• Jum. Jul 30th, 2021

Poni Gundul Saat Kartinian (Ditegur Teman, jadi Malu)

Byastipravitasari

Jul 21, 2021

Pravita sangat penasaran pada dunia salon. Dia mencoba memotong rambutnya sendiri, saat Pak Gideon dan Bu Dorkas, kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Tanpa sengaja, rambut yang akan dijadikan poni menjadi terlalu pendek. Pravita jadi ngeri sendiri melihat poninya. Merasa geram, dibelinya silet cukur jenggot di tempat pakdenya.

“Siwo, apa ada silet untuk cukur jenggot?” tanya Pravita kepada pakdenya.

“Silet cukur jenggot buat apa, to, Nduk?” Pakde Pravita malah balik bertanya.

Pakde Pravita pun memberikan silet itu, tanpa tahu keperluan kemenakannya dengan silet itu. Pravita pun pulang dengan hati penuh gelisah. Digenggamnya silet itu. Tangannya tidak terluka karena silet itu masih terbungkus kertas payung. Namun, hati Pravita bagaikan tersayat. Keputusannya sudah bulat. Dia akan menggundul poninya yang terlalu pendek. Apa boleh buat? Dia tidak punya pengetahuan apa-apa mengenai salon. Hanya penasaran, tanpa pemberitahuan dari Bu Dorkas mengenai penampilan.

Saat itu, Pravita masih duduk di kelas satu SMP. Satu hari sebelum peringatan Hari Kartini. Semua siswa dan para guru, sampai kepala sekolah diwajibkan memakai kebaya untuk perempuan. Memakai beskap untuk laki-laki. Dicukurlah psedikit demi sedikit poni Pravita sampai bagian depannya botak. Dia makin panik.

“Lho. Rambutku, kok malah botak gini?” tanya Pravita dalam hati.

Pravita memutuskan untuk memotong poni lagi untuk menutupi kebotakannya. Kali ini, dia berusaha agar tidak terlalu pendek. Dia berusaha agar Pak Gideon dan Bu Dorkas tidak mengetahui kelakuan anak kedua mereka itu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Bu Dorkas langsung curiga karena Pravita keramas.

“Rambutmu itu, kamu apain, to Nduk?” Bu Dorkas bertanya dengan lemah lembut.

BACA JUGA :   Memutuskan diri untuk Tidak Lari. Meskipun itu Sakit, Aku Yakin Aku Pasti Bisa Lebih Kuat dari Ini

“Tadi itu, aku mencukur rambut. Eh malah kependek’an, Buk.” Pravita menundukkan kepala, takut dimarahi.

“Lain kali, kalau mau memotong rambut ke salon saja, ya.”

Pravita tidak menjawab. Dia merasa bersalah atas tindakannya itu. Bu Dorkas dan Pak Gideon menahan tawa, ketika Pravita masuk ke kamar. Yah, memang itu kejadian memalukan yang akan diingat Pravita seumur hidup. Juga pelajaran, agar tidak gegabah dalam melakukan suatu hal. Termasuk mengurus rambut.

Saat peringatan Hari Kartini tiba, Pravita masuk ke kelas 1F diam-diam. Dia takut diejek teman-temannya. Eh, dia malah ketahuan. Karena sebelum masuk kelas, dia membasahi poninya dan justru kelihatan kebotakannya. Mereka langsung meledek Pravita. Bahkan, ada yang menyamakannya dengan Rohmad, salah satu teman Pravita yang botak bagian belakang dan hanya berambut di bagian depan kepala.

“Wah. Kalau Rohmad botak di bagian belakang kepalanya. Kalau Pravita, botak di bagian depan kepalanya.” Perkataan salah satu teman itu membuat Pravita menundukkan kepala karena malu.

“Iya benar. Mungkin, mereka jodoh. Hahahaha … .” Pravita makin malu, mendengar perkataan temannya yang lain.

Mereka makin meledek Pravita dan Rohmad, saat panggilan untuk berkumpul dan melaksanakan upacara di lapangan disiarkan. Pravita dan semua temannya ke luar kelas dan bergabung dengan siswa/siswi kelas lain dan berangkat ke lapangan. Upacara peringatan Hari Kartini berjalan dengan khidmat. Meskipun, tadinya mereka ribut dan meledek penampilan Pravita yang aneh.

Eh. Saat selesai upacara dan berjalan pulang, mereka masih saja meledek Pravita. Ada juga yang menyuruh Pravita membeli rambut palsu yang harganya mencapai jutaan. Ya, dia memang sempat pengin membeli rambut palsu atau menyewanya. Tapi, dia mengingat kalau orang tuanya bukanlah orang yang mapan. Mereka masih berjuang mengupayakan keluarga yang sejahtera ke depannya. Dia pun menerima nasib berkepala botak bagian depan. Pravita yakin, kalau suatu saat nanti Pravita akan memiliki rambut yang indah lagi. Meskipun, dia tidak pernah ke salon untuk creambath ataupun smoothing.

BACA JUGA :   Adaptasi Di Tengah Keterbatasan Diri

Saat sampai di sekolah lagi, Pravita tidak lagi malu. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan keramas setiap hari. Agar poninya tumbuh dan tidak botak lagi. Teman-temannya juga mendadak berhenti meledek Pravita. Mungkin, mereka ditegur oleh guru mereka. Atau entah apa? Yang jelas, Pravita bersyukur untuk itu. Karena, bisa belajar dengan tenang.

astipravitasari (5)

Penulis sejak tahun 2014. Suka akan hal baru di Internet. Suka tidur siang. Suka mengurung diri di kamar untuk mencari inspirasi menulis dengan riset di Internet.

Bagikan Yok!

astipravitasari

Penulis sejak tahun 2014. Suka akan hal baru di Internet. Suka tidur siang. Suka mengurung diri di kamar untuk mencari inspirasi menulis dengan riset di Internet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *