• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Adaptasi Di Tengah Keterbatasan Diri

ByAidaannisa28

Jul 24, 2021 ,

Hi, Readers! saya harap kalian disana selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan. Aamiin. Saya sekarang mau sharing pengalamanku selama 10 bulan ini. Be a teacher.

Hmm, apa ya rasanya jadi seorang guru? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari diri saya. “Kayaknya enak deh, jadi guru itu. Di dengerin, ngasih ilmu, tinggal mengarahkan aja,” yaa, kira-kira itulah yang menjadi khayalan saya sewaktu itu.

Di tengah-tengah saya sedang berkhayal, tiba-tiba muncul pertanyaan gini “Tapi, Da. Kan elo blm jadi sarjana, trus kalo ngomong suaranya kecil. Emang bisa, ya?” saya mempertanyakan diri saya dari khayalan saya itu.

Lalu, dengan tekad dan kemantapan, saya bilang ke diri saya “Gue pasti bisa, kok. Kalo gue mau, dan gue akan mendapatkan itu.” Ya…. mungkin menurut kalian terdengar seperti orang yang sangat ambisius. Tapi, memang itulah adanya diri saya, jika saya menginginkan suatu hal, saya yakin bisa meraih itu, dan mendapatkan apa yg saya impikan.

Setelah membuat impian, saya menyusun rencana. Langkah-langkah apa saja yang bisa mendekatkan saya pada impian saya.

Hari demi hari saya lewati dengan berikhtiar, dan berdoa. Berharap ada jawaban dari usaha yang selama ini dikeluarkan.

Qodarullah, saya mendapatkan pesan dari tante saya, tentang temannya yang mempunyai anak. Anaknya dari teman tante saya ini, sedang membutuhkan guru pedamping untuk anaknya yg berusia 8 tahun, kelas 2 SD.

Baca juga : https://imbicom.club/2021/07/24/ketika-kamu-sedang-down/

Secara naluriahnya saya sangat senang banget, karena mendapatkan tawaran itu. singkat cerita, saya di interview via online, dan saya berusaha untuk menunjukkan diri saya yang terbaik *Asekk. Lalu. Dari banyaknya pertanyaan interview, yg membuat saya rada insecure adalah “Tapi, kamu bisa bahasa Inggris?” kata ibunya

BACA JUGA :   Curahan Hati Seorang Istri

Saya diam sejenak, untuk memikirkan jawabannya. Prinsip saya dlm menjawab semua pertanyaan ttg diri saya adalah be honest. Jujur tentang diri kamu.

Akhirnya saya menjawab “Bisa dibilang bahasa Inggris saya pasif, Bu. Saya bisa memahami orang berbicara bahasa Inggris, tapi kalau untuk membalasnya, saya kurang mumpuni.”

Setelah selesai interview, saya harap-harap cemas, dan mempertanyakan “Tadi gue bener gk, sih jawabnya,” saya memilih untuk pasrah, dan banyak-banyak berdoa.

Setelah itu, saya menunggu selama beberapa hari, dan akhirnya di calling untuk mendampingi anaknya belajar. Dari pertimbangan yg saya temukan kenapa saya diterima adalah saya punya skill menggambar.

Sedangkan, calon lain tidak punya. Jadi, mungkin itu yg menjadi point plus untuk saya.

Hari demi hari, saya jalani menjadi guru pedamping. Banyak sekali dinamikanya. Hal yang saya ekspetasikan, kalau menjadi guru itu selalu menyenangkan, nampaknya setelah terjun langsung tidak selalu begitu.

Berhadapan dengan anak kecil, yang secara emosional belum stabil adalah tantangan tersendiri untuk saya. Pernah ada saat dimana anak kecil itu marah-marah dengan nada yang sangat keras. Saya orang yang tipikalnya tidak terbiasa jika dibentak-bentak. Saya sangat shock, dan menyadari bahwa saya mau menangis. Ternyata, seperti ini konsekuensinya. Akhirnya saya memilih untuk memahami, dan tersenyum sama anak itu, sambil mata berkaca-kaca. Dia memunculkan raut muka bingung, mungkin dalam hatinya, “Dimarahin malah senyum-senyum.” Hehe

Ya… begitulah cara saya untuk memulihkan diri saya, dari shock. Saya mesti ekstra sabar, dan easy going.

Hal yang paling saya suka adalah setelah dia berbuat demikan, anak itu selalu meminta maaf. Karena, itu pula saya menjadi mengerti bahwa ternyata cara anak kecil menyampaikan/menginginkan sesuatu itu berbeda, dengan orang dewasa. Dari segi emosionalnya.

BACA JUGA :   SAAT MASA TAK BERARTI

Selain itu, saya juga mesti beradaptasi dengan mata pelajaran anak kecilnya. Hal yg saya kagetkan dari mapel dan sekolahnya adalah full english. Alhasil saya mesti improvisasi lebih ekstra dari yg biasanya. Dari banyaknya mapel yang ada, saya cukup terkesima dengan mapel Bhs Arab. Karena, itulah mapel yg cukup membuat saya dilema. Tapi, dgn pengalaman saya yg juga pernah belajar bhs Arab sewaktu SMP, itu menjadi jembatan tersendiri untuk saya bisa melewati tantangan ini.

Hal-hal lain adalah saya beradaptasi dengan budaya, dan juga lingkungan yang ada pada keluarga tersebut. Saya yang tadinya tidak terbiasa menerapkan 3 kata ajaib yaitu “Maaf, tolong, dan terima kasih” menjadi terbiasa, karena budaya yg dibangun pada keluarga tersebut. selain itu, sometimes, saya mendengar percakapan seorang anak, dengan orangtuanya, yang berdialog dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal itu membuat saya menjadi termotivasi untuk lebih giat dalam belajar bahasa Inggris.

Hal yang membuat saya terinspirasi adalah cara mendidik kedua orang tuanya, terhadap anaknya. So awesome. Tidak pernah sedikit pun saya mendengar kalimat negatif, seperti menghardik yang keluar dari mulut orang tuanya terhadap anaknya, yang saya dengar adalah kalimat membangun, dan positif.

Biasanya saya kalau berjalan ke suatu tempat, lalu bertemu dengan seorang Ibu yang sedang memarahi anaknya, dengan melontarkan kata-kata negatif, seperti “Aduh, bloon banget sih kamu, gitu aja jatuh.” Hal itu, tanpa disadari akan tersimpan dalam memori anaknya, dalam waktu yg lama. Karena berbekas.

Banyak sekali saya melihat realitas orang tua yang berkata kasar, yg bermakna negatif. Tapi, di tempat kerja saya, yang ada justru sebaliknya. I’m so grateful. Hal itulah, yang membuat saya menyadari, bahwa memahami psikologis anak kecil itu sangat penting, dan karena itu pula saya belajar banyak tentang ilmu psikologi.

BACA JUGA :   Puisi Untuk Kaki ku

Kamu pernah mendengar kalimat seperti ini, “Dimana kamu berada, itulah dirimu.” Ketika kamu berada di lingkungan yang baik, maka secara alamiahnya kamu akan ikut menjadi baik, bahkan lebih baik.

Semua manusia perlu mengembangkan sikap adaptasi, ditengah keterbatasan diri. Seperti saya yg kurang lancar berbahasa Inggris, cara saya beradaptasi adalah dengan lebih banyak belajar bahasa Inggris. Hal lain, saya yang tidak terbiasa dibentak, saya beradaptasi dengan objek saya yang seorang anak kecil, dengan cara saya memahami cara berpikirnya, dan lebih membesarkan rasa sabar saya.

Dalam setiap langkah, pasti ada rintangannya. Tidak mungkin, hasil yang sesuai harapan, diraih dengan bersenang-senang saja. Pasti ada hal yang tidak mengenakkan, yang mau tidak mau, harus kamu telan juga.

Itulah, proses dari pendewasaan.

Setelah ini, siapapun kamu yang membaca tulisan saya yang sangat sederhana ini. Saya berharap ada hikmah dan stimulus positif yang kamu dapatkan. Semoga hari-harimu senantiasa bermanfaat untuk orang lain. : )

Aidaannisa28 (26)

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram)
Happy Reading!

Bagikan Yok!

Aidaannisa28

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram) Happy Reading!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *