Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tuhan Maha Pengasih, kenapa menyiksa ?

Tuhan Maha pengasih dan Penyayang sekaligus mampu menyiksa dengan pedih, apakah mungkin sifat maha Pengasih bisa bersamaan dengan penyiksa yang kejam dan pedih?

Dalam teks kitab suci kita bisa menemukan redaksi bahwa Tuhan maha pengasih dan penyayang sekaligus Mampu menyiksa dengan sangat sadis dan kejam di neraka. Dalam ayat-ayat kitab suci Tuhan bahkan mengancam orang-orang yang membangkang akan disiksa dengan pedih dan kekal di neraka.

Sebagai orang yang beragama dimana kita telah didoktrin habis-habisan sedari kecil tentu kita tidak akan berani membantah ayat-ayat itu dan kita imani seratus persen. Keimanan yang membabi buta inilah yang menutup nalar kritis umat beragama untuk berpikir jernih dan logis, ancaman dan label tidak beriman atau bahkan Murtad adalah momok yang sangat menakutkan bagi sebagian besar umat beragama.

Pertanyaan yang harus kita tanyakan terutama kepada diri kita sendiri adalah, mampukah Tuhan yang Maha pengasih itu menyiksa Manusia dengan kejam bahkan lebih barbar dari Manusia mampu lakukan?, Setiap manusia konon sudah menjalani garis takdirnya masing-masing, bahkan ajaibnya siapa-siapa saja yang dikehendaki Tuhan untuk masuk surga atau masuk neraka sudah ditentukan sebelum manusia itu lahir, lalu mengapa Tuhan menyiksa manusia sedangkan itu memang sudah digariskan untuknya?

Mengutip tulisan Baruch de Spinoza seorang filosof Belanda yg dianggap sebagai seorang “nasionalis yang hebat” pada abad ke 17 Tentang Tuhan, dia menuliskan seolah Tuhan berkata kepada manusia :

“Bagaimana Aku akan menyalahkanmu atas segala apa-apa yg telah aku ciptakan dan berada di dalam dirimu?”

“Apakah kalian pikir Aku akan menciptakan tempat untuk membakar semua ciptaan yg Aku cintai untuk selama-lamanya? Hanya karena mereka tergelincir dan mengikuti apa-apa yg telah aku tanamkan dalam dirinya? Membakar mereka untuk selama-lamanya? Kalau memang begitu, Tuhan macam apa Aku ini?”

BACA JUGA :   Orang Lain Ribut, Messi dan Ronaldo Cetak Rekor Baru

Tulisan Spinoza diatas tentu akan membuat kita sedikit merenung bukan, benarlah seharusnya Tuhan itu Maha cinta tanpa syarat, berbuat baik terhadap sesama adalah tugas manusia sebagaimana Tuhan yang maha Pengasih lagi Penyayang.

Kutipan berikutnya masih dari Spinoza, Tuhan Seolah ingin berkata :

” Ciptaan yang Aku kasihi, hidup ini bukan ujian, bukan jalan setapak, bukan sebuah drama, dan bukanlah jalan awal agar masuk Surga. Hidup ini adalah satu-satunya, disini, saat ini dan itulah yg sesungguhnya kalian perlukan.
Aku telah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada mu, tidak ada hadiah atau hukuman, tidak ada dosa maupun pahala, tidak ada orang yg sudah ditandai sebagai ahli Surga atau ahli Neraka. Nikmatilah, bersyukurlah dan lakukanlah yang terbaik.

Dengan kehidupan ini, kalian sepenuhnya bebas untuk “menciptakan” surga ataupun neraka kalian sendiri.”

Membaca tulisan di atas tentu seharusnya begitu lah sifat Tuhan, Tuhan yang bisa marah, bisa cemburu, senang dipuji, marah bila tidak disembah tak ubahnya seperti Makhluk seperti manusia dan menggugurkan sifat tuhan yang Konon katanya tidak serupa dengan apapun.

Tidaklah pantas Tuhan menciptakan drama demi menguji manusia dan menyiksa yang dianggap tidak lulus ujian itu dengan siksaan yang bar-bar bahkan manusia saja tidak sanggup melakukannya.

Kutipan dari tulisan Spinoza ini adalah Sebagai penutup artikel pendek ini, silahkan dibaca direnungkan. Semoga masih ada ruang berpikir dan mendengar nurani kita masing- masing

” Kalian sepenuhnya bebas menciptakan surga maupun neraka kalian sendiri.
Aku tidak ingin memberitahu kalian, apakah kehidupan sesudah mati itu ada atau tidak, tetapi, biarlah aku memberikan sebuah saran; hiduplah seakan akan tidak ada kehidupan setelah mati agar kalian lebih menghargai dan berhati hati terhadap hidup yg sedang kalian jalani. Karena ini satu-satunya kesempatan, maka nikmatilah, berkaryalah, sebarkanlah rasa cinta dan saling menyayangi dan wujudkanlah semua kebaikan dalam hidup ini.”

BACA JUGA :   Puisi : Mensyukuri Ciptaan Tuhan

“Jadi, kalau nanti tidak ada apa-apa lagi, maka kalian telah menggunakan kesempatan yang telah Aku berikan itu dg sebaik-baiknya. Kalau ternyata nanti ada lagi kehidupan, Aku hanya akan bertanya: “Apakah kalian berbahagia? Apa yang engkau lakukan dg baik disana? Apa yg engkau pelajari? Apa yg engkau tinggalkan bagi mereka yg akan datang sesudah kalian?”

Berhentilah berprasangka terhadap Ku!
Berhentilah menebak-nebak tentang Aku!
Berhentilah membayangkan diri Ku!
Mulailah membangun kepercayaan terhadap diri mu sendiri!
Aku ingin engkau merasakan kehadiran Ku ketika engkau memeluk kekasih hatimu.
Aku ingin engkau merasakan kehadiran Ku ketika engkau menyayangi anak dan keluarga mu!
Aku ingin engkau merasakan kehadiranku ketika engkau menyayangi hewan atau tumbuhan kesayanganmu!
Aku ingin engkau merasakan kehadiran Ku ketika engkau menikmati keindahan alam di sekitarmu!
Tidak perlu engkau menghabiskan waktumu yg sangat singkat untuk memuji muji diri Ku!
Tuhan gila hormat semacam apa kalian pikir diri Ku?
Aku bosan dipuji-puji.
Bila engkau bersyukur, maka tunjukkanlah rasa syukur dan kebahagiaan mu itu yang peduli terhadap sesama, pedulikan kesihatan diri mu, perhatikan dan rawat hubunganmu dg sesama dan terhadap dunia tempat kamu tinggal.
Begitulah cara engkau memuja diri Ku!

Berhentilah membuat rumit persoalan yg ada dan menjadi burung beo yg hanya mengulang-ulang yg apa-apa katanya aku ajarkan!

Berhentilah menyebar gambaran yg salah tentang diri Ku yg hanya lahir dari pikiran dan nafsumu sendiri.
Apalagi yg kalian inginkan?
Keajaiban?
Hidup itu sendiri sangatlah ajaib.
Keterangan?
Alam di sekelilingmu dan bisikan halus dari hati nuranimu itu sendiri sudah merupakan petunjuk yg sangat jelas.
Satu-satunya kepastian adalah kamu hidup disini, sekarang dan kehidupan ini penuh dengan keajaiban untuk di kagumi dan dipelajari.

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: