• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

BOOM!

ByYudhaWardhana

Jul 23, 2021

BOOM…! BOOM…! Little boy, bom uranium yang bebobot 64 kilogram dijatuhkan. Daya ledaknya mencapai 15 Kiloton TNT. Hasilnya menorehkan catatan kelam dalam sejarah  peradaban sebuah bangsa. Dua kota hancur, luluh lantak. Ratusan ribu nyawa melayang menjadi korban ganasnya perang. Itulah bagian akhir dari sebuah episode bertajuk Perang Dunia II. Negeri itu lumpuh total. Diperkirakan, perlu sekitar lima puluh tahun untuk menormalkan keadaan.

Penguasa negara yang menaungi kedua kota itu berusaha tenang menatap masa depan. Satu pertanyaan yang terlontar kepada para bawahannya, ternyata bukan soal berapa nilai kerugian secara materiil yang ditimbulkan dari peristiwa tragis tersebut  Tetapi inilah yang ditanyakannya, “Berapa jumlah guru yang masih hidup?”

Tak pelak, pertanyaan sang penguasa itu membuat para jendralnya bingung. Dalam kondisi perang, mengapa bukan masih seberapa kekuatan militer yang dimiliki, atau mendiskusikan strategi untuk melancarkan serangan balasan kepada lawan. Mengapa guru yang dicarinya?

“Kami masih bisa melindungi anda meski tak seorang gurupun yang masih tersisa,” tegas seorang Jendral.

Namun penguasa negeri itu tak goyah dengan pertanyaannya, “Kita kalah bukan karena lemah dalam senjata dan strategi perang. Kita kalah karena tidak belajar. Kita bodoh sehingga tidak tahu bagaimana bisa membuat bom sedahsyat itu. Kalau kita tidak bisa belajar lagi, bagaimana bisa maju atau setidaknya mengejar ketertinggalan dari mereka? Sekarang, kumpulkanlah semua guru yang tersisa di seluruh pelosok negeri ini, karena kepada merekalah kita akan menumpukan harapan, bukan lagi pada kekuatan perang.”

Sampai disini aku merenung. Aku memang bukan bagian dari generasi yang hidup di tahun 1945. Tetapi membaca jejak sejarah selalu memberiku asupan energi, meski tak jarang pula membuatku sedih. Bahkan belakangan ini aku kerap dihantui perasaan bersalah dengan jalan yang telah kupilih selama tiga puluh tahun. Menjadi guru, salahkah?

BACA JUGA :   DI SUJUD MALAM KUCARI IMAMKU

Entahlah. Mungkin aku memang terlalu terpengaruh dengan berbagai predikat penghormatan terhadap para guru. Banyak yang berujar bahwa guru adalah profesi mulia, pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan ada seorang penguasa negara yang menjadikan guru sebagai orang-orang penting untuk membangun bangsanya dari ketertinggalan.

Tetapi kisah mengharubiru itu bukan di sini. Itu adalah bagian dari kisah sejarah Jepang pasca tragedi bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Kaisar Hirohitolah yang saat itu berpandangan bahwa kelompok orang yang pertama kali harus dikumpulkan untuk memulihkan dan membangkitkan bangsa Jepang adalah guru.

Kalau di Indonesia? Sekian kali berganti kepala pemerintahan, yang paling dicari dan dinantikan kehadirannya tetaplah para investor dan developer, bukan guru macam diriku ini. Ya…, mungkin negeri ini jauh lebih membutuhkan investasi uang daripada ilmu untuk membangun masa depannya. Mungkin pula bangsa ini lebih bersemangat membangun infrastruktur-infrastruktur fisik daripada menumbuhkan budaya belajar.

Belum lagi kalau bicara soal kesejahteraan. Aku adalah seorang guru honorer di sebuah madrasah. Penghasilan mengajarku adalah 65 ribu rupiah. Bukan per jam, bukan pula per hari, tetapi per bulan. Memang sangat njomplang kalau dibandingkan dengan bayaran seorang artis penyanyi dangdut yang konon mencapai 100 juta per jamnya. Padahal dari sisi resiko, menjadi guru, terlebih di zaman sekarang, resikonya mulai dari sekadar diberhentikan karena memberi nilai di bawah KKM sampai dipenjarakan gara-gara menegakkan kedisiplinan. Sedangkan artis seperti punya imunitas. Apa pernah ada pedangdut dipenjara gara-gara goyangan aduhainya?

Kalau ditanya apakah aku cukup dengan penghasilan segitu, jawabanku tentu saja uang segitu tidak cukup untuk menopang hidup bersama keluarga. Ya bisa apa dengan 65 ribu per bulan?

BACA JUGA :   Please Deh, Jangan Langsung Potong Pembicaraan Kalau Sementara Diskusi

Untuk menambal kekurangannya agar bisa dicukup-cukupkan, aku juga bekerja serabutan. Ya kerja apa saja yang penting halal dan uangnya bisa buat mencukupi kebutuhan harian. Kadang diminta bantu jadi tukang kebun, kadang ada yang minta tolong bersih-bersih, ya apa sajalah.

Bukan bermaksud mengeluh dan tak bersyukur, tapi terkadang aku merasa miris dengan nasib guru honorer sepertiku. Menurutku, biarpun honorer tetaplah guru. Sebuah profesi yang sangat menentukan nasib sebuah bangsa sekian generasi berikutnya. Di tangan gurulah bisa lahir generasi-generasi cerdas. Sudah selayaknya guru honorer mendapat perhatian lebih layak terutama dari sisi kesejahteraan. Sedih rasanya jika orang-orang yang semestinya dimuliakan ini harus identik dengan kemiskinan. Seolah-olah jika ada guru yang tampak agak kaya akan langsung diberi cap sebagai pengajar materialistis dan tidak tulus dalam mengabdi. Apakah di negeri ini yang boleh hidup sejahtera hanya pegawai negeri, pejabat, wakil rakyat dan artis? Sedangkan guru hanya bisa diakui jasa-jasanya jika hidup serba kekurangan? Inikah arti Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia?

Terlebih lagi pada saat-saat seperti ini. Masa-masa yang mungkin sama mencekamnya dengan suasana tahun 1945. Bedanya, jika di tahun 1945 diliputi suasana Perang Dunia II yang berujung pada proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, tahun 2020 dihantam  pagebluk gara-gara virus Corona. Konon katanya, wabah Corona ini akan membuka jalan menuju Perang Dunia III. Benarkah?

Ah, entahlah, Akan jauh lebih pening kalau aku memikirkan soal kemungkinan terjadinya Perang Dunia III. Macam sinetron saja yang bisa sampai berjilid-jilid. Sekarang saja, aku sudah dibuat pusing karena kehilangan segalanya. Sekolah-sekolah diliburkan entah sampai kapan. Kerja serabutan juga tak menghadirkan penawaran karena mengikuti anjuran agar lebih banyak di rumah. Jadilah semua sumber penghasilanku luluh lantak. BOOOOOOM…!

BACA JUGA :   Vaksinasi Covid-19 Provinsi Bengkulu Capai 59,59%

Dan lagi-lagi guru, terutama yang honorer sepertiku, tidak termasuk dalam barisan terdepan untuk diselamatkan. Yang disebut-sebut adalah tukang ojek online, tukang parkir dan juga  pedagang asongan. Guru honorer semakin terlupakan dari ingatan orang-orang di atas sana. Apa mungkin karena mereka mengira semua guru sudah sejahtera hidupnya? Aaaaaah! Ruwet! Ruwet! Ruwet!

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *