Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Paradoks Industri Pakaian : Pertumbuhan Ekonomi atau Keberlanjutan

Sebagai seorang wanita , belanja pakaian merupakan tuntutan mode atau trend yang sedang berkembang. Mungkin banyak kaum hawa seperti saya ketika membeli pakaian atau hijab dan aksesoris lainnya tidak membayangkan mengenai dampak lingkungan sesudahnya.

Saya sendiri cukup terkejut ketika membaca artikel dan literatur mengenai dampak buruk yang ditimbulkan oleh pabrik tekstil dan garment. Ketika saya berkunjung ke pabrik Kahatex dan Dewhirst pada tahun 2015, saya disuguhi pemandangan deretan truk container yang membawa benang dari Negara China dan Truk pengangkut batu bara yang didatangkan dari Kalimantan melalui Pelabuhan Cirebon.  Panjang sekali perjalanan untuk membuat sebuah pakaian.

Wajar, rantai pasok industri pakaian yang panjang ini membuat para ahli lingkungan hidup menempatkan industri fesyen berada  di urutan kedua setelah industry minyak sebagai industri yang paling mencemari lingkungan. Bisnis fesyen dunia menjadi sumber efek rumah kaca yang sangat besar. Produksi tekstil mengeluarkan setara dengan 1,2 miliar ton karbondioksida atau CO2 pada tahun 2015. Jumlah ini hampir sama dengan emisi yang dihasilkan 300 pembangkit listrik tenaga batu bara dalam satu tahun.

Sementara jika dihitung dengan kebutuhan serat alam yang dihasilkan dari hutan, para ahli menghitung lebih dari 3,2 miliar pohon ditebang setiap tahun – 95 pohon setiap detik, lebih dari 5.000 setiap menit dan lebih dari delapan juta batang  setiap hari, Disisi lain,  industri fesyen   ini juga menguras sumber daya air dunia. Diperkirakan 79 miliar meter kubik air dikonsumsi setiap tahun dalam segala hal mulai dari menumbuhkan dan memproduksi serat hingga mewarnai, finishing, mencuci pakaian dan mendistribusikannya ke konsumen di pasar lokal hingga global.

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi Bab 41

Mahalnya biaya recovery atau perbaikan lingkungan  yang harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah pun ternyata cukup besar.  Di samping kekeringan , sawah dan kebun milik masyarakat yang bertani di sekitar pabrik tidak lagi dapat ditanam karena tercemar limbah pabrik. Di musim hujan mereka berhadapan dengan fenomena perubahan iklim lainnya yaitu banjir. Revitalisasi DAS Citarum harum tempat mengalirnya limbah – limbah pabrik tekstil telah menghabiskan puluhan triliun rupiah.

Tuntutan Sustainable fashion pada dasarnya didasarkan pada nilai moralitas bahwa fesyen semestinya menjadi suatu industri yang memiliki “value” atau nilai selain uang. Fashion Business bergulir dengan profit yang amat besar, melibatkan jutaan buruh namun belum mampu membangun ekonomi masyarakat dan daerah secara signifikan.  Industri Fashion selama ini sesungguhnya melupakan etika lingkungan. Mulai dari kultur tanaman serat yang tidak ramah lingkungan, sampai masalah penanganan limbah yang tidak dapat ditangani dengan baik dan berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan sungai yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan alam.

Gerakan sustainable fashion menggema semakin nyaring belakangan bersamaan dengan promosi Sustainable Development Goals (SDG) oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Dalam SDG, terdapat tujuh belas aspek yang berprinsip dasar “memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengganggu hak generasi masa depan untuk hidup dengan berkualitas.” Ruang publik kini beramai ramai menggunakan kaca mata SDG dalam berbagai aspek. Katakanlah dalam ranah fesyenforum-forum internasional seperti Copenhagen Fashion Summit, Sustainable Fashion Forum, dan getredress secara aktif melakukan kampanye untuk menyajikan fakta kelam dalam industri mode dengan tujuan mengubah pola pikir produsen dan konsumen mengenai industri tersebut. 

Kami percaya bahwa industri fashion Indonesia khususnya, sudah sepatutnya meningkatkan perkembangan ekonomi tanpa berkompromi dengan kesejahteraan manusia dan juga kelestarian lingkungan. Karena, perkembangan tanpa ada keseimbangan dari aspek “people, planet, profit” hanyalah kemajuan semu yang menciptakan kerugian tak terhingga di kemudian hari.

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi Bab 37

Keberlanjutan ekonomi diperlukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan berusaha memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab yang mendukung keuntungan yang stabil dan membangun profitabilitas bagi semua stakeholder . Namun demikian, pertumbuhan ekonomi dan pengambilan keuntungan  diperlukan sampai batas tertentu bagi orang untuk menangani masalah selain kebutuhan murni untuk bertahan hidup.

Irfan Miswari, Direktur Jendela Desa Indonesia

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: