• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

(Kisah Nyata) Laki-laki Manis Berpeci hitam

Episode 1

Bertemu denganmu
Diri ini melewati lorong panjang sebuah kehidupan
Serbuk sepi berhamburan kehampaan
Namun diujung lorong tersebut aku menemukan sebuah hamparan
Aku berjalan menghampiri sebuah hamparan tersebut
Disana aku melihat sebuah cahaya
Kau tau dalam cahaya tersebut
Aku melihat sosok laki-laki yang begitu manis
Hingga membuat mata ini silau jika memandangnya
Laki-laki itu mengenakan sebuah peci hitam
Yang setiap harinya dia selalu berdiri 5 waktu di depanku
Iya benar, dia adalah imam bahtera dalam dunia indahku Makin hari makin ku lihat
Hati ini seolah olah terpahat
walau kehidupan yang indah sering kali kulalui dengannya begitu pahit
Ah tapi sudahlah kesedihan hanyalah hal kecil bagai parit Entah cinta ini semakin mendalam
Walau perutnya semakin membuncit
Tetapi dia tetap manis dipandangku seolah-olah pria elit
Meski uban mulai muncul
raga dan hati sudah terpaku tak mungkin “Ucul”
Hei kau laki- laki Manis Berpeci Hitam
Kuingin menua bersamamu
mengarungi hidup sederhana di mata orang yg melihat
Tetapi cukup istimewa untuk dunia kita berdua

HILANG ARAH…
Aku Lastri, seorang perempuan desa yang cukup sederhana. Dinginnya hawa shubuh tidak menyurutkanku untuk pergi ke mushola dekat rumah menunaikan sholat shubuh berjamaah. Aku selalu bangun pukul 03.00 Wib untuk menggelar sajadahku kemudian berdzikir sembari menunggu adzan shubuh tiba kemudian bergegas ke mushola.
Selesai sholat shubuh aku tidak langsung pulang karena ada yang harus aku titipkan sebuah pesan melalui lantunan-lantunan doa yang ingin aku langitkan. ” Ya Allah begitu sulit bagiku untuk menanggung hutang- hutang keluargaku kepada juragan buah, apa yang bisa hamba lakukan jika hamba dipaksa untuk menikah dengan anaknya, hamba benar-benar tidak mencintainya, sungguh Tuhan”. Kemudian setelah melantunkan sebuah munajat aku bergegas pulang karena harus bersih- bersih rumah.
Fajar mulai muncul dari ufuk timur, seolah-olah pikiranku melepas semua beban masalah. Tiada hal yang lebih aku syukuri atas nikmat Tuhan selain dipertemukan kembali Dengan embun pagi dan rumput-rumput hijau yang menari menyambut pagi yang indah.
Aku membantu emak memasak di “Pawon” dengan bernyanyi aku mulai menggoreng ikan asin kemudian menyambal, sementara emak menanak nasi jagung. Keluargaku memang sederhana namun aku bahagia hidup ditengah-tengah keluarga istimewa ini.
Kemudian tiba-tiba ada yang menggedor pintu depan dengan suara yang sangat keras “Dooorrr….dooor…dooorrrr….Bruaakkkkk !!!!”. Pak Marto si juragan buah itu datang dengan amarah yang begitu membara.
” Mana uangnya !!! Sudah jatuh tempo nih ! Kalau gak mau bayar gadis perempuanmu harus mau menikah dengan anak sulungku si Ardianto”. Ucap Pak Sumarto dengan nada membentak
” Beri kami waktu pak, kami belum ada uang “. Sahut Bapakku sambil mengelus dadanya
” Baik saya kasih waktu seminggu hutang kalian harus lunas, jika tidak anak gadismu harus mau bersanding dengan anak sulungku, aku lihat-lihat cantik Juga paras anakmu itu”. Ujarnya

Bagai dihempaskan gelombang laut yang begitu keras, hati sakit, apa yang harus hamba lakukan Tuhan ???
Mengapa harus aku, aku sungguh tidak tahan dengan cobaan yang engkau limpahkan, Aku ingin mendapatkan imam sesuai dengan pilihan hatiku. Akan tetapi, bagimana dengan hutang keluargaku ?
Rasanya diriku benar-benar hilang arah…
“Tuhan begitu lemah hati ini menerima semua kepahitan hidup yang seperti ini, bisakah aku meminta sesuatu kepadamu, Apakah engkau berkenan mendengarkan satu permintaan saja ?”
Ya Allah…
Ya Allah…
Ya Allah…
Tolonglah hamba yang tak berdaya ini.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *