• Jum. Jul 30th, 2021

Sepotong Elegi Tipis (Bab 3 Senyuman yanh selalu Ku Tunggu)

Bymutiaradee

Jul 20, 2021

“Sampailah aku dititik antara logika dan perasaan, entah mana yang akan menang”
– Tiara –

“Keadaan kembali mempermainkan kita tanpa ujung sebuah kepastian”
– Tara –
Dear Tiara,
Sebelumnya gue mau minta maaf karena nggak bisa nemenin lu jalan. Tadi pagi gue ditelepon sama Papa katanya Mama lagi sakit. Jadi gue harus pulang cepat. Sorry ya Mbem, lain kali deh kita ngobrol lagi. Lagian kan bentar lagi liburan. Gue janji deh liburan kali ini gue ke sini lagi. Kita jalan bareng lagi. Wah pasti seru tuh! Oh iya soal cerita gue, entar aja ya kalau gue ke sini lagi pasti gue langsung cerita sama lu. Lagian kan kemarin gue sudah janji.
Dan buat masalah lu. Sudah deh jangan mikirin si dia terus! Toh nanti yang kecewa dan sakit hati lu sendiri kan. Lagian belum tentu dia mau mikirin lu. Biar dia saja yang menentukan jalan hidupnya. Lu jangan terpuruk kayak gini. Gue nggak kenal Embem yang sekarang. Setahu gue Embem sahabat gue itu orangnya kuat dan nggak mudah menyerah.
Sampai jumpa satu minggu lagi ya. Sekali lagi maaf gue tidak bisa nemenin lu hari ini. Dan gue juga nggak bisa pamitan langsung sama lu. Nggak tega gue mau bangunin lu, kayaknya kemarin kita pulang kemaleman ya. Gue pasti bakal kangen sama lu Mbem.
Tara


“Gue juga bakal kangen banget sama lu, lu sahabat terbaik gue.” Kataku dalam hati. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengahadapi hari-hariku tanpamu. Cuma kamu yang bisa mengerti dan meghiburku.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah. Awalnya sih semangat, tapi setelah masuk kelas aku melihat Tantra bersama Dila sahabatku sendiri. Kalau dilihat-lihat sepertinya Dila juga suka sama Tantra. Apalagi mereka mengobrol di bangkuku. Tuhan, kuatkan hambamu ini. Jangan biarkan air mata ini menetes di depannya. Setelah masuk ke kelas aku langsung meletakkan tasku dan langsung keluar tanpa melihat mereka. Bahkan saat mereka menyapa, aku hanya terdiam dan tersenyum tipis.
“Permisi…” kataku.
“Ra ikut gabung aja!” kata Dila.
Saat di depan kelas, aku mencoba tegar dan ikut nimbrung sama teman-teman yang lain. Maaf Dila, aku yakin kamu pasti bingung dengan tingkahku akhir-akhir ini. Aku cuma nggak kuat lihat kamu sama Tantra. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang ku tahu saat ini aku sakit hati dan penyebab dari semua itu adalah kamu dan Tantra. Egois memang, yah mau bagaimana lagi aku bukan orang dewasa yang bisa menanggapi situasi ini dengan bijaksan. Bahkan seberapa dewasa pun aku nanti jika kondisi seperti ini berbalik lagi padaku, mungkin saja sikapku masih sama. Menyalahkan orang lain. Hanya itu yang saat ini bisa ku lakukan untuk menyembuhkan hatiku yang terluka. Bagiku kamu merupakan orang terdekat yang mengkhianatiku.
Saat aku sedang asyik ngobrol, tiba-tiba saja Dila ingin membicarakan hal penting padaku. Oh ternyata masih ingat juga dia sama aku. ku kira setelah Dila dekat sama Tantra, Dila sudah melupakanku.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kali ini aku harus berangkat sekolah lagi. Belajar lagi, dengarin celotehan tidak jelas dari teman-teman. Hah bisa ditebak hidupku ini terlalu monoton, tidak ada lagi hal-hal kecil yang memuatku tertawa lepas. Oh iya perlu diingat sepatah hati apapun aku saat ini, belaja tetap nomor satu. Untung saja logika masih menguasai otakku, bahkan untuk saat ini membaca merupakan hobi baruku untuk mengalihkan perhatianku dari rasa sakit hatiku. Dan untuk sekarang aku bingung harus senang atau sedih. Kali ini aku melihat Tantra makin akrab sama Dila. Dan itu tidak memengaruhku sama sekali. Tidak ada lagi yang namanya kecewa, sakit hati dan air mata. Mungkin ini karena kata-kata Tara di surat waktu itu. “Sudah deh jangan mikirin si Dia terus! Toh nanti yang kecewa dan sakit hati lu sendiri kan. Lagian belum tentu Dia mau mikirin lu. Biar dia saja yang menentukan jalan hidupnya. Lu jangan terpuruk kayak gini. Gue tidak kenal Embem yang sekarang. Setahu gue Embem sahabat gue itu orangnya kuat dan tidak mudah menyerah.” Bahkan sekarang aku sudah bisa tersenyum dengan mereka. Atau mungkin karena aku sudah terbiasa melihat mereka bersama. Yah, walaupun masih ragu kalau harus bergabung dengan mereka lagi. Takut jadi obat nyamuk.

BACA JUGA :   Reunian

Senang banget akhirnya liburan sudah di depan mata. Tinggal buat rencana mau menghabiskan liburan dengan kegiatan apa saja. Besok hari pertama libur, enaknya mau ngapain ya? Mungkin bantu Ibu di rumah, nonton tv, dan… Kok setiap liburan selalu seperti ini. Monoton! Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang bisa jadi topik pembicaraan. Apalagi kalau setiap hari harus ketemu Han. Pasti ribet urusannya. Setiap kali kami bertemu pasti selalu bertengkar. Bahkan ayah dan ibu pun sudah kehabisan kata-kata untuk menasihati kami. Tapi kalau dipikir-pikir, rumah terasa sepi kalau tidak ada si Han. Ya, itu lah kami. Kalau ketemu pasti bertengkar tapi kalau tidak ketemu pasti saling mencari satu sama lain. Itu lah salah satu sifat manusia, tidak ada puasnya. Jadi ingat sama si Tara. Kapan dia datang ya? Kan dia sudah janji akan menghaiskan liburan bersamaku. Tapi apa aku terlalu bodoh? Bahkan Tara berjanji padaku hanya dengan tulisannya dsurat. Aku tidak melihatekspresinya langsung. Bagaimana bisa aku percaya begitu saja.bahkan setelah 11 tahun tidak bertemu? Apakah aku akan mengulang kebodohanku lagi? Entahlah, lebih bai aku tidur sekarang. Tara datang atau pun tidak. Ku serahkan keputusannya padanya.
Namun tiba-tiba saja Han si curut itu masuk ke kamarku dan membuyarkan lamunanku.
“Cie kayaknya ada yang senang nih!” celetuk Han.
“Apaan sih lu?” tanyaku balik.
“Yeee jangan nyolot dong!”
“Terserah gue dong! Mulut-mulut gue, masalah?”
“Nggak. Biasa aja sih! Dasar jutek! Ngga salah kalau gue panggil Macan.”
“Kayaknya gue juga nggak salah panggil lu Curut!”
“Ya salah lah! Masak cowok ganteng kayak gini dipanggil Curut.”
“Hahahahaha…. Ganteng? Ngaca di mana lu? Di air keruh?”
“Waahh, parah lu masak adik sendiri dipanggil Curut lah! Dibilang Jelek lah.”
“Iya lah salah sendiri cowok tapi cerewet dan kepo.”
“Tahu ah. Ribet ngomong sama lu!”
“Siapa juga yang mau ngomong sama lu.”
Kalau dilihat-lihat sih adikku yang satu ini memang ganteng. Postur tubuhnya yang tinggi besar, kulitnya yang kuning langsat, rambut yang terpotong rapi, dan giginya yang gingsul. Kalau cewek yang lihat dia pasti sudah klepek-klepek. Tapi sebal juga kalau dengar dia memuji-muji dirinya sendiri. Jadi pengen ngejatuhin omongan dia. Kalau tidak itu bakal jadi kebiasaan buruk dan dia jadi sombong. Walaupun sejujurnya apa yang Han katakana 90% fakta.
“Serius nggak mau ngomong sama gue?” tanya si Han
“Ya iya lah. Pede gila lu! Ngarep banget kalau gue mau ngomong sama lu!” jawabku cuek.
“Oke gue keluar sekarang. Tapi lu nggak boleh nahan gue!”
“Kalau mau keluar, ya keluar. Jangan banyak ngomong.” Jawabku sambil sok sibuk memainkan handphone yang ku pegang.
“Oke, padahal niat gue ke sini mau ngasih informasi tentang Bang Tara.”
“Apa yang lu bilang tadi? Informasi tentang Tara?”
Han hanya mengangguk.
Apa? Informasi tentang Tara? Informasinya Apa? Apa dia tidak jadi ke sini? Atau dia sakit? Atau dia sibuk? Aduh, jadi tambah penasaran nih. Apa aku menahan si Han saja? Tapi tidak tidak. Mau ku taruh mana mukaku? Aku kan baru saja mengusirnya. Tuhan aku bingung. Yu sudah deh, dari pada rasa penasaranku terus menghantuiku lebih baik aku tanyakan saja pada Han. Kali ini memang aku yang salah, aku terlalu berlebihan padanya.
Aku langsung memegang lengan Han dan menariknya.
“Adik gue yang paling ganteng memangnya informasi apa?”
“Yee tadi aja ngusir-ngusir, giliran dengar nama Bang Tara aja mendadak jadi baik.”
“Hehehe… maaf adik gue yang paling ganteng kali ini emang gue yang salah. Gue yang terlalu berlebihan. Ya meskipun kita sering berantem tapi kayaknya kali ini terlalu melampaui batas deh.”
“Sudah deh Can, nggak usah basa-basi. Lu mau informasi tentang Bang Tara kan?” kata Han sambil duduk di sebelahku.
“Dih sok jual mahal banget sih!”
“Kok nyolot? Yaudah gue pergi.”
“Eh sorry gue yang salah. Maafin gue ya. Oh iya informasi apa sih?”
“Kalau lu mau tahu, lu harus penuhin satu syarat dari gue. Gimana?”
“Kok pake syarat segala sih? Kayak mau daftar sekolah aja.”
“Yee mau nggak? Kalau nggak juga nggak apa-apa. nggak masalah, toh nggak ada pengaruhnya sama gue. Dan perlu lu ingat kalau di dunia ini nggak ada yang gratis!”
“Dasar mata duitan lu!”
“Mau nggak nih? Kalau nggak mau gue keluar nih?”
“Iya iya, syaratnya apa? Awas lu jangan yang ribet-ribet.”
“Beres. Syaratnya cuma lu besok harus ikut gue jogging terus siangnya lu harus traktir gue makan es krim dan setelah lu tahu informasinya lu nggak boleh marah sama gue. Gimana? nggak ribet kan?”
“Iya deh, gue turutin semua mau lu kali ini. Sekarang apa informasinya?”
“Deal dulu dong!” kata Han sambil menjabat tanganku.
“Jadi informasinya apa, Curut?”
“Jadi waktu Bang Tara ke sini nitipin surat ke gue, Dia bilang katanya mau ke sini dan nemuin lu di hari pertama kita libur sekolah.”
“Apa? Itu kan informasinya sudah lama Curut! Kenapa baru ngomong sekarang?”
“Itu kan lu marah! Ingat tadi sudah janji.”
“Licik lu! Sabar… sabar!”
“Gue tagih janji lu besok!” kata Han sambil meninggalkan kamarku.
Dasar si Curut! Licik banget sih tu anak? Bisa-bisanya manfaatin gue kayak gini. Mana gue mau dimanfaatin lagi. Gila! Tapi senang juga sih, akhirnya bisa ketemu sama si Tara lagi. Perasaan akhir-akhir ini yang rajin belajar gue tapi kenapa Han yang makin pinter sih.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *