• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

LINGKUNGAN YANG MEMBENTUK KARAKTER

ByNUR SAIDAH

Jul 24, 2021

KARAKTER ITU DAPAT DI BENTUK SEJAK DINI

“Mendominasi aktivitas keseharian oleh lingkungan sekitar membuat pola pikir baru dan akhlak dalam meninjau suatu hal. Sehingga sangat diperlukan lingkungan positif dalam mendukung tumbuh kembang karakter kita sejak dini dengan peran orangtua yang sangat besar.”

Dalam kamus modern bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai sifat–sifat kejiwaan, akhlak/budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. Karakter adalah kualitas mental atau moral, nama dari reputasi. Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar dari kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap dan merespon sesuatu.

Dijelasakan bahwa karakter identik dengan akhlak. Dalam perspektif Islam, karakter atau akhlak mulia merupakan buah yang dihasilkan dari proses penerapan syariah (ibadah dan muamalah) yang dilandasi oleh pondasi aqidah yang kokoh. Ibarat bangunan, karakter/akhlak merupakan kesempurnaan dari bangunan tersebut setelah pondasi dan bangunannya kuat. Jadi, tidak mungkin karakter mulia akan terwujud pada diri seseorang jika ia tidak memiliki aqidah dan syariah yang benar Seorang Muslim yang memiliki aqidah atau iman yang benar pasti akan terwujud pada sikap dan perilaku sehari-hari yang didasari oleh imannya. Dari sudut kebahasaan perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab yaitu “akhlaqun” sebagai jamak dari “khulqun” yang berarti: budi pekerti, perangai, kelakuan, tingkah laku, atau tabiat. Menurut Ibnu Maskawih (seorang ahli fikir Islam) akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Bagaimana tidak, telah dikatakan bahwa orangtua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu akan membawa peran penting dalam kehidupan kita. Jika salah dalam mendidik dan menanamkan akhlak pada anak, tentu hal tersebut akan menjadi awal kehancuran generasi berikutnya. Ibu juga harus memilki bekal baik bekal ilmu, pandangan hidup dan selalu muhasabah diri. Bahakan, untuk menjadi seorang ibu perlu dipersiapkan sejak dini yaitu dimulai sejak kita berinteraksi dengan sesama.

Tugas seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Iya, harus melibatkan pemahaman secara keseluruhan. Dalam proses tersebut, pastinya banyak hambatan dan kesulitan yang akan dihadapi. Sehingga dibutuhkan kerjasama yang baik agar dapat menjalaninya dengan baik pula. Kerjasama itu tentunya dengan sang suami.

BACA JUGA :   Puisi: Kamu Bukan Kamuku

Generasi hebat adalah karya dari pendidikan karakter oleh keluarga, terutama peran dari ibu. Terkhusus pendidikan mengenai agama. Sangat tidak diragukan lagi agama adalah pondasi utama dan pedoman hidup bagi seseorang. Jika ibu dapat memberikan pengajaran agama yang baik pada anak-anaknya, tentu saja anak-anak nya akan mengetahui hakikat diri anak itu sendiri. Yaitu seperti dari segi tauhid, akhlak, muamalah, hukum dan lain sebagainya.

Sebagaimana pesan teruntuk para orangtua dalam Al-Qur’an:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisaa’: 9)

Bahwa kita mengetahui dari ayat tersebut, para orangtua diajak untuk tidak menjadikan generasi penerusnya menjadi generasi zurriyatan dhi’afa (generasi yang lemah). Melainkan para orangtua hendaknya menjadikan generasi penerusnya menjadi generasi qurrata a’yuun (penyejuk mata). Yaitu generasi yang dapat memberikan harapan yang baik di masa mendatang. Karena jiwa dan pikirannya sudah kokoh yang berlandaskan ajaran agama.

Dapat kita ambil contoh, misalnya saja kisah inspiratif yang menyentuh hadir dari seorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Muhammad Naja Hudia Afifurrohman. Ia kerap disapa dengan panggilan Naja. Naja merupakan salah satu peserta lomba hafidz di Hafidz Indonesia 2019. Yang sangat mengagumkan yaitu Naja adalah anak yang istimewa, yang menderita cerebal palsy atau lumpuh otak sejak lahir yang mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an lengkap dengan surah, ayat, letak dan halamannya. Bagaimana tidak, itulah hasil jernih payah orangtuanya dalam mendidiknya. Peran orangtuanya sangatlah besar dalam hal tersebut. Ia istimewa, namun atas kuasa-Nya ia mampu hafal Al-Qur’an. Mungkin tak banyak orangtua yang dapat melakukan seperti hal tersebut, namun orangtua dari Naja mampu dengan kehendak-Nya.

BACA JUGA :   Sepotong Elegi Tipis Bab 9 Kesalahan Yang Tak Pernah Ku Sesali Keberadaannya

Contoh lain adalah seorang hafidz juga yang bernama Musa La Ode Hanafi. Bisa menghafalkan 30 juz dalam Al-Qur’an di usianya yang muda. Hal tersebut pastinya tidak terlepas dari peran orangtuanya. Kedua orangtuanya dengan luar biasanya mengesampingkan kegiatan mereka demi memperhatikan Musa. Jadi, menurut mereka, ibu harus bisa mendidik anak sejak dini karena itu iabarat seperti menaman pohon dengan perawatan yang super bagus yang hasilnya akan didapatkan di akhir.

Banyak contoh lainnya yang menunjukkan peran penting kedua orangtua begitu besar. Namun, tak semua orangtua (dalam hal ini ayah dan ibu) yang mampu mendidik anaknya secara penuh. Banyak kendala yang membatasi mereka dalam berperan untuk mendidik anak-anak mereka. Seperti keterbatasan ekonomi dan waktu atau beberapa anak-anak tak seberuntung anak-anak yang lainnya karena telah kehilangan kedua orangtuanya sejak kecil.

Untuk itu, adanya beberapa lembaga yang menaungi anak yatim yang sekaligus membuka pesantren tahfidz merupakan salah satu upaya untuk tetpa memberikan pendidikan yang baik terhadap mereka untuk dapat lebih mengembangkan dan dapat tumbuh kembah selayaknya mereka mendapat didikan dari orangtua mereka sendiri.

Lingkungan seperti yayasan, pondok pesantren, asrama akan lebih mendominasi pendidikan karakter dan akhlaknya. Itu sebab lingkungan seperti itu mempunyai aturan-aturan yang positif dan memberikan dampak yang bagus. Bagaimana tidak, aturan-aturan itulah yang membuat anak-anak menjadi mandiri, dapat mengambil keputusan sendiri, dan tentunya dapat menemukan jati diri yang sesungguhnya. Lingkungan juga akan menjadi faktor utama dalam mendukung terlaksananya pendidikan berkarakter.

Kebutuhan pendidikan berkarakter dan pendidikan anak pada masa kini dirasa semakin minim dan berkurang, apalagi ditambah dengan adanya kecanggihan teknologi. Kecanggihan teknologi itu seperti handphone, laptop, internet yang semakin kencang, dan aplikasi serta teknologi lainnya membuat masalag baru. Meskipun ada dampak positifnya, namun dampak negatifnya juga pasti ada. Contohnya saja pembelajaran saat ini bisa dilakukan dengan jarak jauh, namun sebahagian anak malah menjadi malas untuk membuka buku. Yang nyatanya kini dengan handphone, semua dapat dilakukan.

Tentu saja pendidikan yang menginginkan output yang berkompeten pasti akan memberikan yang terbaik, baik itu dari sarana maupun prsasarananya. Hal tersebut tidak akan luput dengan adanya aturan dalam melaksanakannya. Agar dapat berjalan dengan selaras, maka sikap mengambil keputusan dan sudah mempertimbangkan konsekuensi yang akan dihadapi kelak haruslah tepat.
Seperti firman Allah yaitu:

BACA JUGA :   Asal Mula Bunga Matahari

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apaun yang kamu infakkan tentang hal itu, sungguh Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 92)

Maksud dari ayat tersebut adalah ketika kita membelanjakan dan menghabiskan harta yang kita punyai di jalan kebenaran, maka tentu saja Allah akan meridhoi setiap langkah yang ingin kita capai. Misalnya saya, pada saat sekarang ini yang serba online baik dalam hal bisnis, kerjs, belanja, sekolah, kuliah dan lainnya pasti akan memerlukan sarana untuk menunjang tercapainya tujuan kita. Yaitu pastinya harus memenuhi kelengkapan sarana ataupun prasarana. Dengan demikian, ketika hal tersebut telah terpenuhi, Insyaa Allah kita akan dapat melaksanakan apa yang sedang kita perjuangkan. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas apa saja yang kita lakukan. Allah juga akan bersama orang-orang yang selalu bersabar dan bersyukur.

Jadi, ketika lingkungan di sekitar kita itu positif dan mendukung kita untuk tumbuh dan berkembang, maka Insyaa Allah apa yang sedang kita perjuangkan akan memperoleh hasil yang baik kelak. Lingkungan yang memiliki pengaruh yang sangat penting juga mengajarkan kita untuk bisa beradaptasi secepat mungkin. Dan dapat menyeimbangi kondisi yang ada. Sehingga, perubahan-perubahan yang terjadi seketika akan mudah menjadi teman baru yang dapat berjalan selaras. Yang pada intinya, lingkungan yang baik akan menciptakan karakter dan akhlak yang baik pula dan sebaliknya.

NUR SAIDAH (4)

Musafir yang fakir akan ilmu. Sehingga mengembara ke ranah rantau adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu. Sehat selalu orang-orang baik. Semoga Allah selalu memberkahi mu. (Mahasiswi Akhir, Jurusan Bimbingan dan Konseling)

Bagikan Yok!

NUR SAIDAH

Musafir yang fakir akan ilmu. Sehingga mengembara ke ranah rantau adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu. Sehat selalu orang-orang baik. Semoga Allah selalu memberkahi mu. (Mahasiswi Akhir, Jurusan Bimbingan dan Konseling)

One thought on “LINGKUNGAN YANG MEMBENTUK KARAKTER”
  1. Bagus sekali. Bagi saya pribadi peran keluarga begitu besar pengaruhnya dalam pembentukan karakter. Mari kita ciptakan suasana yang menyenangkan dari keluarga kita masing-masing. Semoga langkah kecil ini bisa ikut mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Semangat untuk ikut andil dalam membangun peradapan bangsa adiluhung. Salam sukses untuk semuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *