• Jum. Jul 30th, 2021

Tantangan Bonn , Restorasi lahan dan Perubahan Iklim

Byirfan miswari

Jul 22, 2021

“ Saat ini dunia  menghadapi tiga krisis alam yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi. Tanah menjadi pusat dari ketiganya.– Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Amina J. Mohammed.

Negara-negara anggota PBB mengesahkan Agenda 2030 dan berkomitmen untuk mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berisi 17 Tujuan Global, dalam periode 15 tahun. Salah satu Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 berisi target dan indikator terkait lahan di bawah SDG 1, 2, 5, 11 dan 15. Banyak organisasi dan pemangku kepentingan lahan berkomitmen untuk sepenuhnya menerapkan SDG dan memantau indikator terkait lahan untuk mempromosikan tanggung jawab tata kelola tanah. Tanah merupakan sumber daya lintas sektoral  yang  penting untuk mencapai SDGs.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi tanah saat ini secara perlahan mengalami penurunan kualitas ( degradasi ). Penurunan kualitas tersebut menjadi salah satu masalah yang cukup serius untuk segera ditangani mengingat fungsi tanah memiliki hubungan kuat dengan aktivitas manusia, tumbuhan dan hewan.  

Penggunaan lahan secara berlebihan dan konversi untuk pertanian, kota dan infrastruktur telah mengakibatkan  seperlima dari luas daratan planet ini terdegradasi. Dunia perlu segera memulihkan tanah yang rusak  di wilayah daratan yang setara dengan ukuran Negara China pada tahun 2030 karena beban untuk memberi makan penduduk dunia yang diperkirakan akan mencapai 9,7 milyar jiwa , membatasi polusi, dan memenuhi tujuan global untuk mengatasi perubahan iklim.

Laporan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian mendesak pemerintah negara – negara anggota PBB, kelompok  bisnis dan masyarakat luas untuk memenuhi janji yang telah mereka buat berdasarkan perjanjian sebelumnya termasuk komitmen  memulihkan lahan terdegradasi yang mencakup setidaknya 1 miliar hektar (2,4 miliar hektar) . Lahan tersebut meliputi pertanian, hutan, padang rumput, pegunungan, bahkan perkotaan.

BACA JUGA :   Cara Menulis Artikel SEO

Kerusakan lahan tersebut  mendorong terjadinya kekeringan dan penggurunan, merugikan mata pencaharian hampir separuh populasi planet ini dan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi yang memicu terjadinya perubahan iklim.


Kini umat ​​manusia menghadapi tugas berat untuk membalikkan perubahan iklim dan sekaligus melindungi alam.  Komunitas internasional dituntut mencari solusi yang cepat dan sederhana untudapat dapat memperlambat kenaikan suhu , memulihkan alam dan menjaga keanekaragaman hayati,  ditengah  pandemi covid 19.

Restorasi lahan yang terdegradasi memang bukan upaya tunggal yang bisa menyelesaikan tantangan perubahan iklim. Restorasi lahan tidak bisa melakukan semuanya. Dunia membutuhkan reformasi kebijakan  yang lebih luas dan strategis untuk bertindak. Kita perlu  mengubah sistem energi dan transportasi, reformasi pertanian, memikirkan kembali bagaimana kita memproduksi dan mengkonsumsi sumber daya, menemukan cara untuk memperluas kota dan infrastruktur tanpa merusak alam dan banyak lagi.

Bonn Challenge atau Tantangan Bonn merupakan inisatif  pemerintah Jerman yang diluncurkan pada tahun 2011  untuk restorasi lahan global . Komitmen Bonn  bertujuan agar 350 juta hektar lahan hutan terdegradasi akan direstorasi pada tahun 2030. Sedangkan informasi dari Kementrian Lingkungan Hidup ada sekitar 14 juta lahan di Indonesia yang telah terdegradasi.

Degradasi lahan mempengaruhi kesejahteraan sekitar 3,2 miliar orang, atau 40% dari populasi dunia.Pengeluaran tahunan global untuk melindungi dan memulihkan alam di darat perlu tiga kali lipat menjadi sekitar $350 miliar pada tahun 2030 dan meningkat menjadi $536 miliar pada tahun 2050.

Setengah dari pertumbuhan ekonomi dunia bergantung pada alam, Tim UNEP menambahkan bahwa untuk setiap $1 yang diinvestasikan dalam restorasi lahan dapat menciptakan manfaat ekonomi senilai 30 US Dolar. Sementara investasi di bidang pertanian, perlindungan mangrove dan pengelolaan air akan membantu manusia dan alam beradaptasi dengan perubahan iklim, dengan manfaat sekitar empat kali lipat dari investasi awal, katanya.

BACA JUGA :   Pantai Wisata Ujong Blang

Andrea Hinwood, kepala ilmuwan di UNEP, mengatakan pandemi COVID-19 telah mendorong minat publik terhadap perlindungan alam, dan paket pemulihan ekonomi merupakan peluang untuk berinvestasi di dalamnya.

Namun sejauh ini, hanya di bawah seperlima dari pengeluaran stimulus dapat dicirikan sebagai hijau, kata laporan PBB. Perusahaan dan pemodal juga harus meninjau kegiatan dan investasi mereka untuk membuat rantai pasokan lebih berkelanjutan.

Irfan Miswari, Direktur Jendela Desa Indonesia.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *