• Jum. Jul 30th, 2021

Akhir Cinta

ByAlan Maulana

Jul 22, 2021

Cerpen karya Maulana Al-Bantani

Kamu mungkin belum mengenal Marwan. Bocah SMA yang pendiam dan sangat tidak populer itu, dia sangat pemalu loh! Apalagi kalau sudah berurusan dengan wanita, bulu kuduknya jadi merinding seperti melihat hantu. Saking pemalunya. Kalau kebetulan kamu lihat dia, pasti dia akan menundukkan kepala karena malu berpapasan dengan manusia. Aneh bukan?

Padahal dia sendiri manusia, akan tetapi Marwan selalu saja menyembunyikan wajahnya kepada orang banyak. Hal itu karena sejak kecil tetangga Marwan mengata-ngatai dia karena wajahnya tidak mirip dengan kedua orang tuanya. Ia memiliki wajah yang putih bersih, rambut ikal, dan memiliki lesung pipi yang sangat manis. Sedangkan kedua orang tuanya itu tidak seperti Marwan, mereka malah sebaliknya. Orang tuanya memiliki wajah yang hitam putih belang penuh panu, kalau senyum, membuat orang terbirit-birit karena memiliki gigi bertaring seperti Master Limbad.
“Wan, aku curiga. Jangan-jangan, kamu anak hasil adopsi. Atau, sewaktu kecil kamu ditukar di rumah sakit?”
Kurang lebih seperti itulah bentuk cibiran tetangga kepadanya. Meskipun tetangganya itu bertujuan hanya untuk main-main saja, atau bahan candaan, akan tetapi Marwan menganggapnya sebagai keseriusan. Setiap hari selalu melamun, bahkan jika bicara kepada orang tuanya pun hanya seperlunya saja. Mentalnya terganggu oleh bisikan-bisikan jahil para tetangga.

Meski pendiam, Marwan adalah salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Karena mungkin tidak bisa berbaur dengan teman-teman di kelas, Marwan lebih senang menyibukkan dirinya di perpustakaan untuk membaca buku. Hobinya membaca buku itulah yang membuat Marwan selalu mendapatkan peringkat baik itu peringkat kelas ataupun kejuaraan lomba karya tulis. Hobinya itu juga yang membuat dia bisa bertemu dengan seseorang yang mampu mengguncangkan hatinya. Seseorang yang mampu membuatnya mabuk kepayang.
Dia adalah Fira, siswi baru pindahan dari Jakarta. Memiliki hobi yang sama seperti Marwan yaitu membaca buku. Fira juga memiliki sifat pendiam, meskipun tidak separah Marwan. Kalau Marwan takut wajahnya dilihat orang banyak, Fira justru sebaliknya. Ia hanya malas berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Mereka berdua bertemu di perpustakaan saat Marwan tengah asyik membaca buku. Marwan yang selalu membenamkan wajahnya di balik buku itu mulai mencuri-curi pandangan kepada Fira, gadis cantik yang pertama kali ia temui itu. Meski embun cinta mulai menetes, muncul rasa takut dalam hati Marwan. Takut kalau Fira mulai mendekatinya. Rasa tidak percaya diri itu selalu muncul di dalam dirinya dan sulit untuk dibuang.
”Permisi, boleh ikut duduk?’’
Marwan terbelalak saat Fira tiba-tiba saja muncul di depannya. Kali ini ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa malunya. Butir-butir keringat terlihat bermunculan di keningnya. Mau tidak mau, dia harus bisa menghadapi gadis itu. Mau tidak mau Marwan harus mempersilahkan Fira duduk.
‘’Oh, silahkan’’ jawab Marwan, singkat.
Kamu pasti bisa membayangkan kalau dua orang pendiam saling bertemu? Ya, betul. Jawabanya adalah sudah pasti mereka berdua itu saling diam. Keduanya hanya sibuk terbenam di antara kata-kata, atau skenario buatan di dalam buku. Hanya ada suara jam berdetak yang mengisi keheningan. Sampai tiba saatnya, suara detak jarum jam itu terkalahkan oleh bunyi “Tiiit’’ yang keluar dari pantat Marwan. Bunyi itu berhasil memecah keheningan, satu sama lain saling menoleh karena suara tersebut.

BACA JUGA :   Baca ini disaat kamu lupa untuk tidak "bersyukur"

Bersambung…

Bagikan Yok!
One thought on “Akhir Cinta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *