• Jum. Jul 30th, 2021

Berkorban di Masa Pandemi Covid-19

ByArkufa

Jul 20, 2021

Untuk mencapai cita-cita atau impian, seseorang harus berkorban terlebih dahulu. Dahulu, Nabi Ismail As mengorbankan dirinya untuk disembelih, sedangkan Nabi Ibrahim As mengorbankan anaknya (Nabi Ismai As) untuk disembelih karena perintah Allah Swt. Pengorbanan yang ikhlas tersebut berujung digantinya Nabi Ismail As dengan domba saat disembelih oleh Allah Swt.

Pengorbanan harus didasari keikhlasan agar hasil yang dihasilkan maksimal dan terbaik. Untuk mengabadikan dan sebagai pembelajaran terkait pengorbanan Nabi Ibrahim As dan Ismail As tersebut, umat Islam saat mempengeringati Idul Adha, dianjurkan bagi yang mampu untuk menyembelih hewan qurban seperti sapi, kambing, domba, dan hewan yang boleh disembelih lainnya. Selain itu, dagingnya dibagikan juga ke orang-orang fakir dan miskin.

Ritual ibadah menyembelih hewan qurban mengajarkan kita hubungan dua arah, yakni hubungan kepada Allah (Hablumminallah) dan hubungan kepada manusia (hablumminannas). Hubungan dengan Allahnya adalah menjalankan perintah Allah agar menyembelih hewan qurban bagi yang mampu, sedangkan hubungan dengan manusianya yakni membagikan daging hewan qurban kepada orang-orang yang membutuhkan.

Menyembelih hewan qurban juga merupakan simbol untuk mengajarkan kita untuk menyembelih sifat hewan yang ada di diri kita. Sifat-sifat hewan itu bisa disebut hal-hal di hati manusia yang dipenuhi hawa nafsu.

Pengorbanan Disaat Pandemi Covid-19

Di masa pandemi Covid-19 tahun ini, kegiatan sholat Idul Adha dan kegiatan penyembelihan hewan qurban sangat dibatasi. Saat ini ada aturan PPKM darurat, di zona merah sholat Idul Adha disarankan untuk ditiadakan di masjid dan lapangan, kemudian disarankan untuk dilakukan di rumah masing-masing.

Bagi penulis, khusus di zona merah atau wilayah yang penyebaran virus Covid-19 tinggi, salah satu pengorbanan yang harus dilakukan dengan ikhlas adalah mengikuti protokol kesehatan yang diwajibkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Di antaranya memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, tidak bersalaman, tidak berkerumun, dan lainnya. Hal itu merupakan bentuk pengorbanan untuk mengurangi risiko dan menghindari penyerbaran virus menular berbahaya tersebut.

BACA JUGA :   Makna Egois dan Keras kepala bagi Manusia

Pemerintah di satu sisi terlihat seperti membatasi dan mengurung masyarakat untuk tidak bebas bergerak dan berinteraksi. Akan tetapi, hal itu di lain sisi positif agar virus tidak gampang menyebar dan berevolusi. Terkait dampak negatif dari pembatasan interaksi memang banyak, salah satunya perekonomian masyarakat berkurang bahkan bisa sampai berhenti.

Ada orang yang profesinya memang bisa dikerjakan lewat rumah, adapula juga yang harus dikerjakan di luar rumah. Orang yang bekerja di luar rumah, di antaranya menerapkan protokol kesehatan yang sudah disebutkan tadi. Jika pengorbanan tersebut dilakukan dengan ikhlas, maka virus tidak mendekat dan kasus positif bisa menurun, dan harapannya pelan-pelan bisa menghilang.

Foto: Arkufa

Arkufa (11)

Tetaplah berbuat baik, meski apapun yang terjadi.

Bagikan Yok!

Arkufa

Tetaplah berbuat baik, meski apapun yang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *