baru yang budiman, kalian tidak se-spesial itu. Kakak-kakak senior yang kalian hormati tidak sehebat yang kalian pikirkan. Mereka juga sama, orang-orang yang sedang berada pada titik quarter life crisis, fase-fase penuh tanda dalam menentukan arah hidup.

Selama kalian masih merasa “berbeda”, dalam arti, memiliki kecerdasan melebihi orang-orang yang kalian sebut “awam”, berhenti menyebut diri kalian sebagai agent of change, basi. Orang yang kaya ilmu tidak pernah mendaku diri mereka pintar, mereka akan merendah karena semakin tahu seberapa kecil arti kehadiran mereka di hadapan dunia yang maha luas ini.

Aku mengerti mengapa kalian, kita, merasa hebat. Ya, karena kita dijejali banyak sekali pengetahuan baru. Kita juga bertemu dengan lingkungan baru, lingkungan yang menurut kita produktif, yang tidak pernah dirasakan selama berada di bangku SMA dan kampung halaman.

Know yourself! Teriak orang tua Bernama Socrates di masa Yunani Kuno. Kalimat itu ditujukan untuk manusia agar terus belajar sepanjang hidupnya. Bukan merasa puas dengan status “Maha-siswa” lalu bebas mengkerdilkan kemampuan mereka yang tidak sempat berada di bangku kuliah seperti kalian.

Tipikal pertanyaan mahasiswa yang biasa kudengar, “bagaimana cara untuk menyadarkan masyarakat (orang-orang awam) agar memiliki kesadaran yang sama dengan kita?”. Hey, ayolah, memangnya serasional apa kalian sampai berani menganggap kecerdasan mereka tidak lebih unggul dari kalian wahai orang-orang bergelar.

BACA JUGA :   Angka Kasus Covid-19 di Bengkulu Melandai, Masyarakat Diminta Tetap Patuhi Prokes

Kalian seolah-olah berlagak sebagai seorang agen modernitas yang siap meruntuhkan setiap apa yang dianggap tradisional, kampungan dan tidak rasional. Agen yang siap mengganti semua unsur beragam yang nampak kuno dalam kacamata kalian dengan keseragaman yang lebih modern, a la sains dan logika.

Sains dan logis darimana, toh ujung-ujungnya semua pada berebut tempat menjadi budak birokrasi dan korporasi selepas belajar di bangku perkuliahan yang mahal itu. Masyarakat tidak butuh dijadikan bahan gosip sok pintar kalian. 

Saat menyebut kata masyarakat awam di luar sana, masyarakat yang mana yang kalian maksud? Atau semua itu hanya omong kosong pra-asumsi yang tidak benar-benar terbukti, mitos saja. Itu yang kalian sebut logis? Masyarakat tidak sebodoh yang kalian pikirkan.

Yang paling membuat risau adalah mahasiswa yang mengaku aktivis. Gelagat sombong bak pejabat kampus membuatku ingin hormat setiap mereka lewat di depanku. Tidak hanya masyarakat desa yang mereka cerca, bahkan teman sesama mahasiswa.

Aku tidak boleh sama dengan mereka, adalah tugas kita untuk menyadarkan mereka dari kemalasan, budaya konsumerisme, dan hedonism, blablaa…blablaa ”. Menurutku setiap orang dilahirkan untuk bebas, bahkan dalam memikirkan jalan hidup masing-masing. Jika ada orang yang harus disadarkan, itu adalah cara berpikir para aktivis yang selalu mencari pembeda agar terlihat lebih unggul dari yang lain.  

Kembali ke masyarakat. Sekarang pertanyaanku adalah, apakah kalian pernah duduk dan mengobrol dengan masyarakat yang ditempeli label sebagai “orang awam” itu? Aku tidak yakin. Apa perbincangan kalian seputar masyarakat hanya berakhir di bangku dan ruang diskusi saja? Mungkin saja.

Berhenti berlagak sebagai pembawa perubahan sosial jika masih merasa lebih tinggi dihadapan masyarakat dan teman-teman kalian. Saat kalian mengkritisi habis-habisan sistem kapitalisme yang melahirkan golongan penindas, elit. Disaat bersamaan, kalian sedang membangun klaim diri sebagai kaum elit, dalam ranah pendidikan dan intelektual. 

BACA JUGA :   Dirgahayu ke-64 Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat

Jika memang ada bangunan di masyarakat yang harus dinilai, tunjukkan bagian mana struktur bangunan yang keropos itu. Hasil pikiran ditunjukkan dengan tindakan, begitu cara memaknai eksistensi, bukan sekedar mengisi story instagram dengan postingan sedang mengerjakan tugas, Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan demonstrasi saja.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

One thought on “Dear Mahasiswa, Stop Menyebut Masyarakat dengan Sebutan Awam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *