Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Bersedekah Meski Belum Jadi Jutawan, Bisa Ya?

Ini Buktinya Sedekah Tak Perlu Menunggu Kaya - Islampos
Bersedekah Dengan Cara Mudah https://www.islampos.com/ini-buktinya-sedekah-tak-perlu-menunggu-kaya-18803/


Bersedekah Itu Mudah? Begitulah. Ternyata bersedekah tidak perlu menunggu menjadi jutawan atau bahkan miliarder. Apa buktinya?

Suara roda gerobak yang didorong seorang ibu penjual bubur bayi di area Ketintang seolah menjadi pertanda bahwa waktu Shubuh sudah usai. Bagi warga yang bermukim di sekitar Jalan Ketintang II, hal itu sudah menjadi semacam alarm untuk segera bersiap-siap menjalani aktivitas rutin mereka. Khusus untuk pemilik momongan berusia 6 – 12 bulan, berisiknya gerobak yang melalui jalan kecil gang justru menjadi suara yang selalu dinantikan.
Apalagi jika hari Jum’at, derak-derak roda gerobak semakin ditunggu. Pada hari itulah si ibu penjual bubur bayi itu selalu bisa pulang lebih cepat dari hari-hari biasanya. Apa sebab?
Ternyata, pada hari itulah si ibu itu menggratiskan bubur bayi dagangannya. Setiap konsumen yang datang meminati bubur bayi akan mendapat tiga cup bubur tanpa perlu membayar sepeserpun. Semuanya dilakukan dengan ikhlas, antusias, tanpa ada segorespun raut muka cemas akan berkurangnya keuntungan yang didapat. Terpancar keyakinan besar dalam diri ibu itu, bahwa ia tak akan menjadi miskin gara-gara bersedekah tiap Jum’at. Ibu itu selalu percaya akan datangnya rejeki lebih besar setelah bersedekah.
Melihat penampilannya, bisa diperkirakan bahwa ibu penjual bubur bayi itu bukanlah sosok yang senang bertele-tele dalam bersedekah. Bagi orang sepertinya, kebaikan berbagi bukan sesuatu yang harus diseminarkan, didiskusikan dengan ribuan teori. Kebaikan berbagi hanya akan bisa dirasakan jika langsung dipraktikkan. Dia juga bukan orang yang njelimet dalam persoalan dunia. Baginya, hidup di dunia adalah kesempatan untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya. Ibu itu sudah membuktikan bahwa terlalu banyak cara sederhana untuk berbagi kebaikan kepada banyak orang
Sejatinya, sosok ibu penjual bubur itu bukanlah satu-satunya orang yang gemar bersedekah dengan caranya masing-masing. Masih di area Surabaya Ketintang ada juga penjual soto yang menggratiskan dagangannya untuk para penghafal Al Qur’an. Lalu di daerah Rungkut ada seorang tukang potong rambut yang tidak memungut imbalan dari jasa cukur rambutnya setiap Jum’at. Di Lamongan, ada seorang tukang tambal ban yang menggratiskan jasa tambal bannya, juga setiap Jum’at.
Orang-orang seperti mereka jelas bukanlah golongan level atas dalam strata ekonomi. Nama-nama mereka tidak pernah masuk dalam daftar orang-orang terkaya di Indonesia versi manapun. Mereka juga bukan orang-orang yang berpenghasilan tetap sesuai Upah Minimum Kota. Tapi toh itu bukan penghalang buat mereka berbagi. Bagi mereka, untuk bisa berbagi tidak perlu menunggu jika sudah menjadi jutawan atau bahkan miliarder. Berbagi itu cuma butuh kemauan untuk “membunuh” kebakhilan dan menguatkan keyakinan bahwa orang yang beramal shalih bukanlah termasuk golongan orang-orang merugi menurut Al Qur’an surah Al Ashr. Di ayat lain, yaktu pada ayat ketujuh dari Surah Al Zalzalah, Allah juga telah memberi kabar gembira,”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
Dari orang-orang yang terbiasa dengan kesederhanaan itulah siapapun bisa mengambil pelajaran bahwa untuk bisa meraih predikat sebagai manusia terbaik bisa ditempuh dengan jalan sederhana pula. Menggratiskan harga dagangan atau upah jasa mereka. Ya, sesederhana itulah mereka dalam menginternalisasi dan mengaplikasikan sabda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam,”khairunnas anfa’uhum linnas.” Menurut sabda beliau yang tertulis dalam hadits hasan riwayat Ahmad, Ath Thabrani dan Ad Daruqutni, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Jadi, kualitas hidup manusia ternyata tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak isi rekeningnya, seberapa panjang gelar kesarjanaannya, seberapa tinggi kedudukan sosial politiknya, dan seberapa hebatkah orang tua dan nenek moyangnya. Tolok ukur kualitas hidup manusia salah satunya adalah seberapa banyak jejak kemanfaatan (kebaikan) yang ditinggalkannya semasa menjalani kefanaan di alam dunia.
Selain itu, apa yang dilakukan orang seperti ibu penjual bubur itu seperti menjadi tamparan keras untuk siapapun yang dianugerahi limpahan kekayaan harta benda namun masih terjajah oleh kebakhilan. Berdasarkan data yang dirilis Badan Amil Zakat Nasional, potensi zakat mal di Indonesia mencapai 217 triliun rupiah per tahunnya. Namun faktanya, zakat mal yang baru terserap hanya sebesar 2,73 triliun rupiah yang berarti cuma 1%. Sangat ironis jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Jika dihitung secara materi, apa yang mereka lakukan tergolong luar biasa. Mereka berani kehilangan omset puluhan atau bahkan ratusan ribu pada setiap hari Jum’at untuk mereka belanjakan di jalan Allah. Berarti jika dihitung per bulan, capaian sedekah mereka mencapai setengah juta rupiah.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Lebih Baik Luangkan Waktu dengan 3 Kegiatan Positif Ini
%d blogger menyukai ini: