• Jum. Jul 30th, 2021

Sepotong Elegi tipis (Bab 6 Kembali ke Masa Lalu)

Bymutiaradee

Jul 23, 2021

“Kepolosan yang selalu ku rindukan, dimana tidak ada beban masalah di dalamnya, hanya ada ambisi yang terus menaunginya, mengingatnya akan membuatku tersenyum dan tertawa”
– Tiara –

“Menerawang awan dan menembus bulan hingga akhirnya aku teringat pada perasaan yang sudah lama singgah, tanpa ku sadari keberadaannya”
– Tara –
Oh Tuhan, aku masih tidak menyangka. Ternyata serumit ini kisah cinta Han. Ini lebih rumit dengan apa yang pernah ku alami.
“Han, sabar ya. Gue tahu ini berat buat lu. Tapi setidaknya lu harus sabar. Oh iya, jangan jauhi mereka. Mereka kan sahabat lu juga. Kalau lu jauhin mereka. Itu malah bikin mereka terus merasa bersalah sama lu. Jalani aja apa adanya.” Kataku sok bijak.
Han langsung berdiri dan mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.
“Lu benar. Tapi untuk beberapa hari ini kayaknya gue butuh waktu sendiri. Gue cuma pengin mastiin kalau gue sudah bisa terima kenyataan.” Kata Han sambil memelukku dan membisikkan ku sesuatu.
“Makasih, lu Kakak yang baik. Gue sayang sama lu.” Bisik Han.
“Gue juga sayang sama adik gue satu ini.” Jawabku balas berbisik padanya dan mengelus lembut kepalanya.
“Idih lu keasyikan dipeluk sama gue ya. Sudah ah gue mau makan ubi goreng buatan Ibu. Dasar macan!” kata Han sambil melangkah pergi.
Dasar curut! Tadi aja sok mellow gitu, nah sekarang? Tapi senang juga lihat Han ceria seperti biasanya. Wah pasti beruntung sekali wanita yang akan mendampingi Han kelak.
“Bu, mana ubi goreng bagian Han!” kata Han pada Ibu.
“Salah sendiri ngurung diri di kamar. Jadi ubi gorengnya dihabisin sama Ayah.” Jawab Ibu cuek.
“Ayah tega banget sih..” kata Han dengan mulutnya yang manyun.
“Kalau buat aku adakan Bu?” tanyaku.
“Kan Ibu sudah bilang, dihabisin sama Ayah. Kamu sih ikut-ikutan ngurung diri di kamar Han.” Jawab Ibu.
“Yaaaa Ibu, aku tadikan dipaksa sama Han.”
“Salah sendiri mau dobrak pintu kamar orang.” Kata Han.
“Sebenarnya kamu ada masalah apa sih Han? Cerita sama Ayah dan Ibu dong!” kata Ayah dengan mulut yang penuh ubi goreng.
“Masalah anak muda Yah, hehe..” jawab Han dengan wajah yang kebingungan.
“Kamu serius nggak mau cerita?” tanya Ibu.
“Ayah sama Ibu tenang aja kan sudah ada Ara tadi.” Kataku dengan bangga.
“Iya, ternyata lu anaknya bijak juga ya!” kata Han sambil tersenyum manis padaku.
“Nah gitu dong akur, kan enak dilihatnya!” kata Ayah.
Kami pun berpelukan. Senang rasanya ada ditengah-tengah keluarga yang harmonis seperti ini. Semoga akan tetap seperti ini. Han, adik yang menyebalkan dan unik.
Hari yang melelahkan dan menyenangkan. Rasanya beruntung sekali bisa dikelilingi orang yang ku sayang. Ada Ayah, Ibu, Han dan Tara.
Oh iya, besokkan Tara akan mengajakku keluar. Kira-kira kemana ya? Jadi nggak bisa tidur nih, mikirin kegiatan besok sama Tara. Pasti menyenangkan. Kapan ya pagi datang? Lama banget rasanya. Emang benar kata orang kalau menunggu itu melelahkan. Cuma nuggu pagi aja gelisahnya kayak gini gimana kalau nunggu kekasih? Hahahahaha haduh Ara apaan sih. Jadi nggak jelas gini.

BACA JUGA :   Kenangan Cinta

Dear diary,
Wahh nggak nyangka ternyata adikku sudah gede. Sudah mulai kenal sama yang namanya cinta. Bahkan sudah punya kisah cinta yang ribet banget. Nggak nyangka cowok senyebelin Han, bisa cinta tulus banget sama seorang gadis. Sayangnya dia nggak bisa ngomong langsung sama gadis itu. Dan akhirnya si gadis lebih milih orang lain. Ternyata ada kisah cinta yang tak kalah menyakitkan dengan apa yang aku rasakan. Wahh ini bisa jadi bahan obrolan yang bagus sama Tara besok.
Kapan sih malam berakhir? Kapan coba si bulan diganti sama matahari? Sekarang aja masih pukul 02.00 WIB. Masih lama banget, kurang 7 jam lagi. Gara-gara mikirin jalan sama Tara kayak gini nih akibatnya. Jadi kelelawar, tidak bisa tidur dari kemarin. Kapan sih nih mata bisa merem? Kalau tidurkan waktu akan berjalan lebih cepat. Tapi ini mata kagak bisa diajak kompromi, rasanya masih semangat aja dibuat melek.


Praaangng… Praaangng… Praaangng…. Praaangng… Praangng…
Aduh, suara apaan sih tuh? Ganggu orang lagi tidur aja? Gila, suaranya keras banget. Aku masih ngantuk banget nih. Mataku masih lengket, tidak bisa dibuka. Akhirnya aku hanya duduk, mengucek-ucek mata, mengambil bantal guling di sampingku untuk menutup telingaku dari polusi suara yang entah dari mana asalnya. Dan yang terakhir adalah tidur kembali. Sayup-sayup aku mendengar suara Han protes. Jadi ini semua ulah Han? Dasar curut, baru kemarin damai tapi sekarang sudah ngajak ribut lagi. Tapi ya sudahlah, balas dendamnya nanti saja. Aku masih ngantuk. Lebih baik melanjutkan tidurku dari pada mendengar ocehan dari Han.
Selang beberapa menit aku tertidur kembali, aku merasa ada air yang menetes di mukaku. Awalnya hanya setetes dua tetes tapi lama kelamaan menjadi seperti cipratan air. Apa di sini hujan? Tapi tidak mungkinlah, aku kan tidur di kamar mana mungkin di kamar ada hujan. Atau jangan-jangan bocor? Enggak mungkin lah masak bocor? Orang kemarin-kemarin juga enggak bocor. Tiba-tiba saja ada air yang menetes tepat di mataku. Sontak aku kaget dan langsung terbangun dari tidur nyenyakku. Perlahan-lahan aku berusaha membuka mataku. Dan orang yang ku lihat pertama kali adalah Han. Apa? Jadi ini semua ulah dia lagi? Dasar adik yang menyebalkan.
“Haaaaaaaaann….” Teriakku dengan sekuat tenaga. Sampai-sampai Ibu yang berada di dapur meneriaki ku untuk diam.
“Ara, kok teriak-teriak? Kayak anak kecil aja! Sudah ditunggu nak Tara tuh!” kata Ibu.
Kata-kata Ibu yang terakhir sangat mengagetkanku. Tara? Menungguku? Astaga, jam berapa ini? Ketika ku lihat jam beker di meja, ternyata sudah pukul 09.30 WIB. Oh Tuhan, aku kan janjian sama Tara pukul 09.00 WIB.
“Berarti…” kataku lirih.
“Berarti Bang Tara sudah nunggu lo setengah jam. Dan lu masih bisa santai-santai kayak gini?” kata Han
Kata-kata Han kali ini benar-benar menghantam kepalaku. Rasanya pusing sekali. Aku hanya bisa bengong. Maklum nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.
“Gih, mandi! Gue nggak mau lihat Bang Tara lumutan gara-gara nunguin lu!” kata Han sambil melemparkan handuk ke arahku dan beranjak keluar dari kamarku.
“Dasar curut!” desisku pelan.
Tiba-tiba saja Han kembali dan mengatakan sesuatu padaku.
“Dasar kebo! Emang lu pikir semudah itu ngata-ngatain gue!” kata Han ketus.
Astaga, bagaimana bisa Han mendengar apa yang ku ucapkan? Aku kembali asyik dengan lamunanku dan berbengong-bengong ria.
Brakk… Brakk…
Suara apa lagi ini? Ternyata suara pintu kamarku yang digedor Han.
“Masih mau bengong lagi?” kata Han yang membuyarkan lamunanku.
Setelah sadar bahwa Tara pasti sudah menungguku lama. Aku langsung berhambur keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi aku memakai baju seadanya saja. Aku tidak sempat berdandan jadi yang ku lakukan hanya memoleskan bedak tipis di wajahku dan menguncir rambutku. Setelah selesai bersiap-siap aku langsung menemui Tara. Dan pamit kepada Ayah.
“Yah, aku pergi dulu ya!” pamitku.
“Yah, pinjem Ara dulu ya!” kata Tara tanpa rasa bersalah.
“Pinjam? Emang gue barang? Sembarangan lu!” kataku sambil mencubit lengan Tara.
“Auu… bercanda kali!” Tara mengerang kesakitan.
“Pamit dulu Yah!” kata Tara melanjutkan perkataannya.
“Iya nitip si Ara ya!” kata Ayahku sambil tersenyum.
“Ayah, kok aku kayak barang gini sih? Yang dipinjemlah? Dititipinlah.” Kataku sambil cemberut.
“Hahahahahahah….” Semua orang yang ada di sana tertawa.
“Bang Tara, jaga si kebo ini baik-baik ya. Dia langka lo, susah nyari spesies kayak dia. Entar kalau pulang lecet-lecet Bang Tara bakal berhadapan sama pawangnya.” Kata Han sambil meledekku.
“Siap! Gue pasti jaga kebo lu yang manis ini!” kata Tara sambil tersenyum lebar.
Tuh kan apes banget sih hidup gue hari ini masak disamain kayak baranglah, kebolah. Tapi kebonya kan manis. Semanis-manisnya kebo tapi tetap aja kebo. Dasar curut!! Kenapa juga si Tara ikut-ikutan. Wah bisa mati gaya nih!!
Saat di depan rumah aku melihat motor berwarna hitam, ku pikir kali ini kami akan keluar mengendarai motor. Aku langsung saja berjalan cepat dan memarkirkan tubuhku di samping motor milik Tara.
“Kamu ngapain di situ?” tanya Tara dengan ekspresi bingung.
Ku balas dia dengan ekspresi yang lebih bingung lagi.
Kenapa dia tanya seperti itu? Bukankah kita akan keluar dengan motor ini? Kataku dalam hati.
“Kita naik motor kan?” tanyaku pada Tara.
“Kita jalan kaki aja, ke taman depan gang sana!” jawab Tara sambil tersenyum.
Degg!! Tiba-tiba aku merasakan ada yang berbeda di tanganku rasanya pun lebih hangat. Saat ku lihat, ternyata Tara menggandeng tanganku. Oh Tuhan, ada apa dengan jantungku. Kenapa tak henti-hentinya berdetak. Rasanya tubuhku juga menegang. Dan kakiku rasanya kaku sekali. Yang ku rasakan saat ini hanya rasa bahagia yang tak terbatas. Serasa melayang di udara dan terbang ke awan.
Buuggh! Aduh, Oh Tuhan aku terjatuh. Iya jatuh ke dasar curang. Tapi, tidak! Aku merasakan ada yang memanggilku. Suara itu? Tara? Iya itu suaranya.
“Ara…” kata Tara membuyarkan lamunanku.
“Haa? Eh iya…” jawabku sambil tersenyum malu.
Huuuhh, malu sekali rasanya. Bisa-bisanya aku melamun ngalor ngidul di depan Tara. Setelah itu, Tara kembali menggandeng tanganku.
Jarak beberapa menit, aku dan Tara sampai di taman dan duduk di bangku kosong. Awalnya aku ragu-ragu, tapi apa boleh buat Tara memaksaku.
“Emm… Ra, kamu masih ingat tempat ini kan?” tanya Tara.
“Iya. Dulu waktu kecil kita sering menghabiskan waktu bersama. Kamu sering main bola di sana sama Han. Aku sering di bawah pohon itu sambil bermain masak-masakan sama Ibu dan Mamamu. Terus Ayah dan Papamu sering duduk di bangku ini sambil mengobrol dan sekali-kali tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang mereka bicarakan sampai saat ini pun aku belum mengetahuinya.” Jawabku panjang lebar.
Aku langsung menghentikan penjelasanku ketika ku rasa Tara sedang memerhatikanku. Dan aku yakin saat ini pipiku yang tembem sudah mulai memerah. Kenapa suasananya jadi canggung gini sih?
“Tara, kamu lihat apa sih? Ada yang salah sama aku ya? Penampilanku buruk? Atau…” belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, tiba-tiba saja Tara memotongnya.
“Nggak ada yang salah kok. Aku nggak nyangka aja, gadis kecil yang tembem, lugu dan kurang percaya diri tumbuh menjadi remaja yang cantik, polos, dan percaya diri.”
“Apaan sih kamu? Jangan lihat aku kayak gitu deh? Aku nggak suka!” kataku dengan ketus.
“Wah, kamu salah tingkah ya! Aku kangen ekspresi kamu yang kayak gini, lucu banget!” kata Tara sambil tersenyum lebar dan mencubit pipiku.
“Idih, gombal! Oh iya, baru dua hari ketemu sama Han aja kamu sudah ketularan dia.” Kataku sambil cemberut.
“Haa? Ketularan apa? Memangnya Han sakit apa?” tanyanya penuh dengan kebingungan
“Penyakit parah yang nggak ada obatnya!” jawabku dengan wajah yang serius.
“Kamu serius, Ra?” tanya Tara mulai khawatir.
“Iya serius. Kamu nggak ngerasa ya?” tanyaku balik dengan wajah lugu.
“Emang si Han sakit apa?” tanya Tara dengan wajah yang serius.
“Sakit jahil sama suka motong pembicaraan orang. Hahahaha.” Tawaku puas. Tara hanya bisa melongo kaget dan kemudian ikut tertawa.
“Wah, kamu tambah jahil ya!” katanya sambil menggelitikiku.
Tiba-tiba saja… Buuggghhh! Aku dan Tara hanya bisa diam dan kemudian tertawa lepas. Ternyata suara itu berasal dari bangku yang kami duduki. Karena bangkunya yang sudah reyot, akhirnya bangku itu tidak kuat menyangga tubuhku dan Tara. Kemudian kami memutuskan untuk berpindah tempat. Kami duduk di bawah pohon rindang dan sangat sejuk di dekat danau.
“Sudah lama kita nggak ke sini, semuanya berubah ya!” kata Tara membuka pembicaraan.
“Iya, jadi nggak terawat. Apalagi semenjak Pak Maman pulang kampung.”
“Pak Maman pulang kampung?”

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *