Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Merawat Kerabat Yang Terkena Covid-19

#Kisah bu D
Adik bu D terpapar covid beberapa waktu yang lalu, dia bercerita :”Adikku batuk-batuk dan sesak nafas, saya dan suami ke sana ke mari mencari tabung oksigen…susah dapatnya dan mahal harganya.
Harga antivirus yang namanya X, sekitar Rp 2 juta lebih…😭”

Untungnya bu D diberi kemampuan dalam hal finasial, rumahnyapun tidak hanya satu, jadi si adik yang terpapar bisa diungsikan di rumah satunya lagi, sampai sembuh, sehat sempurna seperti sedia kala, tanpa menulari anggota keluarga yang lain.

#Kisah bu B
Ibu B tak seberuntung bu D, rumahnya tidak ada kamarnya, hanya ada teras kecil dan di dalam hanya ada tempat nonton TV, di mana kasur tanpa tempat tidur digelar untuk tidur seluruh anggota keluarganya.

Bu B tidak membeli antivirus untuk si pasien, tidak sibuk mencari tabung oksigen, dia merawat si pasien sesuai kemampuannya dan keadaannya, pasien tetap tinggal di rumah itu, nggak diungsikan ke mana-mana. Entah bagaimana cara mereka memisahkan si pasien dengan yang sehat, saya sungkan untuk bertanya, karena dia nggak cerita…☺

Syukur kepada Tuhan tak satupun anggota keluarga bu B lain yang terpapar, semua ditest negatif.

Sekarang si pasien juga sudah sembuh, sehat sempurna dan sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala.

#Kisah pak Jinjing – Ini paling seru.( Karena pak Jinjing ceritanya lengkap banget )

Sebut saja namanya pak Jinjing, tinggal daerah buah batu Bandung.

Kisahnya begini :

Pada suatu sore, saat hujan tipis-tipis ( lebih ringan dari gerimis…terasa hujan, tapi nggak terlihat hujan, kurang lebih begitulah gambarannya ), anak bungsu pak Jinjing pergi beli martabak naik motor, pakai celana pendek dan kaos tanpa lengan…e…malamnya si anak panas, dikira flu biasa, karena pergi beli martabak di saat hujan tipis-tipis nggak pakai jaket, ternyata 2 hari panas tidak reda, dibawa kedokter, test covid…positif…lalu isoman.

BACA JUGA :   Resep sapo tahu

Mama si anak atau istri pak Jinjing yang 2 hari merawat si anak, ikut test juga dan…positif.

Merekapun ditempatkan di kamar terpisah, kini pak Jinjing harus merawat 2 pasien.

Istri pak Jinjing mengalami gejala yang agak berat, demam tinggi, lemas, tidak doyan makan, tapi pak Jinjing tidak bisa mendekat untuk merawat secara langsung, hanya bisa melihat dari jendela sambil terus berjaga, barangkali istrinya membutuhkan sesuatu…sedih katanya, karena saat kondisi sedang sakit begitu, seharusnya keluarga bisa merawat, mengolesi kayu putih, meminumkan obat dan sebagainya, tapi ini hanya bisa dia lihat dari luar kamar.

Pada suatu hari, kala istri dan anak bungsu pak Jinjing masih dalam perawatan, anak sulung pak Jinjing yang kerja di luar kota ada rapat di Bandung, sebelum hadir rapat harus melakukan test covid dulu…dan testnya ternyata positif…, jadi diapun pulang ke rumah…isoman.

Pak Jinjingpun merawat 3 pasien covid di rumahnya.

Menurut pak Jinjing, saat keluarganya membutuhkan anti virus dan tabung oksigen, biaya besar harus keluar, karena harga kedua jenis barang tersebut sangat mahal, selain mahal nyarinyapun susah.

Pak Jinjing yang tinggal di Buah Batu, baru dapat anti virus di sebuah apotik di daerah Cimahi. Dapat tabung oksigen di daerah Ujung Berung, itupun bekas.

Pak Jinjing bertekad untuk sehat dan jangan sampai terpapar, karena kalau pak Jinjing sampai terpapar, kemudian terkapar, siapa yang akan merawat keluarganya, dia bersemangat untuk tetap sehat dan berupaya keras menyehatkan keluarganya tak peduli berapapun biayanya…kebetulan pak Jinjing diberi kelimpahan rejeki dalam hal materi, sehingga biaya tidak menjadi masalah buat dia.

Apapun makanan yang diminta istrinya dan anaknya, pak Jinjing berusaha menyediakan, entah datang langsung ke gerai makanannya, atau pakai jasa pesan online. Yang penting keluarganya makan lahap, gizi terpenuhi dan cepat sehat.
Alat makan istri dan anaknya dipisah.

BACA JUGA :   Cara membuat cilok enak

Untuk menjaga dirinya tetap sehat, semua bekas makan keluarganya dia semprot desinfektan, baru dia cuci.

Untuk menjaga lingkungannya, sampah bekas anak-istrinya dia pisahkan dari sampah lain dan dia beri tulisan :’sampah pasien covid’

Saat anak istrinya sudah sehat dan melakukan test covid pak Jinjing juga ikut test dan mereka berempat testnya negatif.

Di masa pandemi ini sungguh banyak yang tidak saya pahami, yang abai yang taat, tetap ada yang terpapar, yang miskin dan yang kaya bila terpapar cara sembuhnyapun beda-beda, sesuai kemampuannya…

Bagi saya pandemi ini adalah misteri Ilahi…

Berdoa, berupaya, pasrah dan berserah…lebih baik begitu, daripada bingung mencari tahu dapatnya informasi palsu, bukan mencerahkan malah menggelapkan…😊

Salam sehat, penuh berkat untuk kita semua…🙏🏻🙏🏻

Semoga pandemi cepat berlalu…

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: