• Jum. Jul 30th, 2021

Penjual Balon

ByEmilyWu

Jul 18, 2021

Penjual Balon

Penjual Balon itu berjualan di halaman praktek seorang dokter anak.

Penjual balon itu mungkin berpikir anak-anak yang dibawa ke dokter itu badannya sedang kurang sehat pasti moodnya jadi nggak bagus, kalau dihibur dengan balon mungkin bisa sedikit membuat moodnya lebih baik dan tidak terlalu rewel.

Saat Sri baru tiba di halaman praktek dokter dengan membawa Bagas, anaknya yang sakit panas, buru-buru Sri mengalihkan pandangan Bagas dari si tukang Balon.

Uang Sri mepet, paling hanya cukup untuk biaya berobat, kalau sampai Bagas merengek minta Balon, bisa-bisa Bagas nggak jadi berobat.

Dokter Rizal, seorang dokter anak yang baik, seminggu 2X dia membuka praktek di rumahnya, khusus untuk yang tidak mampu. Tarif dokter sudah dengan obatnya Rp 35.000

Bagas sudah 3 hari panas tinggi, sudah diobati dengan obat turun panas yang dibeli di warung, tapi panasnya belum turun juga, Sri sudah lama nggak bayar iuran BPJS, jadi dia juga tidak bisa menggunakan kartu BPJS nya. Iuran BPJS kelas 3, 1 orang Rp 35.000, kalau 4 orang sudah Rp 105.000, bagi Sri uang segitu cukup berarti untuk menyambung hidupnya 1 bulan.

Sebetulnya rugi juga tidak rutin membayar iuran BPJS kalau pas ada yang sakit begini, kalau harus dirawat bagaimana Sri harus mengupayakan biaya rumah sakitnya? “Ah…semoga Bagas tidak harus dirawat, semoga obat yang diberikan dokter nanti bisa menyembuhkan Bagas.” Doa Sri dalam hati.

“Tet…” Tukang Balon membuat bunyi-bunyian untuk menarik pembeli. Sri kaget, buru-buru ditutupnya kedua telinga Bagas, tapi sepertinya terlambat, Bagas terlanjur menengok ke arah tukang Balon dan seperti dugaan Sri, Bagas merengek minta dibelikan Balon. Sri berusaha membujuk Bagas, tapi Bagas makin rewel. Duh…jengkel, rasanya ingin mencubit paha Bagas, tapi kalau dicubit Bagas bukannya jadi tenang malah bisa teriak histeris.

BACA JUGA :   Fokus Pada Diri

Sri berusaha menenangkan Bagas, membujuknya dengan sabar, namun si tukang Balon sepertinya malah sengaja membuat gerakan-gerakan, supaya Bagas tak melepaskan keinginannya untuk minta dibelikan Balon.

Sri jengkel sekali dengan tukang Balon itu.
“Sudah tahu anak rewel, karena pingin balon, bukannya berusaha menjauh, malah bikin anak makin terpengaruh.”

Bagas makin rewel, Sri yang panik bikin Bagas jadi makin tidak tenang.

“Ah…sudahlah, biar kubelikan saja Bagas balon, nggak usah jadi berobat.” Pikir Sri menyerah.

Didatanginya tukang balon itu, dibelikannya 1 balon untuk Bagas, harga balonnya Rp 15.000. Selain Sri ada seorang ibu lain yang juga membeli balon.

Sri menghitung sisa uang di dompetnya, tinggal Rp 20.000, Sri memutuskan untuk pulang saja. Bagas yang sepertinya lelah merengek, tertidur dalam gendongannya.


Sampai Praktek dokter Rizal tutup, hanya 2 orang yang membeli balonnya.
“Ada Rp 30.000 di kantongku, lumayan bisa untuk beli nasi dan lauknya. Sudah 2 hari ini, istri dan anaknya hanya makan nasi dengan garam.”

Mau beli beras paling murah, tapi mau masak nasi nggak bisa, nggak ada gas ataupun minyak tanah, maka dalam 2 hari ini dia beli nasi di warteg Rp 10.000, kemudian dimakan dengan garam.

Hari ini istri dan anaknya pasti senang, dia pulang membawa nasi dan sedikit lauk.

Diangkatnya dagangannya, berjalan pulang penuh semangat.

( Tamat )

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *