Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis (Bab 1 Terlambat)

“Saat hati menemukan tambatannya,
saat cinta tumbuh di dalamnya,
dan saat kasih melengkapi kekurangannya
saat itulah cinta perlu diperjuangkan”

“Ketika dia memilih cinta lain, ketika dia menambatkan hatinya pada orang lain dan ketika otak harus mengambil keputusan antara hati dan logika”
– Tiara –

Siang yang sangat panas membuat aku malas untuk belajar, belum lagi jam kosong terus saja berdatangan. Jujur kadang aku sering berdoa supaya ada jam kosong, namun jika seperti ini sudah keterlaluan. Bagaimana tidak? dari pagi sampai siang dianggurin terus. Bibirku ini lama-lama bisa copot kalau disuruh ngobrol sama teman-teman yang topik pembicaraannya ngelantur nggak karuan, ngetan ngulon ngalor ngidul, tidak jelas gitu. Suasana kelas yang sangat ramai itupun mendadak menjadi hening saat aku mendengar bahwa orang yang sedang aku kagumi, menyukai sahabatku sendiri. Rasanya bagai tenggelam di laut lepas, dihantam batu karang, dan jatuh di dasar perut bumi. Sudah lama aku memendam rasa ini, dan ketika aku mulai dekat dengannya, dia justru memilih sahabatku sendiri. Terlambat sudah!
Apa? dia? dia yang selalu berbagi cerita bahagia dan kesedihannya padaku. Dia yang selalu bisa membuatku tertawa. Dia yang selalu mengisi hari-hariku penuh dengan keceriaan. Dia yang kadang membuatku marah dan jengkel. Dia yang selalu bertengkar denganku. Dia yang diam-diam ku perhatikan. Dia yang membuatku tersenyum karena tingkah konyolnya. Ternyata menyukai sahabatku sendiri? Kuatkan aku Tuhan.
Tapi kenapa dia tidak menceritakan itu padaku? Apa dia takut melukai hatiku? Tapi kenapa harus takut? Apa dia sudah tahu tentang perasaanku? Kalau dia sudah tahu, darimana dia tahu? Siapa yang memberitahunya? Setahuku tidak ada seorangpun yang tahu kalau aku diam-diam mengaguminya.
Dia adalah Tantra. Iya, Tantra temanku sendiri. Teman yang baru ku kenal. Teman yang tanpa sengaja membuatku menjadi pengagum rahasianya. Teman yang membuatku mungkin bisa dibilang jatuh cinta padanya. Teman yang bisa merobohkan dinding terjal dalam hatiku. Dan dia juga lah yang melukai hatiku. Membuat semua keakraban penuh dengan kebohongan.
Mungkin memang seperti ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai teman. Ya, hanya sebatas teman. Tapi seiring bergantinya waktu, perasaan itu mulai tumbuh. Aku mulai merasa nyaman dengannya. Ya, walaupun kadang dia usil dan membuatku jengkel. Tapi aku rasa itu hanya caranya untuk menarik perhatianku.
And finally, perkiraanku selama ini salah. Ku kira dia juga merasakan apa yang ku rasakan. Tapi semua itu salah. Salah besar! Selama ini dia mendekatiku hanya untuk mengetahui informasi tentang si Dila, sahabat terdekatku yang disukainya. Huuuhh, bodohnya diriku yang tak pernah menyadari semua itu. Yang terlena dengan perlakuan baiknya. Yang menganggap semua perbuatannya tulus dari hatinya. Dan sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa dia menyukai Dila. Awalnya aku memang tidak mengetahuinya. Namun setelah kupikir-pikir berita ini ada benarnya. Aku membandingkan sikapnya dengan teman-temannya termasuk aku dan sikapnya kepada Dila. Dia akan lebih halus, jaim, dan selalu ingin membuat Dila terkesan. Dan semua informasi ini ku ketahui dari Fandy, salah satu sahabat Tantra.
Rasanya nyesek banget. Kalau endingnya cuma dimanfaatin. Mending nggak usah ketemu sekalian, nggak usah kenal sekalian. Biar nggak ada lagi nih yang namanya cinta terpendam. Dan mulai sekarang aku akan menutup hatiku pada siapapun. Yahh siapapun! Mungkin saja mulai kali ini hatiku telah mati akan rasa cinta dan kasih sayang. Tak kan ku pegang walau sedikit. Kenapa sih perasaan ini harus ada? Entah lah perasaan memang tidak bisa disalahkan, semua itu tumbuh dan terjadi karena keadaan. Mungkin sebaiknya dia tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Karena mulai sekarang perasaan itu sudah hilang. Bahkan aku merasa bahwa aku tidak pernah merasakan cinta. Tidak pernah dan tidak akan pernah! Atau dia akan merasa sangat bersalah setelah mengetahui semua ini.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menggelitiku dari belakang dan membuat ku tersadar dari lamunanku. Saat aku menengok ke belakang ternyata itu Tantra. Entah kenapa setelah melihat wajahnya hati ini serasa terbakar amarah. Aku langsung saja pergi. Saat aku beranjak pergi, tiba-tiba saja aku menabrak pundaknya. Spontan aku melihat wajahnya yang tampak bingung, lalu aku langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata sedikitpun.
Aku berlari menuju kamar mandi cewek, mungkin ini tempat yang aman untukku bersembunyi darinya. Mataku saat ini mulai berkaca-kaca, entah kenapa air mata mulai membasahi pipiku. Bahkan aku sendiri tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa aku harus menangisi seseorang yang jelas-jelas hanya memanfaatkanku. Seseorang yang mendekatiku hanya untuk mencari keuntungan saja. Seseorang yang belum tentu memikirkanku setiap kali aku memikirkannya. Seseorang yang telah memanfaatkan ketulusan hatiku.
Brokk… Brokk.. Brokk…
Terdengar suara orang yang menggedor-gedor pintu sangat keras.
“Woy, cepetan dong gantian! Udah diujung nih.”
Seketika aku langsung membasuh muka dan keluar dari kamar mandi.
“Lama banget di kamar mandi, buang air apa luluran?” cela orang yang menggedor-gedor pintu tadi. Tidak habis pikir, orang yang tadinya kebelet dan katanya sudah diujung masih sempat-sempatnya nyela orang lain. Untung saja aku tidak terpancing emosi. Tapi salut deh buat orang tadi, sudah bisa buat aku ketawa. Makasih ya!
Setelah itu aku langsung masuk ke kelas. Baru saja aku menapakkan kakiku di depan pintu. Tiba-tiba saja bel panjang berbunyi dan itu artinya waktunya pulang. Semua anak langsung mengambil tasnya dan segera pulang. Saat aku masuk kelas, ku lihat dia sedang asyik ngobrol sama Dila dan terlihat sangat akrab. Kenapa aku harus melihatnya? Kenapa hal ini terjadi tepat di depan mataku? Aku belum bisa menyikapi semua ini dengan bijak. Langsung saja ku ambil tas di bangkuku dan keluar dari kelas ini. Tapi tiba-tiba saja ada tangan yang menahanku untuk keluar. Saat ku lihat ke belakang ternyata Tantra yang menggenggam erat lenganku dan berusaha untuk menahanku. Dia lagi, dia lagi. Rasanya aku sudah muak melihat topeng wajah polosnya! Mau apalagi dia menahanku? Masih tidak puas? Langsung aku kibaskan tangannya dan pergi meninggalkannya. Mungkin memang lebih baik kita seperti ini, agar tidak ada lagi yang tersakiti entah itu aku, Dila atau Tantra.
Sesampainya di rumah, aku segera mandi dan membersihkan tubuhku. Setelah itu, aku ke kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur yang cukup empuk ini. Kenapa harus masalah cinta yang ku hadapi? Apa mungkin sudah takdir remaja seusiaku merasakan jatuh cinta, patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan, dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadi masalah remaja seusiaku. Cinta, cinta dan cinta. Itu lagi yang ku dengar. Memang benar tanpa cinta aku tak mungkin tumbuh sebesar ini. Bahkan kalau Ayah dan Bunda tidak mencintai dan menyayangiku, mungkin aku tidak akan tumbuh sebaik dan setangguh ini. Ya, itulah cinta satu kata, dua suku kata yang kadang menjadi sumber kebahagiaan dan penderitaan. Kadang membuat orang tertawa dan terluka. Kadang membuat seseorang semangat dan mengeluh. Kadang juga membuat seseorang tersenyum dan kecewa. Itulah cinta, kata yang sangat indah walau kadang menyakitkan. Memiliki dua makna yang bersimpangan. Hanya orang-orang tertentulah yang dapat bahagia karena cinta. Lama – lama aku benar – benar muak mendengar kata itu. Cinta!! Akhirnya ku putuskan untuk menulis diary sambil mendengarkan lagu.
Bodohnya diriku slalu menunggumu
Yang tak pernah untuk bisa mencintai aku
Oh Tuhan tolonglah beri aku cara
Untuk dapat melupakan dia dan cintanya

BACA JUGA :   Menata Mural, Menghidupkan Seni Jalanan

Dear diary,
Lelah…
Hanya kata itu yang dapat ku ucap. Aku masih tak menyangka, kenapa semua ini bisa terjadi? Dan kenapa masalah cinta lagi yang harus ku  hadapi? Huhh, kalau boleh memilih rasanya aku ingin kembali seperti dulu lagi. Anak kecil yang polos dan tidak mengetahui apapun tentang cinta. Bahkan kalau menangis, itupun karena mainan yang direbut teman.  Kalau ingin melihatku berhenti menangis, hanya butuh permen sebagai penenangnya. Bahkan hal sesepele itu sudah membuatku berhenti  menangis. Tapi apa boleh buat, itu hanya masa lalu yang akan menjadi kenangan. Mana mungkin bisa terulang lagi. Kini yang bisa ku perbuat adalah menghadapi semuanya. Ya, semua masalah yang ada. Mau bagaimana lagi, apa aku harus lari dari kenyataan? Itu rasanya tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Masalah itu harusnya dihadapi bukan dihindari. Walaupun rasanya seberat ini. Jujur aku butuh seseorang yang dapat mengerti aku, seseorang yang mau mendengarkan isi hatiku, seseorang yang mau berbagi cerita denganku. Tapi siapa? Ayah? tidak mungkin beliau terlalu lelah seharian bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecil ini. Ibu? Tidak mungkin beliau pasti sangat repot  menyiapkan segala keperluan Ayah, aku dan adikku. Atau Han, adikku sendiri? Ah tapi mana mungkin dia  mau, pasti dia sibuk dengan band, tugas sekolahnya dan lain-lain. Lalu kalau bukan mereka siapa yang akan membantuku? Oh Tuhan, ku mohon kirimkan seseorang yang dapat membantuku.
Coba sini
Duduk sebentar lalu minum kopi
Ah aku lupa, sebentarku berbeda dengan sebentarmu
Sebentaru membuatku candu, sebentarmu hanya semu
Bahkan untuk sekebar berucap pun tak bisa seirama
Bagaimana mau senada dan serasa?
Kalau bergumam pun tak sama
Oh iya lupa, sudah ada dia yang kau sapa
Kau pandang lekat dalam bola mata yang pekat
Lalu aku ini apa?
Bulu mata yang kau gunakan untuk tameng luka dan air mata?
Lucu sekali memang
Bahkan aku sudah tahu namun tetap bertahan
Tiba-tiba saja Ibu memanggilku sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Hal tersebut membuatku kaget dan hampir jatuh dari tempat tidur.
“Ra, dicari!”
“Hampir saja jatuh. Iya Bu,”
“Cepat sudah ditunggu tuh!”
Aku langsung keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
Bodohnya aku, kenapa aku tidak tanya terlebih dahulu siapa yang mencariku. Kalau yang mencariku Dila atau Tantr,. bagaimana?
Saat aku sedang sibuk dengan pemikiranku, tanpa kusadari aku sampai di ruang tamu. Yah walaupun sebelumnya hampir menabrak tembok. Oh Tuhan, aku masih tidak percaya. Terima kasih Kau telah mengabulkan doaku. Ternyata yang mencariku Tara, sahabatku dari kecil. Orang yang selalu mengerti aku. Lagi-lagi celaan Han mengagetkanku.
“Hei, kok malah bengong sih? Sudah ditunguin dari tadi tahu, makanya jadi orang jangan lelet!” cela Han.
Huuhh, dasar adik kurang ajar! Tega-teganya dia mencelaku di depan Tamu. Yah walaupun tamunya sahabatku sejak kecil, yang sudah biasa main ke rumah. Tapi tetap saja keterlaluan. Awas saja nanti! Untung saja aku tadi mengurungkan niatku untuk berbagi cerita dengannya kalau tidak pasti jadi pasti mulutnya sudah ember kemana-mana. Ya begini lah, kalau aku sudah bertemu dengan Han. Pasti bertengkar dan tidak bisa akur.
“Yah, Bu aku mau ngajak Ara keluar bentar boleh nggak?” Tara meminta izin pada Ayah dan Bunda.
Tara memang sudah terbiasa memanggil Ayah dan Ibu dengan sebutan seperti itu. Mungkin karena kedekatan keluarga kami. Bahkan aku memanggil orang tua Tara dengan sebutan Mama dan Papa.
“Iya, tapi pulangnya jangan malam-malam ya!” jawab Ayah.
“Siap Yah!”
“Hati-hati Kak Tara, entar dicakar! dia orangnya ganas lo!” ejek Han
“Han, memang gue kucing sukanya nyakar.”
“Kalau lu bukan kucing lagi, tapi macan!”
“Dasar curut, awas aja entar!”
Han justru menjulurkan lidahnya padaku. Huuh, awas saja nanti! Oh iya, aku memang sering memanggil Han dengan sebutan curut. Karena ulahnya sndiri yang hobi mengambil bahkan mencuri makananku. Apalagi sebutan yang pantas kalau bukan curut.
Setelah itu, aku langsung keluar bersama Tara.
“Rasanya kayak mimpi bisa lihat lu lagi. Sudah lama banget kita
nggk ketemu.” Aku membuka pembicaraan.
“Iya ya, gue sudah kangen banget sama lu, Mbem!” jawab Tara.
“Oh iya, kok lu bisa kesini?”
“Hari ini kan hari Sabtu, jadi gue bisa main ke sini deh.”
“Terus lu balik kapan?”
“Besok sore.”
“Hahh? Serius lu? Nggak seru nih, padahal gue masih pengen cerita
banyak sama lu. Masak lu keburu pulang sih?”
“Ya gue pengennya juga di sini lama, tapi mau gimana lagi? Gue juga
harus ngurusin sekolah gue yang di sana.”
“Iya juga sih.”
“Tapi muka lu jangan ditekuk gitu dong! Tenang aja, liburan gue pasti ke
sini kok.”
“Lu serius? Lu nggak bohong kan?”
“Ya nggak lah, untung apa coba kalau gue bohong sama lu?”
Itulah aku dan Tara. Kami tidak pernah memanggil nama asli kami. Tara selalu memanggilku “Mbem atau Embem” dari kata “Tembem” karena pipiku yang tembem seperti bakpau ini. Oh iya waktu kecil Tara suka sekali memanjat pohon seperti monyet. Apalagi kalau dia lagi ngambek, wah bisa bikin orang tuanya bingung karena dia pasti naik pohon dan tidak mau turun. Kalau sudah kayak gitu sih, hanya aku yang bisa membujuknya turun. Itu kenangan indah yang tidak bisa terlupakan. Sayangnya kami tidak bisa setiap hari ketemu, soalnya Tara tinggal di luar kota mengikuti pekerjaan Ayahnya. Setidaknya dia tidak pernah melupakanku.
Kami juga membuat perjanjian. Jika suatu saat ia memanggil nama asli ku, maka hubungan kami seketika akan berubah. Entah itu membuat kami semakin dekat atau justru menjauhkan kami. Itulah perjanjian kami. Dan saat ini baru aku sadari, aku takut suatu saat nanti perjanjian itu justru menjebak kami di dalamnya.
“Oh iya, kita duduk di situ aja yuk!” sambil ku tunjuk kursi di pinggir jalan.
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ra gimana? Kalau ngambek masih suka naik pohon?”
“Hahahaha, lu masih ingat aja. Kalau sekarang sih sudah nggak. Tapi kalau gue lagi galau, di atas pohon memang tempat terbaik untuk menenangkan diri.”
Aku hanya tersenyum. Sunyi dan senyap keadaannya saat ini. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lu.” kata ku dan Tara bersamaan.
“Lu dulu!” kata Tara.
“Nggak lu dulu aja!” kata ku.
“Kalau kayak gini kapan selesainya? Lu aja deh, Mbem.”
“Oke.”
“Kenapa? Kok muka lu tiba-tiba lesu gitu sih”
“Gue lagi galau .”
“Ha? Galau? Pasti masalah percintaan? Iya kan?”
Aku hanya mengangguk pelan. Akhirnya ku ceritakan semuanya pada Tara.
“Jujur gue juga nggak mau semua ini terjadi, tapi rasa ini tumbuh begitu saja. Gue juga bingung gimana cara gue mengendalikan perasaan ini. Kasih tahu gue gimana caranya? Apa gue harus menghindar dan mencoba melupakan dia?”
“Jangan coba-coba menghindar dan melupakan dia, semakin lu berusaha melupakan dia semakin lu ingat terus sama dia. Lu jalani saja apa adanya, lu pasti dapat orang yang lebih baik dari dia.”
“Terus gimana cara gue menjalani ini semua?”
“Lu isi aja waktu luang lu buat belajar, mengasah bakat lu, bantu orang tua lu. Untuk sementara waktu coba lu lakuin deh. Lagian satu minggu lagi liburan Mbem, gue janji gue bakal liburan di sini kok, lu tenang aja.”
Tanpa terasa air mataku mengalir begitu deras. Saat aku mengusah air mataku dan ku tengok ke sebelah, Tara tak lagi disebelahku. Kemana dia? Sahabat macam apa? Masak ninggalin sahabatnya sendiri yang lagi nangis kaya gini. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memberiku permen dari belakang. Dan ternyata orang itu adalah Tara.
“Nih biar lu nggak nangis lagi!” kata Tara sambil memberikan permen padaku.
“Gue bukan anak kecil lagi.”
“Tapi lu masih suka permen kan? Gue nnga bakal lupa sama sahabat gue sendiri.”
Aku tersenyum lega.
“Nah gitu dong senyum, kan lebih cantik. Oh iya, apa kabar gigi lu?”
“Ha? Kok gigi sih?”
“Ya kan sampai sekarang lu suka makan permen.”
“Lu bisa aja . Emang cuma lu yang bisa bikin gue ketawa.”
“Kita pulang yuk kayaknya sudah malam deh.”
“Tapi katanya lu mau ngomong sesuatu?”
“Sudah besok aja, lagian nggak begitu penting kok. Kita pulang yuk! Entar kalau malam-malam gue bisa dibantai sama Ayah.”
“Bisa aja.”
Entah kenapa hatiku tidak tenang. Menurutku ada yang disembunyikan Tara dariku. Tapi, ya sudah lah toh Tara sudah janji kalau dia akan menceritakan semanya padaku. Lebih baik aku pulang sekarang, semua orang di rumah pasti telah menungguku. Ya, semua orang selain Han si curut itu.
Sesampainya di depan rumah, Tara berpamitan kepadaku dan pulang.
“Mbem, gue pulang dulu, ya!”
“Lu tadi mau ngomong apa?”
“Lain kali aja deh gue cerita, inikan sudah malam.”
“Tapi lu janji ya, harus cerita sama gue. Gimana kalau besok?”
“Emm, boleh juga. Sudah dulu ya gue mau pulang.”
“Hati-hati di jalan ya, !”
“Iya Mbem.”
Setelah Tara pulang, aku segera masuk ke dalam rumah. Akhirnya aku bisa berbagi cerita dengan sahabatku, satu-satunya orang yang mengerti aku. Apalagi kami sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba saja Han mengagetkanku.
“Cie yang lagi senang, sampai senyum-senyum sendiri gitu.”
“Apaan sih lu, dasar curut!”
“Ih kan kenyataan, macan.”
“Awas ya!”
Aku berlari mengejar Han. Akhirnya kami kejar-kejaran deh. Kayak anak kecil. Kemudian Ayah datang dan menghentikan pertengkaran kami.
“Eh apa-apaan ini?”
“Han yang mulai, Yah.”
“Kok gue sih, orang Kakak duluan kok.”
“Sudah-sudah jangan berantem dong! Malu sama umur!”
“Tuh, dengarin!”
“Kok jadi gue yang salah sih?”
“Sudah, kok malah dilanjutin sih. Jangan sampai suara kalian mengganggu tetangga.”
“Tuh dengarin Han!!”
“Iya iya.”
Setelah itu aku langsung masuk ke dalam kamar. Lalu ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Sudah jam 10 malam. Tapi tetap saja aku tidak mengantuk. Sekarang yang ku lakukan hanya berbalik ke kanan dan ke kiri di atas kasur sambil berbaring. Jujur aku sangat bingung sekali, rasanya mataku ini memang tidak bisa diajak kompromi.
Jadi ingat waktu aku masih kecil. Aku selalu main sama Tara. Dimana ada aku disitu ada Tara. Padahal rumah kami dulu cukup jauh. Bahkan Tara sering sekali main ke rumahku tanpa izin dari orang tuanya. Akhirnya orang tuanya ke rumahku dan mencari Tara. Memang bandel sekali anak itu. Apalagi kalau sudah ngambek, wah bisa-bisa merepotkan orang sekampung. Ya, itulah pengalaman masa kecil yang tidak bisa terlupakan. Kalau bahas masalah itu sih, sehari juga tidak bakalan cukup. Terlalu banyak kenangan yang indah, kejadian-kejadian konyol, pertengkaran-pertengkaran kecil yang kalau diingat bisa bikin ketawa sendiri.
Tapi sekarang aku dan Tara jadi jarang ketemu. Setelah kami lulus TK, Tara pindah keluar kota mengikuti Papanya yang tugas kerjanya dipindahkan di luar kota. Ya, mau gimana lagi itu kan sudah menjadi keputusan Papanya, toh itu juga demi kebaikan Tara. Oh iya, jadi kangen sama Mama dan Papanya Tara. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Ada sekitar 11 tahun, terakhir aku bertemu mereka ketika perpisahan TK. Tapi senang sekali bisa bertemu Tara. Dia banyak berubah. Pastinya berubah jadi lebih baik.

BACA JUGA :   Introveksi Diri

Dear Diary,
lega…
hanya itu yang bisa aku ucapkan. Terimakasih Tuhan, Kau telah mengabulkan permintaanku. Kau kirimkan teman berbagi yang sangat baik. Bahkan menurutku Tara itu bukan hanya teman baikku, dia juga sahabat terbaikku. Yang selama ini ku rindukan kedatangannya.
Aku masih tak menyangka, kalau Tara masih ingat sama aku. Ku pikir dia sudah lupa dan memiliki sahabat yang lebih baik dari aku. Ternyata itu hanya pemikiranku saja, buktinya dia masih mau menemui sahabat masa kecilnya ini. Dia juga masih memanggilku mbem.
Makasih ya, . Lu sudah mau menyisihkan sedikit waktu buat ketemu gue  setelah hampir 11 tahun kita tidak ketemu. Makasih juga lu sudah mau dengarin curhatan gue hari ini. Rasanya gue tidak pengen malam ini cepat berlalu. Tapi mau gimana lagi malam tetap berlalu dan lu besok sudah harus pulang. Setidaknya gue senang banget soalnya liburan nanti kita bakal menghabiskan waktu berdua. Ya, sekalian nostalgia lah. Oh ya, gue tunggu juga cerita lu besok. Semoga aja itu cerita yang menyenangkan. Gue selalu berdoa kok supaya lu dikasih kebahagiaan yang berlimpah.
Diary,
Sekarang aku bingung banget sama perasaanku sendiri. Bayangkan saja, sebelum Tara datang aku galau habis-habisan. Bahkan diajak si curut berantem aja nggak aku ladenin. Tapi nih ya, setelah aku jalan dan berbagi cerita sama dia rasanya tuh beda banget. Jadi lebih lega dan semua masalah yang aku alami sekarang hilang seketika.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: