• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Arti Sebuah Pengorbanan (Seorang Pelukis)

Siang terik kamu menemui bapak di tempat kerjanya. Tidak kamu pedulikan panasnya matahari kala itu. Tentu saja, adikmu yang sangat lemah—mengalami penyakit jantung lemah itu sangat khawatir padamu karena teriknya matahari bisa saja membuat kepalamu pusing. Tetapi, kamu tidak memedulikan perkataannya. Kamu tetap saja keluar  dari rumah dan berjalan perlahan ke tempat kerja bapak. Kamu amati bagaimana bapak melukis orang-orang yang di taman—tempat bapak bekerja. Bapak marah padamu, begitu tahu kalau kamu ada di belakangnya dan meninggalkan Anastasia —adikmu itu sendirian di rumah.

“Bapak, aku hanya ingin membantu bapak meluki agar uang kita lekas terkumpul untuk biaya operasi Anastasia.” Begitu katamu pada bapak, agar kamu tidak lagi dimarahinya.

Kamu berhasil. Bapak berhenti memarahimu. Kamu diizinkannya belajar melukis, sedangkan dia mengeluarkan handphone zaman dulu dari sakunya dan menelepon seseorang. Bukannya melukis, kamu malah memerhatikan percakapan bapak dalam telepon. Oh. Rupanya, bapak menelepon tetangga agar dia mau menemani Anastasia. Bapak khawatir, kalau-kalau dia bisa pingsan sewaktu-waktu. Kalau pingsan tidak ada yang membangunkan, bisa-bisa hal yang tidak diinginkan terjadi. Dan kalian kehilangan Anastasia. Begitu bapak berhenti berbicara, kamu kembali belajar melukis.

“Wah, ternyata kamu punya bakat melukis. Lihat. Hasil lukisan abstrakmu mewakili karaktermu yang penuh warna-warni kehidupan. Lanjutkan berkarya, ya, Nak. Mulai hari ini, bapak akan ajari kamu melukis wajah manusia,” ucap bapak. Wajahmu berseri mendengar ucapan bapak. Tetapi, kamu sembunyikan wajah karena tersipu malu.

“Aduh. Bapak bisa saja. Aku jadi malu.”

“Sayang. Memang kamu benar-benar berbakat melukis. Tuhan sudah memberi talenta yang besar buat kamu.”

“Benarkah, Pak?” Kamu kurang percaya pada perkataan bapak.

BACA JUGA :   Cerpen Selalu Terpendam Dalam Angan Semu Part 1

“Kamu melanjutkan melukis. Tanpa memedulikan orang memerhatikan dirimu. Mereka sangat mengagumi hasil karyamu. Tiba-tiba, kamu menyelesaikan lukisan bergambar ibu dengan warna-warni lukisan abstrak. Bapak menangis melihat lukisanmu. Dia sangat merindukan ibu yang telah meninggal melahirkan Anastasia.

“Maafkan aku, Pak. Aku membuat Bapak menangis.” Kamu memeluk bapak dan mencoba menenangkannya.

“Bapak tidak apa-apa. Hanya, bapak rindu kepada ibu kalian.”

Bapak memalingkan mukanya dari kamu dan mengusap air matanya. Kamu berusaha melihat wajahnya. Kamu takut dia marah padamu. Namun, bapak tetap bertahan pada posisinya. Datangalah Antoni yang sejak dari tadi mengamat-amati  kamu melukis. Dia ikut menghibur bapak.

“Bagiku, Bapak adalah bapak kandungku sendiri. Berkat dia, aku bisa melukis.” Dia memulai perkataannya, tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Maaf. Anda siapa, ya? Saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya.”

Kamu kembali memandangi bapak yang masih menangis. Kamu berusaha melakukan hal lucu untuk membuat bapak berhenti menangis. Akhirnya, kamu berhasil membuat bapak tersenyum dan memeluk dirimu. Bapak meminta kamu jangan melukis ibu lagi. Kamu pun menurutinya.

“Aku berjanji tidak melukis perempuan lagi, Pak.” Kamu berjanji demikian. Padahal, bapak hanya meminta kamu tidak melukis ibu.

***

Sebulan kemudian, Anastasia pingsan. Kamu dan bapak meminta tetangga mengantar ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter menyatakan kalau Anastasia harus segera mendapatkan pendonor jantung. Kalau tidak, bisa-bisa Anastasia meninggal. Kamu jadi kalut. Bapak berusaha menenangkanmu.

“Kamu tenang saja. Bapak punya uang cukup untuk biaya operasi. Puji Tuhan, bapak mendapat gaji dengan mengikuti kompetisi melukis dan menjadi juara satu.” Bapak mengejutkanmu dengan perkataannya.

“Tenang, Pak. Di bank donor ada pendonor jantung yang cocok untuk Anastasia.” Dokter menyatakan itu setelah dia mendapat kabar dari telepon.

BACA JUGA :   PAHLAWAN TAK BERTUAN

Sangat disayangkan, beberapa jam kemudian ternyata mobil Ambulance yang membawa jantung itu mengalami kecelakaan. Jantungnya pun rusak. Dokter menyesali kejadian itu. Kamu menyusul dokter yang kembali ke ruangnya.

“Dokter, saya bersedia mendonorkan jantung buat adik saya,” katamu pada dokter tidak didengar bapak yang menangis.

“Tuhan. Waktu istriku meninggal, aku yakin kalau ada rencana yang jauh lebih indah di balik itu. Aku berharap, anakku Anastasia bisa sembuh dan melewati semua ini karena pertolongan-Mu. Amin.”

Operasi selesai. Dokter menyatakan operasi pencangkokan jantung berhasil. Bapak mencari-cari kamu, tetapi tidak ditemukannya. Dokter menunduk dan berkata bahwa kamu berada di ICU. Bapak terkejut. Dia berlari menuju tempat kamu berada lalu memelukmu.

“Mengapa kamu melakukan semua ini, Nak?”

***

astipravitasari (5)

Penulis sejak tahun 2014. Suka akan hal baru di Internet. Suka tidur siang. Suka mengurung diri di kamar untuk mencari inspirasi menulis dengan riset di Internet.

Bagikan Yok!

astipravitasari

Penulis sejak tahun 2014. Suka akan hal baru di Internet. Suka tidur siang. Suka mengurung diri di kamar untuk mencari inspirasi menulis dengan riset di Internet.

6 thoughts on “Arti Sebuah Pengorbanan (Seorang Pelukis)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *