• Jum. Jul 30th, 2021

Yaumil Milad ke-74 HMI

ByAndri Januardi

Feb 6, 2021

“Jadi tak bise ni Bet (Jadi tidak bisa ni Bet)?” tanya temanku Muhammad Yani kepada teman kami, Nurbaiti.

“Tak bise ye, bukan tak maok (Tidak bisa ya, bukan tidak mau),” jawab teman yang karib kami sapa Beti itu.

Saat itu, awal 1995, kami mendatangi kediamannya di Gang Tanjung Harapan, Keluraham Benua Melayu Darat. Aku dan Yani menawarkan dia untuk bergabung bersama kami dalam organisasi Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI). Organisasi ini merupakan organisasi sayap milik Pertai Persatuan Pembangunan untuk menempa kader-kader muda partai. Secara kebetulan aku bersama Yani diberi mandat untuk mendirikan kepengurusan Pimpinan Anak Ranting organisasi ini di Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan. Padahal kami berdua berdomisili di Kelurahan Bangka Belitung, Kecamatan Pontianak Selatan -kini masuk dalam wilayah Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara- namun sama-sama di Gang Tanjung Harapan. Itulah uniknya Gang Tanjung Harapan, meliputi dua kelurahan yang dipisahkan oleh parit bernama Parit Bansir. Yang satu bernama Kelurahan Benua Melayu Darat, sementara yang lain bernama Kelurahan Bangka Belitung. Kini parit yang menjadi batas kedua kelurahan tersebut menjadi batas alam antara Kecamatan Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara.

Demi mengisi kepengurusan, aku dan Yani harus bergerak door to door, mengajak pemuda-pemuda di wilayah Kelurahan Benua Melayu Darat untuk bergabung bersama kami. Ada yang bersedia bergabung, ada pula yang menolak. Untuk yang menolak, berbagai alasan kami dapatkan. Seperti telah bergabung dengan partai politik lain atau alasan lain. Seperti alasan teman kami Nurbaiti yang kami datangi kediamannya petang itu.

“Saye ni Yan anggota HMI, dilarang berpolitik,” ucap Beti.

HMI yang dimaksud tentu saja Himpunan Mahasiswa Islam. Teman kami ini saat itu merupakan mahasiswa semester II Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Begitu menjadi mahasiswa, dia langsung menambatkan hatinya bergabung bersama HMI. Anggaran Dasar HMI, tepatnya pada pasal 6 secara tegas mengatakan bahwa mereka merupakan organisasi yang bersifat independen. Artinya tidak boleh memihak atau berafiliasi ke manapun, terlebih partai politik. Itu sebabnya teman kami langsung menolak saat kami ajak bergabung bersama GMPI, karena organisasi kami merupakan organisasi sayap dari sebuah partai politik.

BACA JUGA :   Baca ini disaat kamu lupa untuk tidak "bersyukur"

“Kan ndak ketauan gak bah kalau awak begabong (Kan tidak akan ketahuan juga, jika kamu bergabung bersama kami),” rayu Yani.

“Mane pulak tak ketauan, ngade-ngade jak kitak ni (Bagaimana pula tidak ketahuan, kalian mengada-ada saja),” celetuk Beti.

“Kan bukan sebagai pengurus bah, anggota jak (Kan bukan sebagai pengurus melainkan anggota),” rayu Yani kembali.

“Eh, same tak beri jak bah (Sama saja),” ucap dia.

“Jadi benar-benar tak bise ni Kak Beti?” tanyaku menimpali Yani.

“Iye Ndri, mintak maaf ye, bukan tak maok,” ujarnya.

Dan kami pun berlalu meninggalkan kediamannya. (*)

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *