Petani yang miskin punya Pesawat,Pajero, Fortuner

Ada seorang petani yang miskin yang benama Hokkop, dia tinggal jauh dari pemukiman warga dia terkenal baik, sopan, rajin ibadah, dan pekerja keras. Dia tinggal bersama orang tuanya yang sudah lanjut usia, yang sudah sakit-sakitan.
Dia punya cita-cita membahagiakan kedua orang tuanya dengan membawa mereka bertamasya ke tempat wisata luar daerah yang belum pernah mereka jalani, dan seutuhnya lelaki dia juga ingin mempunyai sesosok istri dan ingin membina bekeluarga karena umurnya sudah 30 tahun dan dia punya satu mimpi lagi mempunyai mobil mewah dan pesawat.
Pada suatu hari dia panen sayur dengan hasil yang banyak, dia mendapatkan uang dari penjualan sayurnya yang cukup besar.
Saat itu dia langsung berencana membawak kedua orang tuanya bertamasya ke daerah yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya, karena itu adalah salah satu cita-cita yang telah lama dia impikan.
Pada akhirnya mereka pergi bertamasya, ketika mereka sampai ketempat wisata kedua orang tuanya menangis karena suatu kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, karena ekonomi mereka selama ini hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Mereka menghabiskan waktu 2 hari ditempat itu, dan pada akhirnya mereka pulang kerumah mereka dengan suatu kebahagiaan yang terpancar dari muka mereka.
Ketika mereka pulang kerumah, si hokkop bertemu dengan dengan teman lamanya bernama dewi yang baru pulang dari perantauan.
Dewi adalah perempuan yang baik, dan cantik. Dewi dahulunya adalah kekasih hokkop yang masih mencintai hokkop walaupun sudah lama tidak berjumpa.
Hokkop pun mengajak dewi untuk bermain kerumah, dewi pun merasa bahagia saat itu karena hokkop mengajaknya. Dewi pun pergi kerumah hokkop memakai rok panjang dengan suatu kebahagiaan
Ketika nyampai dirumah, dewi disambut oleh kedua orang tua hokkop dengan ramah, dan mereka berbincang-bicang hingga kedua orang tua dari hokkop menanyakan sesuatu yang pribadi dengan dewi, ketika itu hokkop pergi melihat kebun sayurnya.
“Apakah dewi mau dengan anak saya si hokkop?” Ungkap orang tua dewi
“Ehhhmmmmm, kalau itu saya mau saja bu, tapi lihat abg hokkop gimana” dewi tersipu malu.
“Yaudah nanti sampaikan sama orang tua nak dewi kalau suda pulang dari sini, kami nanti datang kerumah untuk melamar nak dewi. Tapi yaudah sana jumpai si hokkop sana dikebun” ungkap orang tua hokkop
Saat itu dewi merasa sangat bahagia, karena orang tua cinta pertamanya ingin datang kerumah untuk melamar dewi.
Dewi pun pergi menjumpai hokkop yang sedang dikebun sayur, ketika jumpa hokkop langsung mengajak dewi jalan jalan melihat sawah hokkop.
Hokkop dan dewi pun nyampai disawa dan duduk berdua di gubuk tempat biasa hokkop menyimpan hasil panen padi.
Merekapun berbincang berdua, mengingat masa masa mereka dulu dengan tertawa riang.
Tiba tiba paha dewi terasa ada yang menggigit, dewipun memegang pahanya dan tiba tiba dewi menjerit dan langsung memeluk hokkop dan menyuruh hokkop melihat apa yang dipaha dewi.
“Bang tolong ambilkan yang dipaha dewi, dewi gak berani ngambilnya gelik bang” dengan rasa ketakutan.
Hokkop pun bingung, dan terfikir dalam benaknya “kalau gak kuambil aku nolak rezeki, kalau kuambil nanti takut dosa sudah gitu dia meluk aku terus, memang sih baru kali ini aku dipeluk dewi dan baru kali ini ada wanita yang mau meluk aku, tapi yaudalah kuambil aja rezekinya”
“Yaudah kuambil tapi dimananya yang gigit dewi?” Ungkap hokkop
“Dipaha sebelah kanan bang”
“Gimana abg mau ngambilnya, dewi kan pakai rok panjang”
“Ihhhhhh…. cepatlah bang gelik kali dewi rasa bang, tarik aja rok nya keatas bang” sambil meluk hokkop.
Sebagai lelaki hokkop pun langsung membuka rok dewi dan melihat paha yang putih dan halus ada pacat yang menempel, dan hokkopun menarik pacet dari paha dewi.
“Aduh bang, sakit!!” Kata dewi.
“Yaudah yang penting sudah pacet nya sudah abang ambil.”
Tak lama kemudian hokkop dan dewipun pulang kerumah.
Besok lagi bersambung dulu

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Istri Mengerjakan Yang Ada,Suami Mencari Yang Belum Ada
Share
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
%d blogger menyukai ini: