• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Delusi Masa Lalu

ByElsaJuliana

Jul 24, 2021

Di mana setiap napas berhembus, di sana tumbuh harapan yang tidak putus.

Pernah di suatu ketika, kaki mungil ini memijak pasir putih yang sehalus sutra, menguburnya dalam-dalam demi merasakan kehalusan itu. Tak pernah berhenti bergerak, terus menjamah dan menikmatinya. Hingga kaki ini sampai dibibir pantai, air laut menyapu pasir yang menyelimuti ujung kaki. Saat itu pula, aku merasakan pasir di ujung kakiku meleleh, hilang, kembali terbawa arus.

Tawa lebar terpatri dibibir mungil ini, terkekeh riang. Aku berlari pada sosok gagah yang berdiri di sudut warung tenda. Ia menangkap tubuh mungilku, memutarku dengan senyum lebar yang terlukis di wajah tampannya. Aku tidak bisa berhenti untuk tertawa riang, hingga ia mendekapku begitu erat.

Aku merengek, meminta untuk dilepaskan, aku tidak menyukai sebuah dekapan. Tubuh mungil ini kembali berlari, melawan arah dari tubuh gagah itu, memburu sosok lembut yang tengah berdiri di bibir pantai. Aku menerjang sosoknya, memeluk lututnya yang terasa dingin. Kembali, tangan halusnya menyentuh rambutku. Ia kemudian berjongkok, meraih tubuhku, mendekapku begitu erat.

Sudahlah, isak tangis nan sesak itu buncah jua. Aku meronta, tak suka didekap. Kaki mungilku kembali berlari, hendak memburu sosok gagah yang masih berdiri di sudut warung tenda. Namun, urung karena sadar jika sosok gagah itu juga sama-sama memberi dekapan, sesuatu hal yang kubenci. Jadilah aku mematung di tengah-tengah keduanya, berjongkok dan menangis di sana.

Kini, beberapa tahun telah berlalu. Aku kembali memijakkan kaki di tempat yang sama. Ya, di tempat yang sama, tapi dalam suasana yang berbeda. Begitu terkesan hening, padahal di tengah keramaian. Aku menyadari, semua terasa kosong saat sosok gagah dan sosok halus itu tidak menemani di sini.

BACA JUGA :   Tips Cara Membuat wanita Bahagia

Tubuh yang telah beranjak dewasa ini kembali berjongkok di tempat yang sama saat menangis karena takut didekap. Aku memejamkan mata, menangis dalam diam. Delusi masa lalu menyerbu, di sana aku tidak takut untuk didekap, bahkan aku sendiri yang meminta didekap langsung oleh kedua sosok itu.

Itu hanya sebuah delusi, fiksi yang dibuat jauh dari kenyataan. Semuanya telah hilang, sirna, terbawa arus pada tempat yang jauh di sudut sana. Sosok keduanya telah berlari saling menjauh. Seperti diri ini yang pernah menjauh dari keduanya. Kini, hanya seberkas delusi masa lalu yang kugenggam erat, sebagai penenang jika semua hanya bayangan, berharap hal itu tidak pernah terlaksanakan.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *