• Jum. Jul 30th, 2021

Sepotong Elegi Tipis (Bab 2 Apakah Ini Cinta?)

Bymutiaradee

Jul 19, 2021

“Ku korbankan segalanya untuk mendapatkannya
cinta, kasih sayang, dan waktu
demi kebahagiaannya
namun apa yang ku dapat?
pengkhianatan dari seorang sahabat”
– Tiara –

“Tak selamanya apa yang kita pandang baik
akan memberikan kita kebahagiaan
dan tak selamanya apa yang dianggap salah
akan berakhir pada kekecewaan”
– Tara –
Tiba-tiba saja Ibu memanggilku sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Hal tersebut membuatku kaget dan hampir jatuh dari tempat tidur.
“Ra, dicari!”
“Hampir saja jatuh. Iya Bu,”
“Cepat sudah ditunggu tuh!”
Aku langsung keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
Bodohnya aku, kenapa aku tidak tanya terlebih dahulu siapa yang mencariku. Kalau yang mencariku Dila atau Tantr,. bagaimana?
Saat aku sedang sibuk dengan pemikiranku, tanpa kusadari aku sampai di ruang tamu. Yah walaupun sebelumnya hampir menabrak tembok. Oh Tuhan, aku masih tidak percaya. Terima kasih Kau telah mengabulkan doaku. Ternyata yang mencariku Tara, sahabatku dari kecil. Orang yang selalu mengerti aku. Lagi-lagi celaan Han mengagetkanku.
“Hei, kok malah bengong sih? Sudah ditunguin dari tadi tahu, makanya jadi orang jangan lelet!” cela Han.
Huuhh, dasar adik kurang ajar! Tega-teganya dia mencelaku di depan Tamu. Yah walaupun tamunya sahabatku sejak kecil, yang sudah biasa main ke rumah. Tapi tetap saja keterlaluan. Awas saja nanti! Untung saja aku tadi mengurungkan niatku untuk berbagi cerita dengannya kalau tidak pasti jadi pasti mulutnya sudah ember kemana-mana. Ya begini lah, kalau aku sudah bertemu dengan Han. Pasti bertengkar dan tidak bisa akur.
“Yah, Bu aku mau ngajak Ara keluar bentar boleh nggak?” Tara meminta izin pada Ayah dan Bunda.
Tara memang sudah terbiasa memanggil Ayah dan Ibu dengan sebutan seperti itu. Mungkin karena kedekatan keluarga kami. Bahkan aku memanggil orang tua Tara dengan sebutan Mama dan Papa.
“Iya, tapi pulangnya jangan malam-malam ya!” jawab Ayah.
“Siap Yah!”
“Hati-hati Kak Tara, entar dicakar! dia orangnya ganas lo!” ejek Han
“Han, memang gue kucing sukanya nyakar.”
“Kalau lu bukan kucing lagi, tapi macan!”
“Dasar curut, awas aja entar!”
Han justru menjulurkan lidahnya padaku. Huuh, awas saja nanti! Oh iya, aku memang sering memanggil Han dengan sebutan curut. Karena ulahnya sndiri yang hobi mengambil bahkan mencuri makananku. Apalagi sebutan yang pantas kalau bukan curut.
Setelah itu, aku langsung keluar bersama Tara.
“Rasanya kayak mimpi bisa lihat lu lagi. Sudah lama banget kita
nggk ketemu.” Aku membuka pembicaraan.
“Iya ya, gue sudah kangen banget sama lu, Mbem!” jawab Tara.
“Oh iya, kok lu bisa kesini?”
“Hari ini kan hari Sabtu, jadi gue bisa main ke sini deh.”
“Terus lu balik kapan?”
“Besok sore.”
“Hahh? Serius lu? Nggak seru nih, padahal gue masih pengen cerita
banyak sama lu. Masak lu keburu pulang sih?”
“Ya gue pengennya juga di sini lama, tapi mau gimana lagi? Gue juga
harus ngurusin sekolah gue yang di sana.”
“Iya juga sih.”
“Tapi muka lu jangan ditekuk gitu dong! Tenang aja, liburan gue pasti ke
sini kok.”
“Lu serius? Lu nggak bohong kan?”
“Ya nggak lah, untung apa coba kalau gue bohong sama lu?”
Itulah aku dan Tara. Kami tidak pernah memanggil nama asli kami. Tara selalu memanggilku “Mbem atau Embem” dari kata “Tembem” karena pipiku yang tembem seperti bakpau ini. Oh iya waktu kecil Tara suka sekali memanjat pohon seperti monyet. Apalagi kalau dia lagi ngambek, wah bisa bikin orang tuanya bingung karena dia pasti naik pohon dan tidak mau turun. Kalau sudah kayak gitu sih, hanya aku yang bisa membujuknya turun. Itu kenangan indah yang tidak bisa terlupakan. Sayangnya kami tidak bisa setiap hari ketemu, soalnya Tara tinggal di luar kota mengikuti pekerjaan Ayahnya. Setidaknya dia tidak pernah melupakanku.
Kami juga membuat perjanjian. Jika suatu saat ia memanggil nama asli ku, maka hubungan kami seketika akan berubah. Entah itu membuat kami semakin dekat atau justru menjauhkan kami. Itulah perjanjian kami. Dan saat ini baru aku sadari, aku takut suatu saat nanti perjanjian itu justru menjebak kami di dalamnya.
“Oh iya, kita duduk di situ aja yuk!” sambil ku tunjuk kursi di pinggir jalan.
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ra gimana? Kalau ngambek masih suka naik pohon?”
“Hahahaha, lu masih ingat aja. Kalau sekarang sih sudah nggak. Tapi kalau gue lagi galau, di atas pohon memang tempat terbaik untuk menenangkan diri.”
Aku hanya tersenyum. Sunyi dan senyap keadaannya saat ini. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lu.” kata ku dan Tara bersamaan.
“Lu dulu!” kata Tara.
“Nggak lu dulu aja!” kata ku.
“Kalau kayak gini kapan selesainya? Lu aja deh, Mbem.”
“Oke.”
“Kenapa? Kok muka lu tiba-tiba lesu gitu sih”
“Gue lagi galau .”
“Ha? Galau? Pasti masalah percintaan? Iya kan?”
Aku hanya mengangguk pelan. Akhirnya ku ceritakan semuanya pada Tara.
“Jujur gue juga nggak mau semua ini terjadi, tapi rasa ini tumbuh begitu saja. Gue juga bingung gimana cara gue mengendalikan perasaan ini. Kasih tahu gue gimana caranya? Apa gue harus menghindar dan mencoba melupakan dia?”
“Jangan coba-coba menghindar dan melupakan dia, semakin lu berusaha melupakan dia semakin lu ingat terus sama dia. Lu jalani saja apa adanya, lu pasti dapat orang yang lebih baik dari dia.”
“Terus gimana cara gue menjalani ini semua?”
“Lu isi aja waktu luang lu buat belajar, mengasah bakat lu, bantu orang tua lu. Untuk sementara waktu coba lu lakuin deh. Lagian satu minggu lagi liburan Mbem, gue janji gue bakal liburan di sini kok, lu tenang aja.”
Tanpa terasa air mataku mengalir begitu deras. Saat aku mengusah air mataku dan ku tengok ke sebelah, Tara tak lagi disebelahku. Kemana dia? Sahabat macam apa? Masak ninggalin sahabatnya sendiri yang lagi nangis kaya gini. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memberiku permen dari belakang. Dan ternyata orang itu adalah Tara.
“Nih biar lu nggak nangis lagi!” kata Tara sambil memberikan permen padaku.
“Gue bukan anak kecil lagi.”
“Tapi lu masih suka permen kan? Gue nnga bakal lupa sama sahabat gue sendiri.”
Aku tersenyum lega.
“Nah gitu dong senyum, kan lebih cantik. Oh iya, apa kabar gigi lu?”
“Ha? Kok gigi sih?”
“Ya kan sampai sekarang lu suka makan permen.”
“Lu bisa aja . Emang cuma lu yang bisa bikin gue ketawa.”
“Kita pulang yuk kayaknya sudah malam deh.”
“Tapi katanya lu mau ngomong sesuatu?”
“Sudah besok aja, lagian nggak begitu penting kok. Kita pulang yuk! Entar kalau malam-malam gue bisa dibantai sama Ayah.”
“Bisa aja.”
Entah kenapa hatiku tidak tenang. Menurutku ada yang disembunyikan Tara dariku. Tapi, ya sudah lah toh Tara sudah janji kalau dia akan menceritakan semanya padaku. Lebih baik aku pulang sekarang, semua orang di rumah pasti telah menungguku. Ya, semua orang selain Han si curut itu.
Sesampainya di depan rumah, Tara berpamitan kepadaku dan pulang.
“Mbem, gue pulang dulu, ya!”
“Lu tadi mau ngomong apa?”
“Lain kali aja deh gue cerita, inikan sudah malam.”
“Tapi lu janji ya, harus cerita sama gue. Gimana kalau besok?”
“Emm, boleh juga. Sudah dulu ya gue mau pulang.”
“Hati-hati di jalan ya, !”
“Iya Mbem.”
Setelah Tara pulang, aku segera masuk ke dalam rumah. Akhirnya aku bisa berbagi cerita dengan sahabatku, satu-satunya orang yang mengerti aku. Apalagi kami sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba saja Han mengagetkanku.
“Cie yang lagi senang, sampai senyum-senyum sendiri gitu.”
“Apaan sih lu, dasar curut!”
“Ih kan kenyataan, macan.”
“Awas ya!”
Aku berlari mengejar Han. Akhirnya kami kejar-kejaran deh. Kayak anak kecil. Kemudian Ayah datang dan menghentikan pertengkaran kami.
“Eh apa-apaan ini?”
“Han yang mulai, Yah.”
“Kok gue sih, orang Kakak duluan kok.”
“Sudah-sudah jangan berantem dong! Malu sama umur!”
“Tuh, dengarin!”
“Kok jadi gue yang salah sih?”
“Sudah, kok malah dilanjutin sih. Jangan sampai suara kalian mengganggu tetangga.”
“Tuh dengarin Han!!”
“Iya iya.”
Setelah itu aku langsung masuk ke dalam kamar. Lalu ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Sudah jam 10 malam. Tapi tetap saja aku tidak mengantuk. Sekarang yang ku lakukan hanya berbalik ke kanan dan ke kiri di atas kasur sambil berbaring. Jujur aku sangat bingung sekali, rasanya mataku ini memang tidak bisa diajak kompromi.
Jadi ingat waktu aku masih kecil. Aku selalu main sama Tara. Dimana ada aku disitu ada Tara. Padahal rumah kami dulu cukup jauh. Bahkan Tara sering sekali main ke rumahku tanpa izin dari orang tuanya. Akhirnya orang tuanya ke rumahku dan mencari Tara. Memang bandel sekali anak itu. Apalagi kalau sudah ngambek, wah bisa-bisa merepotkan orang sekampung. Ya, itulah pengalaman masa kecil yang tidak bisa terlupakan. Kalau bahas masalah itu sih, sehari juga tidak bakalan cukup. Terlalu banyak kenangan yang indah, kejadian-kejadian konyol, pertengkaran-pertengkaran kecil yang kalau diingat bisa bikin ketawa sendiri.
Tapi sekarang aku dan Tara jadi jarang ketemu. Setelah kami lulus TK, Tara pindah keluar kota mengikuti Papanya yang tugas kerjanya dipindahkan di luar kota. Ya, mau gimana lagi itu kan sudah menjadi keputusan Papanya, toh itu juga demi kebaikan Tara. Oh iya, jadi kangen sama Mama dan Papanya Tara. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Ada sekitar 11 tahun, terakhir aku bertemu mereka ketika perpisahan TK. Tapi senang sekali bisa bertemu Tara. Dia banyak berubah. Pastinya berubah jadi lebih baik.

BACA JUGA :   Al Hamdy

Dear Diary,
lega…
hanya itu yang bisa aku ucapkan. Terimakasih Tuhan, Kau telah mengabulkan permintaanku. Kau kirimkan teman berbagi yang sangat baik. Bahkan menurutku Tara itu bukan hanya teman baikku, dia juga sahabat terbaikku. Yang selama ini ku rindukan kedatangannya.
Aku masih tak menyangka, kalau Tara masih ingat sama aku. Ku pikir dia sudah lupa dan memiliki sahabat yang lebih baik dari aku. Ternyata itu hanya pemikiranku saja, buktinya dia masih mau menemui sahabat masa kecilnya ini. Dia juga masih memanggilku mbem.
Makasih ya, . Lu sudah mau menyisihkan sedikit waktu buat ketemu gue setelah hampir 11 tahun kita tidak ketemu. Makasih juga lu sudah mau dengarin curhatan gue hari ini. Rasanya gue tidak pengen malam ini cepat berlalu. Tapi mau gimana lagi malam tetap berlalu dan lu besok sudah harus pulang. Setidaknya gue senang banget soalnya liburan nanti kita bakal menghabiskan waktu berdua. Ya, sekalian nostalgia lah. Oh ya, gue tunggu juga cerita lu besok. Semoga aja itu cerita yang menyenangkan. Gue selalu berdoa kok supaya lu dikasih kebahagiaan yang berlimpah.
Diary,
Sekarang aku bingung banget sama perasaanku sendiri. Bayangkan saja, sebelum Tara datang aku galau habis-habisan. Bahkan diajak si curut berantem aja nggak aku ladenin. Tapi nih ya, setelah aku jalan dan berbagi cerita sama dia rasanya tuh beda banget. Jadi lebih lega dan semua masalah yang aku alami sekarang hilang seketika.


“Ra… bangun sudah siang!”
Teriakan Ibu membangunkanku. Awalnya sih aku mendengarnya. Aku juga sempat duduk lagi. Tapi setelah ku pikir-pikir ini kan hari Minggu jadi tidak ada salahnya dong kalau aku bangun siang. Toh tanggunganku mencuci baju sudah ku selesaikan hari Jumat kemarin. Akhirnya aku menarik selimutku yang awalnya hanya menutupi setengah tubuhku, sekarang justru menutupi seluruh tubuhku dan tidur lagi. Selang beberapa jam, Han membangunkan ku dengan cara yang tidak sopan. Bayangkan saja dia membuka jendela kamarku dan memukuliku menggunakan bantal. Sontak membuatku kaget dan memaksaku bangun dari tidurku yang nyenyak.
“Dasar curut, ganggu aja!”
“Sudah siang nih, molor mulu!”
“Biarin orang hari Minggu.”
“Dasar macan, bukannya kemarin sudah janjian sama Bang Tara?”
“Oh iya.” Kata ku sambil menepuk dahiku.
Aku segera bangun dan mandi. Jangan sampai aku mengecewakan Tara. Apalagi setelah ini dia akan pulang. Setelah aku siap, aku segera ke dapur dan meminta izin pada Ibu untuk menemui Tara. Saat aku mau meminta izin pada Ibu, tiba-tiba saja Han datang dan memotong pembicaraanku.
“Bun, aku mau…”
“Mau kemana Kak kok rapi banget?”
“Rahasia dong mau tahu aja!”
“Mau ketemu sama Bang Tara ya?”
“Apaan sih sok tahu!”
“Alah sudah deh nggak usah bohong! Oh iya nih surat dari Bang Tara.” Sambil memberikan suratnya.
“Hahh? Surat? Surat apa?”
“Mana gue tahu! Oh iya tadi Bang Tara pesan katanya nggak bisa jalan bareng Kakak hari ini, katanya sih mau pulang.”
“Hah? Pulang? Kok buru-buru banget sih, padahal dia kan sudah janji sama gue.”
“Katanya sih ada urusan mendadak gitu.”
“Dasar curut, kenapa baru bilang sekarang sih? Tahu gini kan gue tidur lagi.”
“Kalau nggak kayak gini lu juga nggak bakal bangun.”
Aku langsung pergi meninggalkan Han dan kembali ke kamarku. Kenapa Tara tidak bilang langsung sih? Kenapa harus pakai surat-suratan kayak gini? Ribet banget.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *