• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

(Cerpen) Petualangan Malam Si Jahanam

ByYudhaWardhana

Jul 23, 2021

Dia beraksi lagi, entah untuk yang keberapa kali. Bukan untuk unjuk kekuatan. Bukan pula untuk memburu ketenaran. Dia lakukan semuanya demi satu kata: HIDUP. Dia rela mempertaruhkan hidupnya demi hidup.

Dia dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan papa, tanpa uang sepeserpun, tidak juga mendapat jatah subsidi mapun harta warisan. Kondisi inilah yang membuatnya tak mempunyai banyak pilihan. Hingga ia merasa harus memutihkan yang hitam.

Baginya, inilah petualangan paling mengesankan walau akan selalu ada yang merasa dirugikan.

“Aaaahh… setan alaaaaas! Kurang ajaaaar!”

“Bedebah! Bangsat! Maling sialan! Jahanam!”

“Hhhhh…. Awas yo nek sampai ketahuan. Nggak ada ampun-ampunan. Akan kutangkap dan kucincang cincang tubuhmu, maling jahanam.”

Orang-orang melontarkan makian, sumpah serapah, hingga ancaman pembantaian. Namun lagi-lagi ia merasa tak perlu mempedulikan segala macam ocehan mereka. Toh mereka juga tidak akan pernah bisa dimintai pengertian apalagi belas kasihan. Akhirnya ia putuskan untuk segera melenggang sambil membawa hasil curiannya.

Inilah kepuasan hidupnya. Tiada yang lebih indah buatnya selain menikmati akhir petualangan malamnya yang gilang gemilang.

***

Orang-orang semakin geram. Ada amarah yang siap termuntah. Musyawarah di balai desa pun digelar. Mereka menyatukan visi dan menyamakan strategi.

Akhirnya suara mereka menyatu, bersepakat untuk membinasakan si jahanam. Mereka sepakat untuk mengabaikan ancaman pasal 355 ataupun pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Hati mereka sudah merasa sangat terluka dan terhina. Harga diri mereka serasa diinjak-injak, dipermainkan, dilecehkan. Mereka ingin menuntut kembalinya hak asasi atas rasa aman.

Selanjutnya para penduduk merancang strategi perang. Mulai dari melakukan pengintaian menyiapkan jebakan, hingga mengasah berbagai senjata tajam. Penyusunan formasi dan pembagian tugas tak lupa ditata serapi-rapinya.

BACA JUGA :   Sejarah kota Pekalongan

Rapat itu akhirnya berakhir. Panasnya matahari seolah-olah semakin memanaskan semangat tempur mereka. Di dalam kepala mereka telah terpatri kalimat: Bantai si Jahanam.

***

Malam tiba. Mereka sudah siaga. Perangkap telah dipasang di berbagai sudut ruangan. Senjata-senjata tajam seperti golok, parang, belati, pisau, pedang pendek, tombak, dan juga bambu runcing tergenggam di tangan. Suasana perang tercipta laksana pertempuran di era penjajahan.

Setelah beberapa jam terlintasi hingga fajar pun menjelang, tak ada tanda-tanda kehadiran musuh besar mereka. Rasa heran dan kecewa mulai berkecamuk di dada. Mungkinkah si pencuri itu telah mengetahui adanya rencana pembantaian? Tahu darimana?

Namun orang-orang itu masih penasaran dan berusaha untuk bertahan. Mereka terus waspada, tidak mau terlena. Karena itu mereka tetap memberlakukan siaga satu hingga beberapa malam.

Sayangnya, setelah melewati tujuh malam, tetap tidak ada tanda-tanda kemunculan si jahanam.

“Jangan-jangan, dia sudah mati,” duga salah seorang penduduk.

“Hmmm…, atau mungkin juga dia sudah tidak ke desa kita lagi, sudah pindah,” timpal yang lain.

“Yaa… mudah-mudahan aja dia benar-benar tidak muncul lagi di desa kita ya Kang. Biar penduduk tidak resah lagi.”

Harapan diapungkan. Siaga malam dihentikan. Para penduduk kini sudah merasa aman, terbebas dari pencurian.

***

Malam purnama tiba. Cahayanya yang terang membuat suasana tengah malam menjadi lebih ceria. Meski demikian, penduduk desa lebih memilih untuk menikmati pembaringan.

Saat itulah, sesosok mungil mengendap-endap memasuki rumah seorang warga. Dialah si pencuri jahanam yang selama ini jadi incaran. Dia kembali melakukan petualangan malam di desa yang orang-orangnya sangat ingin membinasakannya.

Dengan tangkas dia menuju ruang tepat penyimpanan makanan. Kali ini, sekerat daging menjadi sasarannya.

BACA JUGA :   Jangan Pernah membohongi orang lain

Dengan leluasa dan tanpa menimbulkan banyak suara dia bergerak dan melarikan hasil jarahan. Dia merasa aman. Tak ada yang memergoki aksinya. Karena itu ia segera bergerak menjauh dari rumah korban.

Namun ia tak menyadari sebuah bahaya besar tengah mengancam jiwanya. Sepasang mata tajam mengawasi dari tempat tersembuyi.

Saat si pencuri yang belum habis menikmati barang curiannya itu lengah, kuku-kuku tajam mencengekeram tubuh mungilnya. Tak sempat lagi ia meloloskan diri. Dia tak bisa lagi memohon ampunan. Dia hanya bisa bersuara,”Ciiiiit… ciiiit….ciiiiiiit….”

Akhirnya tibalah juga ajalnya. Riwayat petualangan si tikus pencuri itu berakhir sudah. Hukum rantai makanan membuatnya tewas di ujung gigi-gigi runcing seekor kucing.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *