• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Melihatmu Saja Membuatku Bahagia

“Teet! Teet! Teet!” bel sekolah berbunyi tandanya pulang sekolah. Semua murid SMA Sinar Harapan berhamburan kegerbang sekolah. Semuanya tampak sangat gembira, kenapa tidak mereka sudah selesai belajar. Ini adalah tanda agar mereka segera pulang dan bisa beristirahat di rumah masing-masing. Tina yang merupakan salah seorang siswi SMA Sinar Harapan juga segera pergi meninggalkan sekolah itu.
Tina mendorong sepedanya melewati gerbang, dan kemudian mulai mengayuh sepeda merah muda dengan keranjangnya itu. Saat yang bersamaan pula, Rendi yang merupakan siswa yang paling keren di SMA tersebut juga sedang berjalan pulang menuju rumahnya.
Tina memang sudah lama memendam kekagumannya pada Rendi, memangnya wanita mana yang kuat dengan pesona seorang Rendi? Selain Rendi itu tipe cowok yang tampan namun cuek dengan semua wanita.
Tina berpapasan dengan Rendi, seperti kebiasaan cowok keren pada umumnya, Rendi hanya diam dan tampak dingin, padahal Tina sudah secara terang-terangan memperhatikan Rendi. Tetap saja Rendi cuek dan tak perduli.
Tina hanya senyum dan terpesona melihat sifat dingin Rendi. Dalam hati Tina tidaklah mengapa jika dia cuek padaku yang penting Tina masih bisa melihatnya walaupun hanya sekedar saja.
Tina langsung mengayuh sepedanya dengan lebih cepat, ia ingin segera menulis kejadian saat berpapasan dengan Rendi di buku diarynya. Tina merupakan seorang gadis yang suka menulis diary, terutama jika ada kejadian yang berkesan.
Sesampainya di rumah Tina berlari dan segera masuk kekamarnya. Tina mengunci pintu kamarnya dan langsung terjun ke kasur empuknya, ia juga memeluk guling kesayangannya.
Ia tak henti-hentinya tersenyum dan berguling-guling kesana kemari, ia selalu terbayang dengan kejadian waktu ia berpapasan dengan Rendi itu.
Tina lantas bangkit dari kasurnya dan mengambil sebuah buku yang berada di dalam lemarinya, lalu menuliskan setiap detail kejadian yang indah itu.
Setelah lelah menulis buku diarynya, Tina meloncat lagi kekasurnya dan memeluk kembali gulingnya, Tina menganggap guling itu adalah Rendi. Tina makin erat memeluk gulingnya itu sembari membayangkan hal-hal yang menyenangkan tentang Rendi. Hingga Tina ketiduran dan membawa semua khayalannya itu ke alam mimpi.
Keesokan harinya, ketika mentari memancarkan sinarnya dengan tak kenal lelah, Tina sedang mengayuh sepeda berangkat kesekolah. Angin yang lembut menerpa wajah Tina dan menerbangkan beberapa helai rambutnya. Tina juga melihat Rendi yang sedang berangkat kesekolah. Angin yang berembus itu membuat beberapa dedaunan beterbangan dan tampak Rendi memejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya. Saat itu Rendi tampak tersenyum, dia sepertinya sangat menyukainya. Tina hanya memandangi Rendi dari jauh tanpa menyapanya karena Tina takut mengganggu Rendi.
Tanpa Tina sadari ada seorang anak kecil yang tiba-tiba menyebrangi jalan. Tina jadi sangat panik, dan berusaha menghindari anak kecil itu.
Saat berusaha menghindar Tina menabrak pembatas jalan dengan trotoar. Karena tabrakan itu Tina terjatuh dan membuat kakinya terkilir. Tina berusaha berteriak dan meminta tolong.
Rendi yang memang dekat dengan lokasi Tina terjatuh langsung mendatangi Tina dan menanyainya dimana letak luka Tina. Perasaan Tina bercampur aduk antara kesakitan dan kegirangan,
Tina lalu menunjukkan kakinya. Rendi dengan sigap mengangkat tubuh mungil Tina dari trotoar dan mencari Rumah Sakit terdekat. Wajah Tina jelas saja memerah karena malu. Rendi tampak sangat keren dari dekat dan sikapnya juga manis batin Tina. Setelah beberapa lama berjalan akhirnya Rendi menemukan rumah sakit terdekat dan langsung memberikan Tina kepada perawat agar di berikan pertolongan pertama. Sebelum Rendi menyerahkan Tina ke Perawat, Perawat itu sempat tersenyum dan bertanya apakah mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tentu saja dengan wajah datar Rendi menjawab bukan.
Namun, hal itu membuat hati Tina berbunga-bunga, berarti itu merupakan tanda bahwa mereka cocok jadi pasangan, itulah pikiran Tina.
Rendi juga menelpon Ibunya Tina untuk mengurusi Tina. Kemudian setelah Ibunya Tina datang Rendi langsung pamit pulang untuk pergi kesekolah.
Setelah seharian lamanya Tina dirumah sakit, Tina langsung sudah bisa pulang. Namun, Tina masih memerlukan tongkat untuk membantunya berjalan. Tina juga bersikeras pergi kesekolah setelah sembuh. Ibu Tina yang merasa cemas dengan keadaan anaknya hanya bisa pasrah dan mengiyakan kemauan Putrinya itu karena melihat sikap Tina yang begitu keras kepala.
Tina pun di antarkan Ibunya dengan menggunakan mobil pribadi. Tina tampak keluar mobil dengan tongkat, sebenarnya Tina pergi kesekolah untuk melihat Rendi, dia juga ingin berterima kasih pada Cowok itu.
Tina mulai melangkah sambil celingak-celinguk mencari Rendi. Namun, Rendi tak kelihatan batang hidungnya. Dengan menghela nafas panjang Tina pun melangkah masuk kekelasnya.
Saat waktu istirahat tiba, Tina langsung pergi mencari Rendi lagi. Dia tampak pantang menyerah, Tina sampai-sampai mengelilingi gedung sekolah.
Hingga akhirnya Tina melihat Rendi dibelakang gedung sekolah. Rendi tampak sedang berteduh di bawah pohon rindang dengan memegangi sebuah gitar.
Rendi kemudian mulai memetik gitarnya, dia memainkan lagu yang berjudul ‘cinta untuk starla’ dari Virgoun.
Suara merdu Rendi berpadu dengan angin segar yang berembus membuat suasana menjadi sangat indah. Tina tak berhenti menatapi Rendi sambil terpaku, dia sangat terpesona melihat Rendi bermain gitar dan menyanyi.
Saat sedang bernyanyi tiba-tiba saja Rendi berhenti, ia sadar bahwa ada yang memeperhatikannya sedari tadi. Dan Rendi melihat Tina yang sedang tersenyum-senyum memandanginya. Tina segera mendekati Rendi dan mengatakan maksudnya mencari Rendi, bahwa Tina ingin berterima kasih pada Rendi karena sudah menolongnya kemarin.
Rendi masih tampak cuek dan dingin, dia hanya berdehem yang bermaksud menerima ucapan terima kasihnya Tina.
Tak lama setelah itu bel berbunyi lagi menandakan pelajaran akan dimulai lagi. Tina dengan tergesa-gesa langsung melangkahkan kakinya, dan tak sadar kalau kakinya masih sakit membuat Tina hampir saja terjatuh. Untung saja masih ada Rendi yang dengan sigap memegangi pinggang Tina. Membuat suasana bak adegan layaknya film drama Korea yang romantis.
Mata Rendi dan Tina bertemu, lagi-lagi Tina memandang wajah Rendi dari jarak yang sangat dekat membuat wajah Tina kembali memerah. Rendi tambah mendekatkan wajahnya kewajah Tina dan mulai menghela nafas. Bagaikan angin yang segar, nafas Rendi sangat wangi sepertinya dia sedang memakan permen rasa mint kesukaannya yang membuat nafasnya sangat segar.
Tina sangat suka mencium bau nafasnya Rendi. “Kalau tahu kakimu sedang sakit kenapa masih berjalan-jalan?” Tanya Rendi pada Tina. Sepertinya Rendi masih mengkhawatirkan kakinya Tina yang masih sakit.
Dengan tersipu malu Tina hanya tersenyum. Rendi menatapnya dan mulai membopong Tina hingga sampai kekelasnya Tina. Semua siswa yang melihat kejadian itu berteriak seolah tak rela kalau Rendi mengantarkan Tina, semua orang terkejut.
Tina hanya tersenyum bangga sedangkan Rendi, yah masih saja dengan ekspresi datarnya seolah tak perduli.
Setelah beberapa hari berlalu dan Tina kini sudah bisa berjalan normal tanpa harus menggunakan bantuan tongkat. Tina dengn senyum sumringah berjalan kesekolah. Dia tak sabar ingin membuat kejutan untuk Rendi.
Saat istirahat tiba Tina datang kekelasnya Rendi dan mengajak Rendi ke taman dekat sekolah ketika pulang sekolah nanti. Rendi hanya mengangguk tanda setuju.
Tina tentu saja sangat bahagia dan berdebar menantikan pulang sekolah. Hari itu Tina tak fokus pada sekolah, dia hanya ingin segera cepat pulang dari sekolah.
Akhirnya saat yang sangat di nanti-nanti Tina datang juga, bel sekolah berbunyi. Tina bergegas langsung mengemasi barang-barangnya dan segera pergi ketaman dekat sekolah.
Saat Tina sampai kelihatan Rendi yang sudah sampai duluan. Hati Tina kian berdebar dan mulai mendekati Rendi yang sedang membelakanginya itu.
Tina ingin mengatakan hal itu dalam satu hembusan nafas saat Rendi berbalik nanti. Rendi pun mulai membalikkan badannya karena merasa ada yang seseorang berada di belakangnya.
Tina mulai menarik nafas panjang. Di saat yang bersamaan, Rendi tepat berhadapan dengan Tina dan Tina langsung mengucapkan perasaannya kepada Rendi.
“Rendi maukah kamu menjadi pacarku?” Tanya Tina dengan menyodorkan sebuah surat pada Rendi. Senyum yang sangat tipis terlihat diwajah yang dingin itu. Tina masih terlihat malu dan mematung menunggu jawaban Rendi.
“Apakah surat ini dapat kubaca kalau aku menerimamu sebagai pacarku? Jika aku menolakmu maka aku tidak bisa membaca surat itu?” Tanya Rendi dengan menaikkan satu alisnya.
Tina mulai mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi Rendi dan mulai berbicara, “Tidak. Surat ini akan tetap kuberikan apapun jawabanmu.”
Rendi mulai mendekati Tina dan menjawab pertanyaan Tina tentang mengajaknya pacaran itu.
“Maaf aku tak bisa menerimamu sekarang dan tak bisa mengatakan alasannya. Apakah kau terima jawabanku ini?”
“Deg!” perasaan Tina hancur berkeping-keping, air mata mulai mengucur di pipinya Tina ditambah lagi tubuh Tina bergetar hebat seolah tak percaya dia ditolak. Rendi lalu mengambil surat pemberian Tina dari tangannya Tina dan langsung berlalu meninggalkan Tina.
Tangisan Tina tak terbendung lagi, dia terisak-isak dan jatuh berlutut. Cintanya baru saja ditolak, mungkin selama ini Tina hanya baper sendiri dengan semua sikap manis Rendi. Tina menangis dengan sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Setelah Tina sudah puas menangis, Tina menyeka air matanya dan mulai bangkit lagi. Kemudian dia menarik nafas panjang untuk menguatkan diri.
Menurut Tina mungkin sekarang Tina ditolak tapi suatu saat nanti Tina pasti bisa mendapatkan Rendi. Hanya perlu bersabar saja.
Rendi yang sudah sampai di rumahnya kemudian mulai membuka surat pemberian Tina. Ternyata isi suratnya adalah sebuah puisi yang menjelaskan bahwa sampai kapan pun Tina tak akan pernah berhenti menyukai Rendi dan tak akan lelah mengejar cintanya maskipun itu harus berpeluh darah dan melalui bara api.
Saat membaca puisi bucin Tina, Rendi tampak tersenyum lebar. “Kau gadis yang sangat lucu. Memang saat ini aku belum menyukaimu, tapi entahlah kalau hari-hari yang akan datang. Hingga waktu itu tiba nanti, kumohon bersabarlah!” Ucap Rendi dalam hati.

laucyanmo (6)

Seorang mahasiswi di universitas negeri yang bercita-cita membukukan hasil karya tulisannya

BACA JUGA :   Mimpi sang Dara
Bagikan Yok!

laucyanmo

Seorang mahasiswi di universitas negeri yang bercita-cita membukukan hasil karya tulisannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *