Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis (Bab 4 Lengkungan Bulan Sabit)

“Sebuah lengkuan bulan sabit tipis yang terukir di bibirnya selalu membuatku tak berkedip melihatnya, hingga aku berharap waktu dapat berhenti walau hanya sesaat”
– Tiara –

“Bola hitam di balik keteduhan tatapannya membuatku tertarik untuk melihatnya, tapi aku sadar aku tak pantas mendapatkannya, seseorang dari masa lalu hanya akan berada di masa lalu”
– Tara –

Dingin! Itulah yang membuatku terbangun. Saat ku lihat ke bawah, ternyata selimut yang menyelimuti tubuhku terlepas karena sering ku tendang. Ku tarik lagi selimutku hingga menyelimuti seluruh tubuhku dan menghangatkan tubuhku. Belum ada 5 menit aku tertidur, tiba-tiba saja Han datang dan membangunkanku.
“Woy, bangun dong! Nggak dengar suara adzan ya?”
“Aduh berisik banget sih lu!”
Tanpa berpikir panjang, Han langsung memegang lenganku dan menyeretku ke kamar mandi.
“Haaannn..” teriakku saat Han menyeretku.
Kami tiba di depan kamar mandi.
“Berisik lu!”
“Dasar adik kurang ajar, curut lu!”
“Apa? Cepat gih, masuk terus wudlu. Sudah ditungggu ayah dan ibu tu!”
“Iya iya, cerewet banget sih! Kalau mau bangunin, ngga sekasar ini kali!”
“Ya kalau ngga kayak gini mana mungkin lu bangun.”
Setelah itu, kami salat berjamaah. Selesai juga salatnya. Usai salat subuh aku langsung masuk ke kamar dan menarik selimutku hingga menyelimuti seluruh tubuhku. Lama kelamaan mataku terasa berat. Dan akhirnya aku tertidur lagi.
Tiba-tiba saja Han membangunkanku dengan cara seperti tadi. Akhirnya kami bertengkar lagi. Rasanya tiada hari tanpa pertengkaran.
“Dasar curut! Lu sehari nggak bikin masalah sama gue bisa tidak?” kataku.
“Dasar kebo! Kerjaannya tidur mulu! Lu kan sudah janji mau jogging sama gue!” jawab Han sambil mencaciku.
“Aduh ditunda aja deh!”
“Nggak bisa gitu dong! Lu kan sudah janji.”
“Iya iya, gue bangun.”
“Gue tunggu lu di luar.”
Aku hanya mengangguk sambil melawan rasa kantukku. Aduuhh! Tiba-tiba saja saat aku berjalan menuju kamar mandi, aku menabrak tembok akibatnya dahiku jadi bengkak dan membiru. Melihat kejadian itu Han justru tertawa terbahak-bahak.
“Makanya kalau jalan itu melek, jangan sambil tidur.” Kata Han.
“Resek lu!”
Haduh, ribet banget sih ini anak. Tinggal jogging aja nyari teman. Mana harus beli es krim lagi. Uang dari mana coba? Liburan dompet justru menipis. Kataku dalam hati.
“Oi? Kok malah bengong sih. Cepetan mandi!” bentak Han.
“Kalau kagak mandi gimana? Masih dingin nih.” Jawabku sambil menggigit bibirku. Tanda kedinginan.
“Ribet lu, tinggal mandi aja protes!” Kata Han sambil menyeretku masuk dan mengunciku di kamar mandi.
Hampir satu jam Han menunggu. Karena dia tidak sabar akhirnya dia meneriakiku.
“Oi! Kebo, lama banget sih mandinya? Lu mandi apa molor?”
Tidak ada jawaban dariku.
“Oi! Gue hitung sampai tiga, kalau lu kagak keluar juga. Gue buka ini pintu dengan terpaksa. Gue nggak urus gimana keadaan lu nanti.”
1 2 3 …. Tidak ada jawaban. Akhirnya Han membuka pintu kamar mandi dan mendapatiku sedang tidur seperti orang pinsan.
“Dasar Kebo!” teriak Han. Membuatku terbangun.
“Berisik lu!” jawabku ketus.
“Anjir jadi dari tadi gue uma nungguin lu tidur. Sudah mending sekarang lu langsung ganti baju! Kagak usah mandi, sudah siang nih!”
“Gue cuci muka dulu ya?”
“Jangan lama-lama! Gue tunggu lu di depan. Awas aja kalau lu nggak keluar dalam waktu 15 menit.”
“Emang lu mau ngapain?”
“Bakal gue seret keluar. Apapun keadaan lu.”
“Kalau lu ngomong mulu, kapan gue ganti bajunya Han?” tanyaku ketus.
“Oke gue pergi. Awas lu ya!”
Dasar adik nggak ada akhlak! Sadis! Ribet! Ngerepotin! Semuanya deh umpatan yang jelek buat elu.
15 menit kemudian…
Belum sempat adikku berteriak. Aku langsung memBugkam mulutnya dari belakang.
“Jangan teriak-teriak!”
“Yuk!”
Ajak Han, sambil menarik dan mencengkeram lenganku.
“Oi! Lu mau ngajak gue lari apa nyeret gue nih?” tanyaku ketus.
“Maaf.. maaf..” jawab adikku sambil melepaskan cengkeramannya.
“Bisa agak lembut nggak sih? Gandeng gitu?” Kataku.
“Apa gandengan sama elu? Idih malas gila!” jawabnya sambil mencibirku.
“Dasar adik kurang ajar. Masih mending lu, gue tawarin gandeng tangan gue. Most wanted di sekolah.” Kataku dengan sombongnya.
“Hahahahahaha… Ngimpi lu! Masak cewek kayak gini jadi most wanted!” jawabnya sambil tertawa puas.
Kali ini kesabaranku hampir habis. Aku sudah muak dengan tingkah laku dan kata-katanya. Aku jadi bertanya-tanya. Nih orang beneran adikku bukan sih? Untung saja Ayah langsung menengahi. Kalau tidak? Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kalian ini kakak adik tapi nggak bisa akur. Sudah sana katanya mau jogging.” Kata Ayahku menyudahi pertengkaranku dengan Han.
“Iya Yah, kalau gitu kami pamit dulu. Assalamu’alaikum.” Pamitku pada Ayah.
Tiba-tiba saja Han meraih tanganku dan menggandengku. Tuh kan, gandeng tanganku juga. Tadi aja bilang nggak mau tapi sekarang malah nggak dilepas. Saat di depan rumah aku merasa Han semakin mencengkram erat tanganku. Apa ini? Dia yang selalu bertengkar denganku sekarang menggandeng erat tanganku. Oh Tuhan, jangan-jangan dia mulai suka padaku. Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Kami kan saudara kandung. Aku harus mengingatkan Han.
“Han, kok lu tiba-tiba jadi lembut kayak gini sih? Jangan-jangan lu..” kataku sambil berbisik.
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku Han langsung menyambarnya.
“Jangan-jangan apa? Gue suka sama lu? Idih males gila! Tuh lihat diseberang ada cowok yang lihatin lu terus, mana kayaknya anak kagak benar lagi.” Kata Han sambil mengarahan bola matanya menuju ketiga cowok yang sedang melihatku dengan tatapan aneh.
Haduh ngeri juga kalau terus dilihatin kayak gini. Apa yang salah dari aku coba? Baju lengkap? Tidak ada yang blepotan juga di mukaku. Sebenarnya apa yang mereka lihat ya? Ya mau tidak mau aku semakin merapat pada Han.
“Terus kalau mereka lihatin gue kenapa? Apa urusannya sama elu?”
“Ya ampun, lu jadi kakak lemot banget sih. Tuh orang punya niat nggak benar sama lu! Lihat tuh cara mereka lihatin lu! Nah gue cuma nggak mau kakak gue satu-satunya kenapa-kenapa. Gini-gini gue juga khawatir sama lu! Lagi pula kasihan mereka kali, dapat semprotan dari elu kalau mereka macam – macam sama lu. Sudah cukup gue yang menderita selama ini.”
Haa? Itu serius yang ngomong Han? Gila. Aku masih tidak nyangka. Seperhatian itukah dia sama aku. Oh Tuhan, bodoh sekali aku memikirkan hal yang tidak-tidak. Han tidak mungkin suka sama aku. Dia hanya mencoba melindungiku karena aku adalah kakaknya.
“Ayo…” kata Han sambil tersenyum padaku.
Tuhan, rasanya aku tidak ingin waktu seperti ini cepat berlalu. Aku telah menginginkan momen ini lama sekali. Aku dan Han yang akur.
Setelah aku dan Han cukup jauh dengan tiga laki-laki itu. Han langsung melepaskan gandengannya. Lumayan juga ikut Han jogging hitung-hitung sambil cuci mata. Banyak cowok-cowok ganteng pada lewat soalnya. Emang adik resek! Giliran ada yang deketin gue, dia punya cara buat bikin tu cowok lari kebirit-birit. Kalau gue tanya alasannnya? Pasti jawabnya itu cowok kagak benar, kagak pantes buat lu, terlalu baik buat lu dan masih banyak lagi, yang bikin gue makin sebel sama itu anak. Akhirnya keluar juga sifat aslinya Han. Han yang selalu jahil.
“Han, sudah siang nih? Pulang yuk! Capek nih gue.” Rengekku pada si Han.
“Yee.. baru segini aja sudah capek.” Ejek Han.
“Lu lihat tuh sudah jam berapa? Sudah panas gini masih mau jogging? Bukannya sehat malah tambah gosong tuh muka lu!” jawabku pajang lebar.
“Haa? Sudah jam 9? Gila cepat banget nih waktu. Gue kan ada janji jam 10.”
“Nah lu kan ada janji, mending kita pulang sekarang! Capek nih, gue mau tidur lagi!”
“Eh, bentar! Gue masih tagih janji lu. Tuh ada yang jualan es krim. Beliin dong!”
“Han, lu punya janji sejam lagi, masih bisa-bisanya mikirin es krim? Nggak sadar apa dandan lu lama banget.” Celotehku panjang lebar.
Baru kali ini aku melihat seorang cowok yang dandannya lelet banget. nggak tahu apa yang dia lakukan. Dan yang sedang ku bicarakan ini adalah adikku, Han. Tapi engak nyesel juga punya adik seganteng Han. Tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang, kulitnya yang bersih. Perfect deh pokoknya.
“Yee.. ini bukan masalah es krimnya. Tapi janjinya, Bug! Janji itu tanggung jawab.”
“Haduh sok berjiwa nasionalisme lu! Iya iya.. yuk cepat!”
Setelah kenyang makan es krim, aku dan Han langsung pulang. Badanku rasanya remuk semua. Dan ini semua gara-ara Han, adikku tercinta.
Saat sampai di depan rumah, aku melihat seorang laki-laki duduk di teras dan sedang berbincang-bincang dengan ayahku. Setelah aku berjalan mendekati mereka, tiba-tiba saja ayah menyapaku.
“Itu dia mereka sudah datang.” Sambut ayah.
Awalnya aku sangat penasaran dengan laki-laki yang berbincang-bincang dengan ayah. Tetapi setelah laki-laki itu menengok ke arahku. Oh Tuhan aku masih tidak menyangka. Ternyata dia adalah Tara. Iya, Tara sahabatku yang selalu ku tunggu kedatangannya. Huhh, entah kenapa setelah melihatnya rasa lelahku tiba-tiba menghilang. Hanya ada rasa teduh tenang dan nyaman. Jujur, aku sangat merindukanmu.
“Tara sudah menunggu dari tadi lho!” kata ayahku.
Dan apa yang aku lakukan? Aku justru sibuk dengan lamunanku. Rasanya tenang sekali melihat teduh wajahnya. Dan sorot matanya. Oh Tuhan, dia belum berubah. Dan tetap Tara yang ku kenal dengan sorot matanya yang tajam. Huhh tiba-tiba saja Han membuyarkan lamunanku. Dasar pengganggu!
“Oi! Dicari Bang Tara tuh! Malah keasyikan ngelamun.” Kata Han ketus sambil menyenggol sikuku dengan sikunya.
“Apaan sih lu! Mending sekarang lu masuk terus siap-siap deh. Katanya ada janji?” jawabku dengan nada sedikit mengusir si Curut satu ini.
“Bilang aja lu mau ngobrol sama Bang Tara berduaan.” Kata Han yang membuat darahku semakin mendidih.
“Sudah lu ke dalam sana! Ini itu bukan urusan lu!” jawabku sambil mendorong punggung Han masuk ke rumah.
Ayah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan masuk mengikuti Han. Ayah memang sudah terbiasa melihatku bertengkar dengan Han. Bahkan setiap hari aku selalu bertengkar dengan Han dalam berbagai masalah. Masalah kecil pun bisa menjadi sangat besar. Belum sempat aku menanyakan kabar pada Tara, tiba-tiba saja Han keluar dari balik pintu rumah.
“Hati-hati Bang Tara, ada Macan ganas! Belum mandi lagi!” kata Han sambil memperingati Tara.
“Haaaannn…” teriakku pada Han sambil melemparkan sepatuku padanya hingga mengenai punggungnya. Aku tak peduli jika dia mengerang kesakitan. Bahkan dia mengatakan itu pada Ibu.
“Ibu, Kak Ara tuh! Masak aku ditimpuk pakai sepatu. Kan sakit.” Kata Han dengan manjanya. Hingga Ibu memperingatiku sambil berteriak dari dapur.
“Ra, jangan pakai kekerasan gitu dong! Kasihan adikmu!”
“Han duluan Bu.”
Huuuhhh, dasar anak manja! Memang harus ya, mengikutsertakan Ibu dalam pertengkaran ini. Setelah itu, aku langsung duduk di samping Tara.
“Apa kabar Ra? Sudah lama nunggu ya?” tanyaku mengawali pembicaraan.
“Sudah nggak apa-apa kok, santai saja!” jawabnya dengan santai.
Sejujurnya, aku tahu kalau dia telah menungguku sangat lama. Tapi apa boleh buat? Toh dia tidak keberatan dengan hal itu. Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertinya.
Hening… kami sama-sama terdiam. Aku mungkin terlalu nyaman berada di dekatnya, sampai-sampai aku menikmati kesunyian ini. Aku sungguh merindukanmu Tara. Bahkan saat dihadapannya pun aku bingung ingin berkata apa. Jujur ini bukan diriku yang dulu. Yang selalu cerewet dan membiarkannya mendengarkan semua ceritaku. Bahkan aku tak pernah memikirkan apakah dia lelah mendengarkan ceritaku atau tidak.
“Kamu masih capek ya?” kata Tara memulai pembicaran.
“Iya, capek banget. Kali ini aku kena tipu daya Han. Sampai akhirnya aku harus menemaninya jogging. Huuhh sangat melelahkan.” Jawabku panjang lebar.
“Memangnya apa yang terjadi?” Tanya Tara dengan mukanya yang lempeng dan ingin tahu.
Lalu aku menceritakan semuanya dari awal. Dari mulai Han memaksaku berjanji padanya, membangunkan aku. Mengunciku di kamar mandi, sampai aku mentraktirnya makan es krim di pinggir jalan. Setelah mendengarkan ceritaku, Tara tertawa puas di atas penderitaanku ini. Mungkin kelihatannya sadis. Tapi tidak bagiku. Justru inilah pertama kalinya setelah kami lama tidak berjumpa, aku melihat tawa dan senyum dibibirnya. Sangat manis dan lepas, tanpa ada paksaan. Ini yang selalu aku rindukan. Senyumannya? Iya, senyumnya yang manis itu yang selalu membuat hatiku merasa lebih tenang. Aku hanya bisa melihatnya. Setelah dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, dia langsung menghentikan tawanya.
“Maaf, aku terlalu berlebihan ya?” Tanya Tara dengan ragu
“Oh nggak kok santai aja! Aku cuma kangen saat-saat kayak gini.” Jawabku mantap.
Oh Tuhan, Ara apa-apaan ini? Kok bisa keceplosan gini sih?
“Iya saat-saat kita bisa tertawa bersama.” Lanjutnya.
Bukan kita? Tapi kamu. Iya kamu, senyumanmu. Kataku dalam hati.
“Oh iya, kok jadi pakai aku kamu sih?” tanyaku.
“Hehe… iya nih, lagi pengen pakai aku kamu biar kesannya lebih dekat aja!” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Oh boleh aja sih, nggak masalah.”
Hening lagi… iya kami sama-sama diam. Meskipun diam entah kenapa, aku tidak merasa bosan di dekatnya seperti ada ikatan diantara kita. Sepertiada benang yang tak kasat mata telah mengikat kita.
“Sebenarnya aku tadi ke sini pengin ngajak kamu keluar, tapi melihat kondisimu saat ini lebih baik kamu istirahat saja.” Kata Tara mengakhiri keheningan.
“Terus kamunya gimana? Lebih baik kita keluar saja! Daripada waktumu terbuang sia-sia hanya untuk menungguku pulang tadi.” Jelasku panjang lebar.
“Lupakan saja, kondisimu lebih penting. Kita masih bisa keluar besok.”
“Sampai kapan kamu di sini?”
“Entahlah, senyamanku di sini. Mungkin sampai liburan sekolah berakhir.” Jawabnya.
Hahh? Benarkah itu? Sampai liburan sekolah berakhir? Itu artinya dia di sini selama 2 minggu. Waktu yang lama. Aku akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin.
“Kita akan menghabiskan waktu liburan bersama.” Kataku sambil tersenyum senang.
“Tentu saja. Lalu bagaimana dengan dia?” Tanya Tara antusias.
“Hahh? Dia siapa?” Tanyaku kebingungan.
“Emm dia yang kamu sukai.” Jawabnya ragu.
“Ohh, entahlah mungkin aku sudah melupakannya. Beberapa hari terakhir ini aku sama sekali nggak mengingatnya. Bahkan saat kami bertemu di sekolah, nggak ada rasa sakit dan cemburu sedikit pun, ketika melihatnya bersama orang lain. Dan ini semua karena kamu.” Jelasku panjang lebar.
“Apa? Aku?” Tanya Tara kebingungan.
“Iya kamu. Makasih buat nasihatnya, aku mengerti sekarang. Toh kalau sekarang ada kamu disampingku kenapa aku harus memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkanku.” Jawabku panjang lebar.
Tara hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
“Hati – hati bedakan antara menerima kenyataan dan melupakan.”
Leleh? iya. Hati ini meleleh ketika melihat senyuman manisnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku tidak bisa mengontrol perasaanku seperti ini? Ingat Ara dia sahabatmu. Perdebatanku dengan diriku sendiri.
“Ara, sepertinya aku harus pulang. Istirahatlah! Aku akan ke sini besok pagi.” Katanya sambil memegang pundakku.
“Tara.”
Setelah memanggil namanya, seketika itu juga aku memeluknya. Entahlah rasanya aku masih belum bisa membedakan apakah ini mimpi atau nyata? Jika memang ini mimi setidaknya aku harus memeluknya.
“Ra, tumben banget meluk?”
“Sorry, maklum nggak ketemu kamu 11 tahun. Minggu lalu ketemu kamu sudah kayak mimpi. Takutnya sekarang mimpi juga, makanya peluk dulu sebelum mimpinya berakhir.”
“Gemes banget siih.” Kata Tara sambil mencubit pipiku.
“Ih sakit tahu.”
“Berarti nggak mimpi dong.”
“Iya juga ya.”
“Yaudah Ra, aku balik dulu. Kamu istirahat aja. Besok kita ketemu lagi.”
Aku hanya bisa mengangguk.
“Jam berapa? Setidaknya aku bisa siap-siap sebelum kamu jemput aku.”
“Mungkin sekitar jam 9 pagi. Aku pulang dulu ya!” katanya sambil melangkahkan kakinya menjauhi teras rumahku.
“Jangan lupa mandi!” teriaknya sambil tersenyum padaku.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku sahabatku ini. Malu juga sih, masak anak gadis jam segini belum mandi. Dan ini gara-gara si Han, adikku yang menyebalkan.
Setelah Tara, pulang aku masuk rumah dan bergegas ke dapur untuk meminum segelas air. Rasanya tenggorokanku ini sudah kering. Bayangkan saja setelah jogging hampir 3 jam lebih dan mengobrol dengan Tara 1 jam. Aku tidak minum sama sekali kecuali es krim yang ku beli di pinggir jalan tadi. Saat di dapur aku melihat ibu sedang mencuci piring.
“Nak Tara sudah pulang?” Tanya ibu.
“Baru pulang, Bu. Oh iya si Han kemana?”
“Loh gimana sih kamu. Dia kan ada janji sama temannya. Bukannya tadi dia lewat pintu depan.” Jawab ibu panjang lebar.
“Haa? Masak sih, Bu? Aku nggak lihat Han keluar.”
“Kamu ini aneh, Kalau ketemu berantem terus giliran tidak ada bingung nyariin.”
“Yahh, jelek-jelek gitu dia juga adikku Bu.” Jawabku pada ibu sambil pergi meninggalkannya.
Hahh, segar sekali setelah mandi. Serasa hidup lagi. Saat aku melewati kamar Han, ku lihat pintu kamarnya terbuka sedikit. Niatnya mau menutup pintu, eh aku justru melihat Han tidur terlentang sambil memakai baju rapi. Mungkin dia ketiduran atau memang dia sengaja tidur.
“Oi! Bangun! Sudah jam setengah sebelas nih, katanya ada janji.” Teriakku pada Han.
“Apaan sih lu? Berisik!” teriaknya ketus.
“Yee dasar curut, gue kan cuma mau mengingatkan.” Jawabku menahan amarah.
“Kagak jadi, janjinya dibatalin gitu aja! Dasar cewek songong! Mana kagak ada alasannya lagi.” katanya sambil menguap menahan kantuk.
“Wah cewek kagak benar tuh. Masak batalin janji gitu aja.”
“Tahu tuh! Sebal gue!”
“Makanya kalau cari gebetan yang benar dong. Lu harus konsultasi sama gue. Entar dah gue cariin yang lebih baik dari gebetan lu yang sekarang.”
“Apa lu bilang? Nyari yang lebih baik? Lu aja sampai sekarang kagak punya pacar. Hubungan lu sama Bang Tara aja kagak jelas juntrungannya. Kalau lu bilang cuma sahabat itu namanya lu munafik. Semua orang yang lihat juga tahu kalau hubungan lu sama Bang Tara itu bukan sekedar sahabat atau teman aja, tapi lebih dari itu.” Jelas Han panjang lebar sambil mengucek-ngucek matanya.
“Apaan sih lu? Kok jadi bahas masalah gue?”
“Salah sendiri gangu orang tidur.”
“Iya deh gue pergi, puas lu!” kataku sambil berlalu dari hadapan Han dan menutup pintu kamarnya.
Hari ini memang hari yang melelahkan. Ku rebahkan tubuhku di atas kasurku yang tidak terlalu empuk ini. Kalau sudah kayak gini bingung deh mau ngapain. Aku mengambil buku diary ku dan mencoret-coretnya.

BACA JUGA :   Mimpi yang Indah!

Dear Diary,
Hari yang melelahhkan. Hahh? Melelahkan? Tidak juga. Mungkin awalnya memang membosankan dan melelahkan. Bayangkan saja harus jogging pagi-pagi dan terus-terusan bertengkar dengan Han. Tapi setelah sampai rumah, rasa lelahnya hilang. Dia datang lagi. Yang pastinya membuatku terkejut. Tapi apa yang salah dari diriku? Kenapa rasa senang ini tidak bisa dibendung. Rasanya tenang dan teduh sekali bisa melihat senyumnya lagi. Oh Tuhan.. apa mungkin aku jatuh cinta? Haa? Jatuh cinta? Sama sahabat sendiri? Melupakan luka hatiku karena hubungan Dila dan Tantra saja belum berhasil sepenuhnya. Mana mungkin aku bisa membuka hati secepat ini? Ahh mungkin perasaan ini datang karena aku terlalu merindukannya.Tapi apa benar begitu? Lalu apa maksud kata-kata Han tadi? “Hubungan lu sama Bang Tara aja kagak jelas juntrungannya. Kalau lu bilang Cuma sahabat itu namanya lu munafik. Semua orang yang lihat juga tahu kalau hubungan lu sama Bang Tara itu bukan sekedar sahabat atau teman aja, tapi lebih dari itu.” Tapi apa mungkin aku sanggup merelakan persahabatanku yang telah lama ku jalin menjadi hubungan yang lebih dari itu? Lagi pula apa mungkin dia memiliki rasa yang sama padaku. Oh tidak, mungkin ini hanya perasaanku saja. Entahlah apa yang terjadi, biar waktu yang menentukan. Yang jelas aku bahagia melihat senyum dan tawanya yang tanpa beban. Tapi jujur aku sekarang berharap dia juga memiliki rasa yang sama denganku. Aku tak kuat lagi jika perasaanku ini bertepuk sebelah tangan.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: