Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Chairul Tanjung Bukan Lagi Anak Singkong

Chairul Tanjung si Anak singkong. Itulah julukan yang tertulis dalam judul buku biografinya. Sebuah sebutan yang mendeskripsikan siapa dirinya di masa lalu. Tidak memiliki gen orang kaya, sudah terbiasa ditempa kesulitan ekonomi, namun berani bermimpi untuk mengubah nasibnya dari orang biasa saja menjadi luar biasa.

Kisah Sukses Chairul Tanjung “Si Anak Singkong” Di Dunia Bisnis

Lahir di Jakarta, 16 Juni 1962, Chairul Tanjung adalah anak dengan enam saudara. Ayahnya adalah Abdul Ghafar Tanjung yang berasal dari Sibolga, Sumatera Utara, dan ibunya bernama Halimah kelahiran Cibadak, Jawa Barat.

Kemewahan tidak menghiasi masa mudanya. Sang ayah hanyalah seorang jurnalis dari koran beroplah kecil. Bahkan saat terjadi pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, ayahnya terpaksa kehilangan pekerjaannya karena perusahannya ditutup.

Itulah awal jatuhnya kondisi ekonomi keluarga Abdul Ghafar Tanjung. Bahkan mereka sampai harus menjual rumah dan kemudian tinggal dalam sebuah losmen kecil yang sangat sempit untuk ukuran keluarga beranggotakan 9 orang.

Perjalanannya sebagai survival tampak jelas sejak menjalani status sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Walau berada dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan, namun Chairul muda bukan sosok cengeng yang mau mengasihani diri sendiri. Dia malah memilih hidup mandiri dengan berjualan buku kuliah, kaos, hingga membuka jasa fotokopi di bawah tangga kampusnya.

“Saya lahir dari keluarga yang cukup tapi orang tua saya tidak membiayai pendidikan saya. Untuk itu saya berpikir untuk melakukan sesuatu yang dapat menolong keluarga dan kuliah saya,” ujar Chairul mengemukakan alasannya berdagang sejak menjadi mahasiswa hingga kini sukses menjadi pengusaha besar. Sekarang, Chairul Tanjung bukan lagi anak singkong.

Berkat Kepepet

Demikianlah profesi sebagai enterpreuner. Menjadi pengusaha sukses seperti Chairul Tanjung tidak harus menjadi cita-cita sejak kecil. Chairul Tanjung membuktikan bahwa enterpreuner sukses bisa datang dari latar belakang pendidikan manapun, seperti dirinya yang mengambil kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, bukan fakultas ekonomi. Enterpreuner juga tidak butuh faktor genetika. Sebagaimana telah disebut di atas, ayahnya adalah jurnalis.

BACA JUGA :   Rahasia Alam Bawah Sadar Manusia

Lalu apa yang bisa membuat orang seperti Chairul Tanjung menjalani hidup sebagai enterpreuner? Kepepet. Cukup dengan satu kata inilah siapapun bisa memasuki dunia bisnis. Kondisi yang sulit, terutama ekonomi, membuat siapapun bisa keluar dari zona nyaman dan membuka usaha berskala kecil.

Kekuatan Kemauan

Agar bisa mempertahankan eksistensinya hingga menjadi pebisnis besar seperti Chairul Tanjung, modal capital bukan variabel tunggal dalam menentukan arah perjalanan sebuah usaha. Ada variabel lain yang juga sangat penting bagi pebisnis.

Modal awal yang harus dimiliki siapapun yang ingin merintis usaha adalah kemauan. Belajar dari pengalaman Chairul Tanjung di atas, untuk memulai sebuah bisnis perlu kemauan kuat, mulai dari kemauan untuk keluar dari zona nyaman, kemauan untuk menyingkirkan rasa gengsi karena profesi sebagai pengusaha kecil sering dianggap tidak prestisius, hingga kemauan untuk menikmati proses yang tidak instan. Tanpa kemauan kuat, sebuah usaha yang baru dirintis akan cepat ambruk terhantam badai di awal perjalanan.

The Power of True Belief

Setelah memiliki kemauan kuat, keyakinan yang benar (true belief) juga memegang peranan penting. Agar pikiran bisa selalu memancarkan kekuatan positif, maka perlu diisi dengan keyakinan yang benar (true belief). Menurut penulis buku “Semut Mengalahkan Gajah”, Amir Faisol, ada false belief dalam bentuk mitos-mitos yang diyakini kebenarannya dan bahkan dijadikan pedoman hidup sehingga menyumbat jalan hidup seorang pelaku usaha dalam upayanya menuju kesuksesan.

Mitos terkuat pengaruhnya adalah genetika. Ini adalah salah satu dinding tebal yang kerap membuntu jalan kesuksesan seorang calon enterpreuner. Orang yang meyakini kebenaran mitos ini akan selalu under estimate karena merasa tidak memiliki DNA pebisnis sukses. Karena merasa bukan keturunan pengusaha sukses dia tidak berani bermimpi setinggi langit. Padahal sangat banyak pebisnis sukses yang secara genetika tidak terlahir dari seorang konglomerat. Chairul Tanjung hanyalah salah satu diantaranya.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: