Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis (Bab 5 Kisah si Curut Han)

“Mengagumimu dalam diam, mencintaimu dalam kepastian, dan menunggumu tanpa kejujuran, hingga suatu ketika aku kalah dalam pertandingan,
pertandingan antara hati dan perasaan”
– Han –

“Bahkan saat ini pun aku merasakannya
Luka hati yang terasa perih dan dibumbui dengan pengkhiatan.
Namun hanya satu yang berbeda kau mengalah dalam diam dan aku kalah dalam perjuangan”
– Tiara –

Wahh, malam ini rasanya dingin sekali. Apalagi hujan turun deras sekali. Petir juga tak henti-hentinya menyambar. Kali ini aku sedang berkumpul dengan Ayah dan Ibu di ruang tengah. Sayang sekali kami hanya bisa makan ubi goreng dan teh manis buatan Ibu. Kami juga tidak bisa menonton televisi bersama karena hujan yang sangat deras dan sambaran petir yang tidak berhenti. Tiba-tiba saja aku teringat pada Han. Kemana dia? Biasanya kan dia paling suka sama ubi goreng buatan Ibu. Biasanya hanya mencium aromanya saja Han langsung lari terbirit-birit mencari sumber bau sedap itu. Tapi kali ini aku juga tidak melihatnya. Bahkan sejak siang tadi. Apa dia sakit? Entahlah.
“Bu, Han kemana? Kok nggak kelihatan?” tanyaku pada Ibu.
“Iya Bu, Ayah juga nggak lihat dari tadi. Biasanya kan dia paling suka sama ubi goreng buatan Ibu. Bahkan sampai marah-marah kalau dia nggak kebagian.” Sambung Ayah panjang lebar.
“Setahu Ibu tadi siang dia nggak jadi keluar rumah dan memutuskan untuk tidur. Ibu baru melihatnya tadi waktu dia mandi dan salat Ashar. Setelah itu Ibu tidak melihatnya lagi. Sepertinya dia ada di kamar.” Jawab Ibu.
“Kamu ada masalah ya sama Han? Kok dia sampai ngurung diri di kamar gitu?” Tanya Ayah padaku.
“Nggak kok Yah. Ayah tahu sendirikan kalau aku berantem sama Han nggak mungkin jadi kayak gini. Lagipula kami hanya berantem biasa saja.” Jawabku santai.
“Nah ini nih kesalahan kamu. Awas kata-kata yang keluar itu justru lebih berbahaya lo! Perkataan itu lebih runcing dari tombak dan lebih tajam dari pedang.” Penjelasan Ayah.
“Sudah, lebih baik kamu cek keadaan adikmu. Ibu takut terjadi apa-apa.”
“Iya Ibu sayang.” Jawabku sambil tersenyum dan nyelonong pergi dari ruang tengah.
Sesampainya di depan kamar Han, aku hanya berdiri diam saja. Apa yang harus ku lakukan? Kalau aku masuk, pasti dia akan ngomel semaunya. Tapi kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana? Dia kan adikku satu-satunya. Yah meskipun menyebalkan seperti itu tapi aku tetap sayang padanya. Akhirnya ku putuskan untuk mengetuk pintu.
Tok… Tok… Tok…
Tak ada jawaban sama sekali. Oh Tuhan, apa yang terjadi?
“Han? Han? Lu di dalam kan?” tanyaku pada Han.
Tak ada jawaban lagi. Huhh, sebenarnya kamu di mana Han?
“Han? Lu baik-baik saja kan? Han? Lu nyaut apa gue dobrak sekarang nih!” tanyaku lagi.
“Apaan sih lu? Ganggu aja!” jawaban singkat Han.
“Akhirnya lu jawab juga. Lu kenapa? Baik-baik aja kan? Lu nggak sakit kan? Ayah sama Ibu khawatir tuh! Keluar deh, jangan bikin gue tambah khawatir sama lu!” tanyaku beruntutan.
“Lu bisa khawatir juga sama gue?” jawab Han sinis.
“Gue serius nih, kalau lu punya masalah jangan kayak gini dong! Kasihan tuh Ayah sama Ibu khawatir, lu demen banget sih bikin seisi rumah khawaitir. Woy!” teriakku.
Belum sempat aku menggedor pintu kamarnya lagi. Dia langsung membuka pintu dengan wajah yang murung dan menarik paksa tanganku. Setelah aku berada di dalam kamarnya, dia langsung menutup dan mengunci kamarnya.
“Apa-apaan sih lu? Kenapa pakai dikunci segala?” bentakku pada Han.
Saat ku lihat sorot matanya. Oh Tuhan, apa ini? Apa yang kulihat? Aku melihat sorot kesedihan di mata Han. Adikku yang selalu tertawa, ceria, dan menyebalkan ini tiba-tiba saja memiliki sorot mata yang menyedihkan. Dan keadaannya pun tak jauh beda. Lesu, pucat, dan.. Oh Tuhan ada air di matanya? Apa itu air mata? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Han lu kenapa? Ada masalah?” tanyaku padanya.
Han hanya terdiam. Tiba-tiba saja ku lihat air mata mengalir membasahi pipinya. Aku tak tega melihatnya seperti ini.
“Gue kunci karena gue tidak pengin lihat Ayah sama Ibu khawatir.” Jawabnya singkat. Lalu Han memelukku erat. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya membalas pelukannya. Lama sekali aku tidak merasakan suasana sedekat ini dengan adikku. Wajar saja hampir setiap hari kami bertengkar. Kalau diingat-ingat terakhir kami pelukan kayak gini pas SD. Setelah beberapa menit Han merenggangkan pelukannya dan menatapku dengan sorot matanya yang penuh luka.
“Han..” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku Han langsung saja memotongnya. Anak ini, sedih ataupun senang tetap aja hobiya memotong omongan orang.
“Gue lagi banyak pikiran.” Katanya singkat.
“Lu ada masalah? Cerita aja!” tanyaku.
“Lu tahu Rena kan?” Tanyanya balik.
Rena? Oh iya aku baru mengingatnya. Rena adalah cewek yang lagi ditaksir Han. Dulu dia sempat menceritakannya padaku. Orangnya cantik, kulitnya sawo matang, rambutnya panjang ikal, dan ada lesung pipit di pipinya. Sungguh sempurna kecantikannya. Tidak heran kalau adikku satu ini sangat menyukainya. Tapi apa hubungannya sama Rena? Apa jangan-jangan Han seperti ini karena ulah dari Rena.
“Terus apa hubungannya sama Rena? Apa dia yang buat lu jadi kacau kayak gini?”
Akhirnya Han mau menceritakan semuanya padaku. Awalnya Han memang tidak mengenal Rena. Dia bertemu Rena di kantin. Saat melihat Rena untuk pertama kalinya, entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang. Rena memang bukan cewek popular di sekolah. Tapi auranya selalu menarik Han, untuk sejenak berada di dekatnya. Tapi apa mau dikata? Kenal saja tidak. Bagaimana cara mendekatinya? Saat itu Reza sahabat Han dari kecil menepuk pundaknya dari belakang. Han langsung melompat sangking kagetnya. Dan yang dilakukan Reza hanya tertawa terbahak-bahak.
“Lu lihat apa sih? Sampai nggak nyadar ada gue di belakang lu?��� Tanya Reza pada Han.
Han hanya melirikkan matanya menuju gadis cantik tadi. Dan menyunggingkan senyum termanis ketika ia sadar bahwa gadis itu melihatnya. Perlahan-lahan namun pasti, gadis itu berjalan ke tempat Han berdiri sekarang. Wajahnya langsung memucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Dan apa yang dilakukan gadis itu, kenapa dia mendekatinya? Apa dia ingin berkenalan denganku? Oh ini tidak boleh terjadi. Mana mungkin gadis secantik dia mengajakku berkenalan harusnya aku yang mengajaknya berkenalan terlebh dahulu. Kata Han dalam hati. Saat gadis itu berada sangat dekat dengan Han. Ia mencoba menyunggingkan senyuman termanis di pipinya. Ternyata dugaannya salah. Gadis itu menghampiri Reza bukan Han.
“Hai Za.” Kata gadis itu.
“Hai. Oh iya kenalin ini sahabat gue Han, yang sering gue ceritain.” Jawab Reza.
“Hai, Rena.” Sapa Rena sambil mengulurkan tangannya pada Han.
“Han.” Jawabnya singkat sambil menjabat tangan Rena. Huhh rasanya Han tidak ingin momen ini terlewatkan begitu saja. Saking gugupnya Han jadi terlihat sangat cuek. Yah mau gimana lagi? Jantungnya yang terus berdegup sangat kencang tidak terkendali lagi.
“Aku ke kelas dulu ya!” kata Rena sambil berjalan keluar kantin.
Tak henti-hentinya Han menatap kepergian Rena, gadis cantik yang sedari tadi telah mencuri perhatiannya.
“Heh, lihat apa lu? Awas kesambet!” kata Reza ketus.
“Ke kelas yuk gue mau tanya banyak hal sama lu.” Kata Han sambil melangkah pergi.
Sesampainya di kelas Han langsung menyerang Reza dengan banyak pertanyaan tentang Rena.
“Za, lu kok bisa kenal sama Rena? Akrab lagi.” Tanya Han.
“Dia itu sahabat gue di SMP.” Jawab Reza singkat.
“Kok lu nggak pernah cerita sama gue?”
“Ah lu kok gitu sih. Masalah sepele kayak gini aja dibesar-besarin. Jangan-jangan lu suka sama dia ya?” tanya Reza sambi menggoda Han.
“Siapa bilang? Resek lu!” jawab Han ketus.
“Halah ngaku aja! Ribet banget sih hidup lu? Gue itu kenal lu sudah dari kecil, jadi gue tahu kapan lu bohong kapan lu jujur sama gue.”
“Kayak psikolog aja lu!”
“Jadi, lu benar-benar suka sama Rena?”
Han hanya mengangguk. Semenjak saat itu, Reza telah berjanji pada Han bahwa dia akan membantu Han mendekati Rena. Semenjak itu Han, Reza dan Rena semakin dekat. Saat mereka sedang ngumpul bareng, Reza selalu mengatakan lelucon-leluconnya yang selalu menggelitik perut dan membuat Rena tertawa lepas. Dan saat itu juga yang bisa dilakukan Han hanya diam dan melihat kebahagiaan yang dirasakan Rena. Sesekali Han juga ikut tertawa. Han memang anak yang cuek dan tidak banyak bicara. Berbeda kalau dia sudah di rumah pasti dia akan mengejekku habis-habisan. Kembali ke Han. Ia selalu memberikan kado-kado kecil untuk Rena yang dititipkannya pada Reza. Tapi Han selalu menyuruh Reza untuk merahasiakan semua ini. Jika Reza ditanya Rena kado ini dari siapa? Reza harus terpaksa menjawab kalau kado itu dari ia sendiri. Ini semua karena permintaan Han, sahabatnya. Hanya itu saja yang ku tahu dari Han.
Sungguh aku tak tega melihat butiran air mata menetes di pipi Han. Dia mulai menceritakan semua yang terjadi.

  • Han –
    Semakin lama hubungan Reza sama Rena makin dekat. Dan itu membuat hati gue terbakar cemburu. Gue lihat dari sorot mata keduanya ada rasa cinta yang terpendam. Akhirnya gue mutusin buat ketemu Reza langsung.
    “Pengkhianat lu! Nikung sahabat sendiri!” perkataan gue sambil menarik kerah baju Reza.
    “Lu kenapa sih Han? Ini pasti masalah Rena kan?” tanya Reza.
    “Siapa lagi? Lu bilang mau bantu gue dekat sama Rena. Tapi apa? lu malah nikung gue dari belakang!”
    “Oke gue akui gue salah. Asal lu tahu ya, awalnya gue emang mau bantu lu dekat sama Rena. Tapi gue bingung sama cara lu yang nyuruh gue ngasih kado-kado kecil ke Rena dan bilang kalau itu dari gue. Semenjak saat itu gue emang makin dekat sama Rena. Karena gue sudah capek sama kelakuan lu, akhirnya gue kemarin ke rumah Rena dan cerita semuanya ke dia. Dan lu mau tahu apa yang dia bilang? Dia suka sama lu dari pertama kali kalian ketemu.���
    Apa? Gue cuma bisa diam. Jujur gue tidak tahu mau ngomong apa.
    “Maaf. Gue yang salah.” Perkataan gue dan langsung melangkah pergi. Baru selangkah pergi, Reza langsung menghentikannya.
    “Lu nggak salah. Gue yang salah, diam-diam gue juga suka sama Rena. Ini semua karena kedekatan yang lu ciptain buat gue sama Rena. Rena pengen ketemu lu besok jam 10.”
    “Semua manusia berhak merasakan mencintai dan dicintai.” Jawaban gue singkat dan langsung meninggalkan Reza.
    Terus tadi pas jam 10 gue sudah dandan rapi buat ketemu Rena. Gue pikir ini saatnya gue bilang langsung ke dia kalau gue suka sama dia. Tapi harapan gue sia-sia. Tiba-tiba aja hp gue bunyi dan itu dari Rena.
    “Han, maaf.”
    “Maaf buat apa?”
    “Maaf.” Kata Rena sambil terisak.
    “Loh kenapa kok nangis? Kamu nggak bisa datang? Ya sudah ditunda aja nggak apa-apa aku nggak keberatan.”
    “Aku nggak bisa Han.”
    “Oh nggak bisa datang ya? Iya nggak apa-apa kok. Sudahlah tidak usah nangis.”
    “Aku nggak bisa sama kamu. Jujur dari pertama kali aku ketemu kamu aku mulai suka sama kamu. Aku pikir kamu juga suka sama aku soalnya aku tahu waktu itu kamu lihatin aku terus. Tapi setelah kita dekat, yang selalu ngirim aku kado-kado kecil justru Reza. Akhirnya aku memutuskan untuk membuka hati buat Reza. Sejak saat itu aku mulai dekat sama Reza. Aku juga mulai suka sama dia. Tapi waktu kemarin dia datang ke rumahku dan menjelaskan semuanya. Aku shock berat. Aku hanya bisa diam dan menangis. Reza menyerahkan semua keputusannya padaku. Han maaf aku lebih nyaman berada di dekat Reza. Dia yang selama ini selalu ada di samping aku. Sekali lagi maaf.”
    “Andai saja aku dulu nggak malu sama kamu? Pasti sekarang ada aku di samping kamu.”
    “Han, kamu harus terus maju. Mungkin memang aku tidak pantas untukmu. Di luaran sana pasti ada gadis cantik yang lebih pantas bersanding sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf.”
    “Iya Ren, ku rasa sebaiknya aku harus menjauh dari kehidupan kalian berdua. Aku nggak mau jadi penghalang buat kalian berdua. Oh iya, aku pasti akan bahagia melihat kamu bahagia bersama sahabatku Reza. Dia orang yang baik.”
    Setelah itu, gue langsung mutusin pembicaraan. Jujur sampai sekarang gue masih belum bisa terima semua kenyataan ini.
Bagikan Yok!
BACA JUGA :   KBM Tatap Muka Harus Sesuai SOP Prokes, Wawali Turun Langsung ke Sekolah
%d blogger menyukai ini: