Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mimpi yang Indah! II

Cerpen karya Laucyanmo.

PART 2:
Makhluk aneh yang lain lalu melepaskan belenggu wanita itu dan membawanya di sebuah ruangan. Wanita itu terkejut dan langsung berteriak penuh histeris saat mendengar hukumannya. Saat di lepaskan belenggunya juga dia mencoba memukul makhluk aneh itu dan mencoba kabur, tapi naasnya pukulannya sama sekali tak mempan. Makhluk aneh itu sungguh kuat dan kebal. Dengan kasar makhluk itu lalu menyeret wanita itu dengan paksa ke ruangan yang di maksud bosnya. Dan tentu saja ruangan itu tampil di layar besar. Semua orang yang menyaksikan kematian perlahan wanita itu pasti sangat sedih, karena saat tengah diiris perlahan, dia selalu menangis dengan nada yang pilu. Kami semua menangis tak tega sambil terus di paksa untuk berpikir. Dan ketika pandanganku teralihkan oleh kursi kosong karena orang yang mendudukinya sudah di eksekusi mati aku sangat terkejut, setiap kursi yang kosong tadi selalu di gantikan dengan orang yang baru. Aku mencoba memejamkan mata dan berkonsentrasi, tapi tetap saja buntu. Aku malah mendapatkan jawaban-jawaban klise seperti air, oksigen, keabadian, wanita, tahta, dll. Dimana semua jawaban itu sudah dipakai orang-orang yang ditanya sebelum aku. Tapi tetap jawabannya salah semua. Dan mereka di siksa secara sadis dimulai dari dikuliti, di congkel matanya, di patahkan satu-satu tulangnya, di cabuti kukunya, di jambak rambutya hingga kulit kepalanya lepas, dan penyiksaan sadis lainnya. Semua hukuman itu sangat mengerikan tapi yang paling menyakitkan adalah hukuman bagi orang-orang yang tidak menjawab sama sekali, karena mereka akan di bunuh secara perlahan. Dan makhluk-makhluk aneh itu sepertinya menikmati masa dimana kami ketakutan, kebingungan dan saat orang-orang di eksekusi mati. Hingga akhirnya tibalah giliranku untuk menjawab. Dia bertanya, “apa yang paling manusia inginkan?” mataku tak pernah beralih dari makhluk aneh itu. Secara dekat saja wajahnya tampak hanya setengah wajah saja dan yang lain samar karena tudung kepala yang di kenakannya memancarkan hawa hitam pekat. Bau makhluk aneh itu sangat menyengat, seperti bau busuk darah yang telah lama mengering, amis. Kulitnya seperti berair dan berlendir, mulutnya membusuk setengah dan tubuhnya tinggi tapi bungkuk. Kemudian aku menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba sadar dari lamunanku untuk segera menjawab pertanyaan makhluk aneh di hadapannya ini. Dia tampak tak sabar dan berteriak, “bawa dia―” “Tunggu!” aku menyela perkataannya dengan cepat. “Yang manusia sangat inginkan adalah kehidupan,” aku mengucapkannya dengan lantang dengan penuh tergesa-gesa. Irama nafasku tidak stabil masih menggebu-gebu. “Iya, iya, kehidupan.” Ucapku lagi. Seketika raut wajah makhluk itu berubah, dia tampak kesal dan jengkel. Lengkungan di bibirnya yang semula menghadap ke atas kini melengkung ke bawah. Kemudian aku merasa seperti terhisap ke dalam kursi yang ku duduki ini. Rasanya sangat sakit, dan karena tekanan daya hisap kursi itu tubuhku sampai menciut. Rasa sakitnya kian bertambah seiring dengan bertambah kuatnya daya hisap kursi ini. Aku memejamkan mata demi menahan rasa nyeri dan remuk di seluruh tubuhku. Berharap kejadian ini cepat berlalu. Setelah sekian lama menderita, perasaanku akhirnya lega. Kucoba menggerakkan tubuhku, tapi aku tidak bisa, rasa sakitnya masih tetap melekat. Akhirnya kucoba menggerakkan jariku karena itu paling mudah kulakukan. Kubuka mataku perlahan. Tampak cahaya putih kebiruan samar-samar, yang semakin lama semakin jelas. Kudengar suara detikan jam. Kucoba berbicara, lidahku kelu dan tak bisa di gerakkan. Sampai hanya suara saja kukeluarkan, “eng.” “Kau sudah bangun Andi?” itulah suara kedua yang kudengar setelah suara detikan jam. Suara itu sangat familiar di telingaku. Kugerakkan kepalaku agar menghadap ke sumber suara. Frengky, sahabatku. Aku melihatnya dengan penuh tanda tanya. Dan kemudian aku tersadar ternyata ada infus di tanganku, kepalaku diperban, alat bantu pernafasan di mulutku dan kakiku yang sebelah digantung dengan perban. Frengky menatapku iba, dia seolah-olah tau apa maksudku. “Kau kecelakaan kemarin, motormu masuk ke kolong truk.” Aku terkejut, bukannya semalam aku itu menginap di rumah Jona?

BACA JUGA :   Spoiler Kasih Abadi BAB 1

Jika teman-teman punya kritik maupun saran yang membangun tolong tinggalkan di kolom komentar. Terimakasih!

laucyanmo (6)

Seorang mahasiswi di universitas negeri yang bercita-cita membukukan hasil karya tulisannya

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: