Selamat Hari Kanker Sedunia

Selamat Hari Kanker Sedunia

“Kau ni nampaknye harus dikemo We, cobe sekali-kali kau kemo We (Kamu ini sepertinya harus dikemo We, coba sekali-kali kamu dikemo),” ucap temanku mendiang Sarwoto kepada temanku Heri Pakwe dalam Bahasa Melayu Pontianak. Kemo yang dimaksud dia adalah kemoterapi.

Ketika itu kami sedang menghadiri pemakaman salah seorang teman yang meninggal setelah kanker menggerogotinya, Syeh Faisal. Saat itu, 6 April 2015, percakapan tersebut sedang berlangsung di Komplek Pemakaman Kampung Bansir.

Uwe yang disapa demikian hanya tersenyum-senyum kecut. Sesekali dia melontarkan balasan, “Ape die Bang Wotok (Apa sih Bang Woto)?”

Bang Wotok adalah panggilan dia buat temanku yang bernama Sarowoto ini. Sementara Uwe adalah panggilan buat temanku Heri.

Penampilan Uwe ketika itu sudah seperti orang sakit. Badannya kurus, hanya tulang berbungkus kulit. Matanya cekung. Berbeda jauh dengan fisiknya yang dulu. Saat dia keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Pontianak, sekitar akhir 2006. Kulitnya bersih, badannya gemuk berisi, dan dia rajin ibadah. Sayangnya, belum lama menghirup udara kebebasan, tuntutan hidup menuntunnya pada jalannya semula. Dia kembali ke dunianya yang dulu. Dunia yang mengajak dia mengenal berbagai hal negatif, salah satunya narkoba. Dia kembali menjadi pemakai, bahkan pecandu. Terlalu jauh dengan permainan baru yang sebetulnya sudah ditinggalkannya ini, membawa dampak buruk pada tampilan fisiknya. Dia menjadi kurus, seperti orang sakit. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan dia pada hari itu menjadi bahan olokan.

Sambil menunggu proses pemakaman teman kami Faisal, saat itulah tiba-tiba saja Uwe muncul. Kemunculan dia ini langsung disambut dengan gurauan oleh Bang Wotok kepadanya. Uwe hanya bisa garuk-garuk kepala. Sementara yang lain tertawa.

“Ngape pulak aros dikemo Bang Wotok (Mengapa pula harus dikemo Bang Woto)?” tanya temanku yang lain, mendiang Wak Aries.

BACA JUGA :   BUKAN AKU

“Kau tengoklah tu, badan kuros, mate cekong, tangan begegar, bagos kau perikse jak We, pasti kau nantik kenak suroh kemo tu (Kamu lihat saja, badannya kurus, mata cekung, tangan gemetaran, bagus kamu periksa saja diri kamu We, pasti kamu nanti disuruh kemo),” ujar Bang Wotok.

Kami semua tertawa mendengar gurauan tersebut. Sementara Uwe hanya terdiam, tak mampu meladeni gurauan itu.

Siapa sangka beberapa waktu setelah pemakaman itu, aku mendapat kabar dari Martinus Fieter, temanku yang lain, jika Bang Wotok divonis mengidap kanker paru-paru stadium lanjut. Pemakaman itu menjadi kali terakhir aku bertemu dengan dia. Kesibukan kami masing-masing manjadikan sulit untuk berjumpa satu sama lain. Apalagi masing-masing dari kami juga meninggalkan kampung halaman orang tua kami di Kampung Bansir, membangun kehidupan sendiri di tempat lain. Aku di Pal Lima, sementara Bang Wotok di Sungai Raya Dalam. Momen-momen seperti inilah yang mempertemukan kami, seperti pemakaman, Idulqurban, Idulfitri, pernikahan dan lain-lain.

Dulu, saat masih lajang, pertemuan kami adalah di kawasan Ambalat. Jadi ke manapun pergi, tempat ini yang menyatukan kami.Aku begitu kaget dengan kabar yang disampaikan tersebut. Aku tidak berani bertanya langsung kepada Bang Wotok. Tapi yang kudengar, dia tidak pernah peduli dengan vonis yang menggerogotinya itu. Belum pernah kudengar bahwa dia harus menginap di rumah sakit. Bahkan, dia masih tetap disibukkan dengan tugasnya sebagai abdi negara di Pemerintah Kota Pontianak.

Hingga pada suatu petang, ketika sebuah pesan singkat masuk ke telfon selulerku, memberitahukan bahwa dia telah meninggal hari itu. Pesan seluler berasal dari temanku Dedi Martin dan aku tidak bisa membalasnya. Saat itu, 15 Oktober 2016, aku baru saja tiba di Kota Kinibalu, Sabah, Malaysia, demi menghadiri sebuah undangan. Aku kaget dan tak bisa berbuat banyak. Aku bahkan tak bisa menghadiri pemakaman temanku itu. Kegiatan di Negeri Jiran masih berlangsung dalam beberapa hari.Dari kisah yang kudengar, di akhir hayatnya, dia masih sempat membawa keluarganya jalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor. Ketika itu maut sudah akan menjemputnya. Tiba-tiba darah mengucur deras dari kedua lobang hidungnya. Dari atas kendaraannya dia melaju kencang menuju rumah sakit. Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa membawa sepeda motornya sendiri. Temanku yang kuhormati ini memang tipikal petarung. Bahkan dia tidak mau menyerah begitu saja oleh penyakit mematikan yang menggerogotinya. Dibawanya sendiri tubuhnya yang limbung menuju rumah sakit. Dan di sanalah kemudian dia menemui ajalnya. Begitu hebatnya dia, sampai-sampai kisah ini selalu terekam di kepalaku. Temanku yang kuat ini harus takluk oleh kanker. Tapi kanker tak pernah berhasil membuat dia menyerah, untuk terbaring di atas tempat tidur. Kanker tak pernah mampu melemahkannya. Kanker hanya mengambil nyawanya seketika, tanpa proses yang menyakitkan.

BACA JUGA :   Dewan Kota Soroti Data Penerima Bantuan Kesejahteraan Sosial

Buat temanku Almarhum Bang Wotok di alam sana. Buat seluruh orang yang harus berjuang menghadapi kanker. Teruslah berjuang. Jangan pernah lemah oleh kanker. Biar saja dia mencabut nyawa kita, tapi jangan pernah dibuat lemah olehnya.

Bagikan Yok!
Share
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
%d blogger menyukai ini: