Bahagia: Konsep atau Rasa? atau Konsep Merasa?

Bagaimana Cara Meraih Kebahagiaan?

Bagaimana Cara Meraih Kebahagiaan?

Apa makna kebahagiaan bagi Anda?

Kebahagiaan apa yang paling berkesan?

Pertanyaan itu mengalir dan tidak bisa Saya jawab. Dan, demi kepuasan hati maka harus dibahas. Bagi Saya, kebahagiaan seperti sebuah konsep. Mendengar pertanyaan itu seperti menarik ulang – ke depan masa lalu saat sedang krisis.

Bukan berarti hari ini proses “berbenah diri” sudah selesai. Tetapi pada saat itu, ketidakpercayaan dan pesimistis seringkali mendorong saya untuk mempertanyakan esensi hidup. Hampir mirip seperti tidak berTuhan.

Dalam satu kesempatan, Saya pernah menjadi pendidik, dengan metode pembelajaran semi militer untuk sebuah organisasi. Setiap silabus yang Saya ajarkan membuat percaya perihal manipulasi mental.

Terdorong oleh keyakinan itu, Saya merasa bahwa bahagia hanya bersifat sugesti, indoktrinasi dan dogmatif. Memandang dengan cakrawala yang demikian, Saya tersungkur dalam pemahaman bahwa hidup hanya sekedar konsep – konsep untuk mencapai goal tertentu dan rasa, tentu saja hanya sebagai instrument intuitif demi sebuah pencapaian.

Saya semakin tenggelam dalam kerangka berpikir dan teori yang membuat lupa akan isi. Sibuk berharap menghasilkan kader berkarakter militan dan perasaannya harus sesuai ketentuan. Mendidik seperti itu tanpa dilandasi kematangan spiritual dan kajian ilmu pendukung yang diperlukan tentu saja membuat sok tahu, ndisiki gusti dan terjebak ramai – ramai.

Beberapa pengalaman traumatis menjadi penyebab utama ketidakcakapan mengatasi masalah – masalah sosial yang saya alami. Ide bahwa bahagia adalah hal nyata terasa begitu imajiner. Kegelisahan itu menemukan eksistensinya dalam diri saya dengan memicu membesarnya pemahaman lama “jalani hidup apa adanya” melalui proses hiperbolis menjadi “anti mapan”. Kepasrahan ngawur seperti itu kemudian malah menjauhkan nurani kepada bahagia yang jelas dan terang maknanya.

BACA JUGA :   Dedy Wahyudi Wakil Walikota Bengkulu Pertama Bergelar Doktor

Beberapa orang menyatakan bahwa bahagia tergantung persepsi pribadi masing – masing. Fitrah manusia bisa merasakan derita – senang, gelisah – tenteram, dst. Dan bagaimanapun persepsinya, bahagia adalah perasaan yang mengandung nilai senang, “positif” dan memiliki keharusan langgeng. Bagaimana cara mendapatkan dan kadar kualitasnya itu lain cerita.

Bahagia Tanpa Baper

Bahagia tentu berkaitan dengan kecerdasan emosional seseorang. Seseorang yang pandai secara IQ belum tentu senang hidupnya karena EQnya kurang memadai. Dan kebahagiaan yang hakiki adalah yang bisa mentransformasikan kepandaian IQ ke kepandaian EQ, begitupun sebaliknya.

Seseorang tidak bisa lantas tiba – tiba marah kepada pesawat terbang karena bising sebab logika IQnya berjalan. Seseorang meredam emosi dan merunut kronologis kenapa pegawainya mencuri dan ternyata itu bentuk kecil dari memberontak – karena kesejahteraan pegawai ia abaikan. Dia bisa menemukan solusi yang lebih pener karena EQnya baik.

Jiwa dan bahagia selalu berkesinambungan. korelasi ini amat terlihat ketika seseorang remaja. Jika bahagia maka berprestasi, kacaugalau maka euforia negatif yang mencengkeram hati. Jiwa remaja memang labil karena proses perpindahan fase hidup. Namun, beberapa tahun silam berkembang fenomena menarik. Dalam pergaulan Anak Baru Gede, istilah-istilah tentang suasana hati bermunculan. Salah satunya “baper”.

Demikian santernya kata – kata itu terdengar di sekitar. Saya penasaran dan kebelet memuaskan tanya di hati. Seorang kawan menjelaskan bahwa baper adalah akronim dari bawa perasaan – glass heart. Saya pikir ini adalah degradasi makna dari sensitif atau perasa.

Baper membawa kesan makna negatif karena orang menganggap Si ”Baper” sulit menguasai emosionalnya. Atau temperamen. Sedangkan sensitif atau perasa terdengar lebih manusiawi. Bahkan, bagi penghayat Olah Rasa, Penulis atau Pengamat Lingkungan sensitif justru merupakan anugerah karena bermanfaat untuk “tajam melihat tanda kejadian” jika mereka melatihnya dengan baik.

BACA JUGA :   Masa yang Terbuang Percuma

Baik baper maupun sensitif berpengaruh terhadap kebahagiaan jika tidak pandai mengambil sudut pandang dan menentukan cara bersikap.

Kebahagiaan menurut kacamata agama, menurut saya adalah puncak dari pencapaiaan kekhusyuan. Bahwa setiap agama mencita – citakan keefektifan mensejahterakan umat, damai dalam berinteraksi dan menjadi tuntunan untuk mencapai bahagia secara personal maupun komunal.

Bagaimana Cara Meraih Kebahagiaan?

Bagaimana Cara Meraih Kebahagiaan dalam islam? Selain mengaplikasikan ajaran secara penuh, bersyukur dan ikhlas  untuk mencapai bahagia lahir batin dunia akhirat, juga disebutkan dalam sebuah hadist bahwa ada empat kebahagiaan dunia yang utama yaitu istri yang baik, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan derita dunia sendiri kebalikan dari empat hal tersebut.

Di dalam filsafat jawa, kebahagiaan tersirat dalam hubungan yang harmonis antar manusia jawa serta kepada gustinya. Kehidupan manusia, dzat ilahi dan semesta terangkum dalam ajaran tasawuf jawa, ngelmu kasampurnan atau wirid hidayat jati. Kesempurnaan yang di maksud adalah pener-nya hubungan antar manusia dengan manusia, manunggalnya manusia dengan gusti dan manunggalnya manusia dengan semesta. Hararapannya jika masyarakat Jawa mengamalkan ajaran ini akan tenteram (bahagia) secara komunal.

Menyoal kebahagiaan adalah hal tak pernah tuntas. Bahkan dengan kebutaan saya masih meraba – raba untuk mencari maknanya yang hakiki. Tak pernah cukup wawasan terkandung di pikiran saya tentang hal ini. Menerjemahkan bahagia sebagai konsep yang mendalam, perlu mengenali diri secara utuh. Butuh pendekatan psikologi.

Tetapi setidaknya untuk diri sendiri, kita perlu sebuah alat agar berjodoh dengan kebahagiaan. Yaitu seperangkat nilai – nilai yang kita anggap benar. Lalu menjunjungnya sebagai idealisme dan tidak berusaha mengingkarinya. Memahami nilai – nilai tersebut bukan sebagai doktrinasi terpaksa dan mengaplikasikannya kedalam sikap dan tingkah laku.

BACA JUGA :   KBM Tatap Muka Harus Kantongi Rekomendasi Gugus Tugas Covid-19

Lelaku ini, musti sengan memperketat disiplin diri. Selesaikan pekerjaan dan keinginan. Kurangi keinginan yang tidak prioritas dan memperbesar tindakan. Memperdalam spiritual, bersyukur, ikhlas menerima keadaan diri sendiri dan apa yang telah Ia lakukan.

Bersenang – senang dengan hal baik adalah sebuah keharusan. Bahagia itu wajib hukumnya. Seandainya sendi – sendi 5 indera belum mampu merasakan, setidaknya kita berusaha mencari. Kewajiban seorang yang ngelmu, harus membuka cakrawala penalaran yang konstruktif atas nilai – nilai kebenaran bukan?

Dan bukannya justru membuka tangan lebar – lebar dengan kesenangan semu yang destruktif. Akhirnya, tentu saja jika bahagia pun bagian dari pencitraan, maka saya harus angkat tangan dan mengkritisi materi.

 “Guru, itu jawaban dialektif saya, Sudut nurani masih miskin rasa, sudahkah guru bahagia?”

Saya takut kalau tidak bahagia, tidak dapat nilai A.

Ah sudahlah, seperti wirid yang ritmis. Seperti malas bekerja sembunyi di Masjid. Aku musti tengok kawan ke Rumah Sakit. Biar bahagia.

Bagikan Yok!
Share
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
%d blogger menyukai ini: