Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Segalanya adalah “Tuhan”

Everything is God

Sebelum semuanya ada di alam semesta ini maka yang eksis hanyalah Tuhan karena Tuhan adalah asal mula adanya segala sesuatu, Dia lah yang terdahulu (qidam). Sampai disini sebagai umat beragama dan bertuhan saya menganggap kita sepakat soal ini ya.

Lalu Tuhan menciptakan alam semesta dan segala isinya, galaksi yang berisi milyaran bintang dan ratusan juta planet termasuk salah satunya Bumi yang kita Huni ini lengkap dengan isinya. Pernahkah kita berpikir apa bahan baku alam semesta ini, dari apa dibuat dan untuk tujuan apa ia diciptakan

Apabila kita kembali kepada kesepakatan kita di awal bahwa sebelum adanya segala sesuatu maka yang ada lebih dulu adalah Tuhan, maka tentu tidak ada bahan baku lain selain zat Tuhan itu sendiri

Maka dengan keterbatasan pemikiran, kita bisa sementara menyimpulkan bahwa semua yang eksis di semesta ini bahan bakunya adalah zat Tuhan itu sendiri,maka tidak berlebihan bila Dr. David R Hawkins memberikan nilai true pada pernyataan everything is God. Yang saya pahami dari everything is God adalah segala sesuatu adalah manifestasi tuhan, bukan segala sesuatu adalah Tuhan. Dalam diri manusia ada zat Tuhan tapi manusia sudah pasti bukan Tuhan, dalam hewan, tumbuhan bahkan benda mati pun ada zat Tuhan tapi tentu semua itu bukanlah Tuhan

Osho pernah mengatakan bahwa konsep pencipta dan ciptaan adalah konsep yang absurb, karena menciptakan jarak antara Pencipta dan ciptaan. Seperti halnya manusia menciptakan Kursi maka pasti ada “jarak” antara manusia dan kursi, tidak ada “zat” manusia dalam kursi seperti halnya zat Tuhan dalam ciptaannya

Dimanakah Tuhan, adalah pertanyaan yang salah

Sebagaimana kita ketahui konsep Tuhan dalam agama samawi atau sering juga disebut agama abrahamik (yahudi, nasrani dan islam), bahwa Tuhan adalah satu entitas dengan segala Kemahaannya, Maha Besar, Maha kuasa dll Pencipta alam semesta ini berada atau bertahta disatu tempat di singgasanaNya yang agung, dalam Islam disebut arsy dalam kristiani dan yahudi disebut di Kerajaan Allah. Tempat atau singgasana Tuhan ini entah itu sebuah perumpamaan atau merujuk pada sebuah tempat secara harfiah akan menimbulkan paradox. Paradox pertama, apabila Tuhan berada pada suatu tempat maka artinya Tuhan membutuhkan ruang dan waktu, sedangkan dengan sifat Kemahaan nya apakah ada Ruang yang Mampu menampungnya?.

BACA JUGA :   Puisi: Berdiskusi Tentang Rasa

Paradox yang kedua, Bukankah Tuhan meliputi segala sesuatu dan apabila Tuhan bertahta atau berada di suatu tempat katakanlah singgasanaNya, maka tentu ada jarak antara Ia dan ciptaannya, maka sifat meliputi segala sesuatu ini akan gugur walaupun hanya ada 1 mikro meter saja tempat yang tidak diliputi Nya.

Para pemuka agama tentu tidak akan setuju dengan paradox diatas dan akan memberikan argumen baik itu berupa dalil dalam ayat suci maupun berupa argumen rasional. Para pemuka agama akan mengatakan bahwa Tuhan bisa saja bertepat pada suatu Tempat, tapi cahayaNya lah yang menjangkau dan meliputi semua isi alam semesta ini sehingga tidak ada satu apapun yang tidak diliputi oleh Cahaya Tuhan !. Anggap saja begitu tetapi tetap saja Tuhan Membutuhkan ruang dan waktu yang artinya sama dengan Mahluk ciptaannya, bukankah ini membuat Tuhan menjadi Antromorfis atau memiliki sifat seperti manusia yang Butuh tempat, butuh ruang dan waktu bukankah seharusnya Tuhan melampaui Ruang dan waktu yang merupakan ciptaanya. Bukannkah Ia tidak bergantung pada sesuatu artinya tidak pula bergantung pada Ruang dan waktu ?

Argumen rasional lainnya adalah Tuhan Maha segalanya, maka tentu mudah bagiNya untuk berada dimana saja, kapan saja dan bisa menjadi apa saja yang Dia kehendaki? Kalau begitu Tuhan tidak ubahnya seperti Mahluk Super dan akan melanggar hukum-hukum semesta yang telah dibuatNYa dan ini tentu akan mengacaukan alam semesta kalau Tuhan bertindak semauNya, bukankah Dia yang maha teratur dan Maha Mengatur alam semesta dengan keteraturan yang presisi?

Apabila kita memahami Tuhan melalui kitab suci agama-agama yang ada (agama samawi) maka diujungnya kita akan sampai kepada kata IMAN, ya imani saja karena mempertanyakan akan membuat kita menjadi tidak beriman. Ruang berpikir kritis sudah barang tentu tidak ada di ranah iman dan itu kita hargai tanpa menghakimi.

Untuk menemukan Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang bukan hanya konsep ciptaan manusia, bukan Tuhan yang hanya kita ketahui melalui kitab suci agama masing-masing kita membutuhkan kejernihan berpikir dan perenungan yang sangat dalam. Penulis mengajak kita termasuk penulis sendiri untuk Menemukan Tuhan dalam keheningan dan kejernihan berpikir

BACA JUGA :   Lirik Lagu Tresno Sudro

Lalu apakah Zat Tuhan itu dan dimanakah Ia berada ?

Tuhan dalam agama samawi dan agama-agama lain sebelumnya seperti agama pagan menggambarkan Tuhan sebagai “sosok” yang super power yang disifati seperti sifat manusia hanya saja ditambahkan kata Maha yang artinya tidak bisa ditandingi manusia seperti, maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui, maha besar dll.

Tuhanpun disifati seperti manusia yang bisa cemburu, Marah bila diduakan, marah bila tidak disembah, senang diagungkan dan dipuja puji, mengutuk dan melaknat, menyiksa dengan pedih, murka dan sifat lainnya.

Tuhan dalam kitab suci digambarkan tak ubahnya seperti sutradara yang sangat lihai menciptakan drama kolosal nan agung. Tuhan menciptakan adam dan hawa, lalu membiarkan iblis menggoda untuk memakan buah terlarang, Kenapa penulis menggunakan kata membiarkan, karena menurut kitab suci agama samawi Tuhan maha tau yang artinya saat iblis akan menggoda Adam dan hawa tentu Tuhan sudah tau, dan membiarkannya agar adam dan hawa tergoda dan diturunkan ke Bumi dan semua tentu sudah dalam skenario Tuhan.

Namun anehnya Tuhan mengutuk iblis dan memerintahkan manusia berlindung kepadaNya, sedangkan iblis hanya memerankan apa yang menjadi perannya dalam skenario Tuhan,iblis menjadi tokoh antagonis yang harus dimusuhi dilaknat dan dihinakan sebagai bahan bakar neraka konon bersama manusia yang mengikutinya. Bukankah apabila aktor berhasil melakoni perannya dengan baik sudah seharusnya mendapat piala oscar sebagai penghargaan kepadanya, kenapa malah dihukum ini paradox lainnya dari konsep Tuhan dalam kitab suci agama-agama abrahamik. Kenapa penulis menyatakan konsep dalam kitab suci, karena Tuhan memperkenalkan dirinya melaui kitab suci yang diturunkan kepada Utusannya para Nabi dan Rasul melalui perantara malaikat wahyu.

Tuhan yang dikenal umat beragama saat ini tentu adalah warisan dari pendahulu mereka, sesuai dengan agama para pendahulu nya. Dikuatkan dengan doktrin kitab suci yang diulang-ulang terus menerus disertai denga ancaman neraka bila tidak mempercayai dan iming-iming surga bila meng imani. Tidak mudah untuk keluar dari konsep Tuhan yang sudah terinstall dan terprogram dengan kuat di pikiran bawah sadar Manusia terutama umat beragama yang merasa Tuhan versi masing-masing agamalah yang paling benar. Padahal yang mereka mengetahui melalui orang lain yang paling dekat yaitu para pendahulu mereka.

BACA JUGA :   Cerita Cintaku : Si Pengganggu Datang Lagi

Tuhan adalah wadah dan medium

Apabila kita kembali kepada “kesepakatan” kita diawal bahwa segala sesuatu adalah manifestasi tuhan maka tidak ada satu pun di alam semesta ini yang tidak berasal dari zat Tuhan. Tidak ada jarak antara Tuhan dan ciptaanya semua diliputi oleh zat Tuhan semua ada didalam Tuhan.

Apabila segala sesuatu ada dan diliputi zat Tuhan, tidak jarak antara Tuhan dan ciptaanya, maka yang paling masuk akal Tuhan adalah Medium atau wadah dimana segala sesuatu eksis. Alam semesta beserta isinya eksis didalam Tuhan, maka disitulah kebenaran bahwa Tuhan Maha Besar karena segala sesuatu ada didalam diriNya dan dirinya adalah Segala sesuatu itu sendiri.

Tuhan adalah pencipta sekaligus memanifestasi kedalam ciptaannya, maka benarlah bahwa Tuhan Maha melihat Tuhan maha mengetahui, Tuhan maha mendengar melalui ciptaanya itu.

Tuhan Non dualitas dan Singular

Sebagai mahluk manusia tentu saja terikat pada hukum dualitas, ada pria ada wanita, ada siang ada malam, ada konsep baik dan ada konsep buruk, ada hidup ada mati, ada kaya ada miskin dan seterusnya.

Tuhan tentu saja melampaui sifat dualitas atau Singular karena Dia adalah sumber dari segala sesuatu, hukum dualitas hanya berlaku bagi ciptaannya

Bumi dan Alam Semesta

Meminjam analogi penulis Buku Finding God, Erianto rachman Alam semesta diibaratkan sebagai gedung yang megah yang sangat canggih dan mewah, gedung dengan fasilitas yang lengkap dan serba mahal dan bumi diibaratkan debu yang menempel di meja disalah satu sudut gedung itu.

Apabila semesta dan bumi dianalogikan sebagai gedung mewah dan bumi adalah debu dalam gedung tersebut maka akan timbul pertanyaan, darimana asal debu tersebut apakah karena ada gedung maka ada debu atau karena debu itu maka gedung tersebut dibangun?

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: