• Jum. Jul 30th, 2021

The Special (G)One

ByDedhybodhol

Jul 17, 2021

Jose Mario dos Santos Felix Mourinho yang lebih dikenal dengan panggilan Jose Mourinho, lahir di Setuba, Portugal pada tanggal 26 Januari 1963. Dia merupakan salah satu pelatih sepak bola terbaik di dunia karena kesuksesannya menangani beberapa klub besar di Eropa. Mulai dari Klub Porto (Portugal), Chelsea (Inggris), Inter Milan (Italia), Real Madrid (Spanyol) sampai Manchester United (Inggris) dibawanya meraih beberapa trofi juara, sampai kisah manisnya terhenti di klub Tottenham Hotspur (Inggris).
Bagi pecinta sepak bola di dunia siapa yang tak kenal Jose Mourinho sosok pelatih yang juga dikenal dengan julukan “The Special One”. Pelatih karismatik dan kontroversial ini selalu menghadirkan cerita tersendiri diluar permainan sepak bola itu sendiri. Mulai dari strategi yang dia terapkan dalam pertandingan sampai komentar-komentarnya yang selalu menghiasi cerita dari sebuah pertandingan sepak bola.
Orang mulai mengenal Mourinho saat dia membawa klub Porto menjuarai Liga Champions Eropa tahun 2003. Bersama Porto yang tidak diunggulkan pada saat itu, Mourinho berhasil membuat publik sepak bola dunia terhenyak karena strateginya yang sangat jitu menggabungkan pemain-pemain biasa menjadi luar biasa sebagai sebuah tim. Di sisi lain selebrasinya di Old Trafford markas klub Manchester United saat Porto menyikingkirkan MU dari kejuaraan menjadi sangat ikonik dan mengiringi kesuksesasnya di tahun tersebut.
Tahun berikutnya di 2004, berkat kegemilanganya di Porto membuat takjub Roman Abramovic pemilik klub Chelsea dan akhirnya mengontraknya menjadi pelatih. Sejak membesut Chelsea ini lah sosok Mourinho yang arogan dan kontroversial mulai dikenal publik.
“Kami memiliki pemain-pemain top,” kata Mourinho di sesi perkenalannya. “Dan, maaf jika saya terkesan arogan, saya juga manajer yang top.”
Tetapi perkataan Mourinho yang congkak itu dibuktikan di lapangan. Di tahun pertamanya menangani Chelsea dia mempersembahkan gelar Liga Inggris yang sudah dinanti selama 50 tahun, bahkan dia menyandingkannya dengan Piala Liga. Di tahun berikunya pun ia kembali membawa Chelsea juara Liga Inggris.
Selain prestasi, kontroversi Mourinho tetap berlanjut. Pada babak semifinal kontra Liverpool di ajang Liga Champions 2004/2005, Mourinho secara terang-terangan memprotes keputusan wasit yang mengesahkan gol pemain Liverpool. Karena gol itu, Liverpool lolos ke final dan menjadi juara. Ketika ditanya reaksinya, ia menjawab bahwa tim terbaik di Eropa tidak selalu menjadi juara Eropa. Di musim yang sama, ia juga menuduh wasit Anders Frisk yang memimpin partai Chelsea kontra Barcelona (Spanyol) terlalu memihak kubu lawan. UEFA pun menghukumnya dengan larangan tampil mendampingi tim selama dua pertandingan plus sejumlah denda.
Di musim ketiga tepatnya 2006/2007 cobaan mulai menghampiri Mourinho, cederanya beberapa pemain inti membuat kestabilan tim menjadi goyah. Tetapi Chelsea masih dibawanya menjuarai Piala FA dan Piala Liga. Dan akhirnya September 2007 Mourinho meninggalkan Chelsea dengan kesepakatan kedua belah pihak, Namun rumor yang berhembus mengungkap kalau Mourinho berseteru dengan pemilik klub, Roman Abrahamovic.
Setelah sembilan bulan menganggur, Mourinho resmi diperkenalkan sebagai manajer baru Inter Milan, 2 Juni 2008. Musim perdana Mourinho di Inter Milan bisa dibilang cukup sukses, ia sukses mempersembahkan gelar Serie A Italia, sekaligus gelar ke-17 bagi Inter Milan. Karena keberhasilannya ini, kontrak Mou diperpanjang hingga 2012.
Musim berikutnya, 2009/2010, bisa dibilang era keemasan Inter di bawah Mourinho. Trofi Coppa Italia dan mempertahankan titel Serie A menjadi pembuka kesuksesan di musim tersebut. Puncaknya, terjadi di Stadion Bernabeu pada 23 Mei 2010. Inter bersama Mourinho mencetak sejarah baru seusai menaklukkan perlawanan wakil Jerman, Bayern Muenchen di final Liga Champions. Di tahun yang sama Mourinho pun dinobatkan sebagai pelatih terbaik dunia oleh FIFA, dalam gelaran Ballon d’Or di Zurich, Swiss.
Setelah sukses di Italia, Mourinho melanjutkan petualangannya di Real Madrid di tahun 2010. Sama seperti klub lainnya, Mourinho juga kembali membawa kesuksesan untuk Real Madrid dengan kemenangan di Copa del Rey. Mourinho pun menjadi pelatih pertama yang mampu meraih piala domestik di empat negara berbeda, Portugal, Inggris, Italia, dan Spanyol.
3 Mei 2012, Mourinho berhasil mengantarkan Madrid meraih titel La Liga ke-32. Ini sekaligus menahbiskan Mourinho sebagai pelatih pertama yang sanggup menjuarai tiga kompetisi klasik di Eropa (Inggris, italia, Spanyol). Sayangnya di musim 2012-2013, Mou gagal dan mengundurkan diri dari jabatannya.
Pada 3 Juni 2013, Kepala Eksekutif Chelsea, Ron Gourlay, mengonfirmasikan kembalinya Mourinho dengan durasi kontrak selama empat tahun. Di periode kedua menangani Chelsea, Mourinho berhasil menghadirkan trofi Liga Inggris (2014-2015) dan Piala Liga (2014-2015) ke Stamford Bridge markas Chelsea. Tetapi pada 17 Desember 2015 Chelsea resmi memecat Mourinho, manajemen Chelsea memutuskan memecat Mourinho dari kursi pelatih setelah terlibat perselisihan dengan beberapa pemain. Bahkan, Mourinho sempat mengatakan merasa dikhianati beberapa pemain setelah kekalahan 1-2 Leicester City.
Pada 27 Mei 2016, Mourinho menandatangani kontrak selama tiga tahun bersama klub Manchester United. Selama setahun masa kepelatihannya, ia telah mempersembahkan tiga gelar untuk United: Community Shield, Piala Liga Inggris, dan Europa League (mengalahkan wakil Belanda AFC Ajax 2-0 pada 24 Mei 2017). Rekor kemenangan 100% saat menjalani final kejuaraan-kejuaraan besar Eropa dipertahankannya dengan kemenangan atas Ajax tersebut. Mourinho telah hengkang setelah dipecat dari Manchester United pada pertengahan musim 2018. Tanda-tanda memudarnya sentuhan Mourinho sebagai pelatih mulai terlihat, permainan yang pragmatis cenderung mementingkan hasil akhir terlalu membosankan untuk dinikmati. Ditambah pembelaan dirinya yang kontroversial membuat posisinya semakin sulit dan menjadi Public Enemy bagi pecinta sepak bola.
Setelah banyak menjadi komentator televisi usai dipecat MU, pada 20 November 2019 Tottenham Hotspur akhirnya benar-benar menunjuk Jose Mourinho sebagai manajer baru. Keputusan untuk mendatangkan Mourinho ke Tottenham adalah hal tepat jika menilik dari segi trofi. Namun, sebagai seorang pribadi, Mourinho sarat akan tindakan-tindakan kontroversial yang bahkan kerap merugikan dirinya sendiri. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi Tottenham lantaran Mourinho bisa merusak suasana ruang ganti.
Musim 2020/2021 Mourinho full menangani Tottenham dari awal musim, di paruh pertama musim semuanya terlihat baik, Tottenham dibawanya ke papan atas. Tetapi nasib tidak berpihak kepada Mourinho di paruh kedua muasim. Kekalahan ke-10 Tottenham di Liga Inggris musim ini, menjadi kekalahan terbanyak yang ditelan Jose Mourinho dalam satu musim kompetisi liga sepanjang kariernya. Catatan buruk lainnya untuk pria Portugal itu: ini merupakan kelima kalinya beruntun di seluruh ajang ia gagal menang di kandang melawan tim-tim yang sebelumnya dia tangani. Dalam periode tersebut, Mourinho dua kali imbang dan tiga kali kalah.
Mourinho baru saja menjalani karier kurang menyenangkan bersama Tottenham Hotspur. Cuma 17 bulan, pria asal Portugal tersebut jadi manajer klubnya dan gagal mempersembahkan trofi, berujung pemecatan. Periode terburuk dalam karir Mourinho, baru kali ini dia tidak mempersembahkan satu trofi pun untuk klub yang dia latih.
Akan tetapi karir kepelatihan Jose Mourinho belumlah habis, dia dipastikan akan menjadi Pelatih AS Roma (Italia) musim depan. Dalam pernyataan resminya, Presiden dan Wakil Presiden AS Roma, Dan Friedkin dan Ryan Friedkin, menyatakan bahwa penunjukkan Jose Mourinho merupakan langkah mereka untuk mengembalikan mental juara ke skuad Serigala Ibukota. Jose Mourinho pun menyatakan bahwa gairah suporter AS Roma menjadi salah satu alasannya menerima pinangan pekerjaan di klub asal ibu kota Italia tersebut.
Mari kita tunggu saja jejak karir Jose Mourinho untuk kedua kalinya di tanah Italia, apakah akan sesukses menangani Inter Milan atau memang sihir Mourinho telah pudar???
Masih tetapkah The Special One atau memang The Special Gone…..menarik untuk kita cermati bersama di musim depan.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Poni Gundul Saat Kartinian (Ditegur Teman, jadi Malu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *