Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Kearifan Tidak Butuh Gelar

Barangkali tak ada perumpamaan yang amat indah kecuali kita menyetujui ucapan Imam Ghazali. Menurut sang Imam, tubuh manusia bagaikan kerajaan, di mana hati sebagai raja sedangkan akal atau daya pikir bertindak sebagai penasehat, pembantu raja atau menteri yang arif bijaksana. Adapun nafsu sendiri memiliki peran ganda. Ia bisa menjelma hulubalang yang korup, tetapi bisa juga menjadi pengawal raja yang setia.

Rasa-rasanya saya ingin mengamini, mengapa bukan akal yang berfungsi sebagai raja. Sebab mengutip pernyataan A.S. Laksana, ternyata akal selalu mencari cara untuk membenarkan perbuatan kita. Dan benarlah apa yang dikatakan cerpenis tersebut. Saat ini, kita tak memiliki alasan kuat untuk menolak kenyataan bahwasannya Indonesia sedang bergejolak.

Adalah musim pemilu yang sejauh ini menyumbang kebobrokan demokrasi. Kontestasi politik yang harusnya berlangsung santun nan damai, kini menjadi ajang hina dan cacian. Beda pilihan politik, siap menghujat. Tak keluarga, tak kawan, jika tak satu pilihan, putuslah hubungan. Apalagi menyeret suatu agama. Duh, Tuhan yang pada dasarnya milik kita semua, nyata-nyata diklaim hanya milik sekelompok orang.

Jelas bukan tanpa sebab, mengapa perbedaan pilihan politik terlebih kontestasi pilpres mampu melahirkan kelompok cebong versus kampret. Dalam hubungan antar manusia, orang-orang yang menyimpan hasrat tidak suka terhadap suatu hal, akan gembira manakala mendapati berita buruk terkait hal yang ia benci. Begitupula dengan pendukung kedua kandidat, akan senang saat mendapati kabar keburukan lawan pilihannya.

Di sini kita bisa melihat, jika akal yang lebih dominan, maka ia menjelma raja. Buktinya, orang-orang yang memiliki visi kebencian yang sama, akan mengelompok dan merasa bahagia tatkala menerima keburukan kandidat lawan. Lalu dengan senang hati menyebar kabar tersebut tanpa memverifikasi benar tidaknya berita yang diperoleh.

BACA JUGA :   Ego Yang Tak Perlu

Akibatnya, hoax dan gosip berseliweran di media sosial. Apalagi media ini tak memiliki penyaring. Apa saja bisa diungkapkan tanpa mempertimbangkan baik buruknya ucapan karena semua berhak bersuara, semua berhak komentar. Maka, bukan kebetulan semata jika cebong versus kampret ini muncul di ruang publik.

Sebenarnya, hoax bukanlah hal baru dalam kancah peradaban manusia. Anda masih mengingat kisah Iblis yang berhasil menghasut Adam-Hawa untuk mencicipi buah khuldi? Nah, kedua nenek moyang kita ini, berhasil mempercayai hoax yang disiarkan Iblis. Iblis yang notabene malaikat yang paling taat di antara seluruh malaikat, menipu sekaligus menyampaikan berita bohong bahwa buah khuldi tak apa dikonsumsi Adam-Hawa. Padahal, jelas-jelas Tuhan melarang. Jadilah keduanya terusir dari surga.

Tentu, saya tak mau menyalahkan Adam-Hawa yang menyebabkan kita terdampar di muka bumi. Cukuplah hoax Iblis kepada Adam-Hawa ini, menjadi bekal agar ke depan kita senantiasa mencerna suatu kabar. Sehingga kita terhindar kubu-kubu yang sering melempar hinaan.

Sebab, masyarakat yang gemar menghina ini tak melulu berasal dari kalangan bawah alias yang tidak merasakan bangku sekolah. Politisi kelas atas yang menyandang beragam gelar, tak luput menciptakan kegaduhan publik. Lewat media sosial, mereka kerap mencuit status mursal. Ditambah saat menghadiri acara suatu televisi, menjani nilai tambah bahwasannya adu gagasan bukan hal terpenting. Justru menjatuhkan lawan bicara adalah hal mutlak yang harus dilakukan.

Amat disayangkan, jika pendidikan yang digeluti belasan tahun tak mampu menciptakan kecakapan, setidaknya bersikap arif saat berseberang pilihan. Berbagai pelajaran, pola pendidikan bahkan jenjang perkuliahan yang dipilih, seolah-olah sebatas nilai yang dituangkan dalam predikat kelulusan. Bukan soal sikap dan adab.

Maka, tak heran pemerintah hendak kembali menggulirkan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Terlepas pro dan kontra, moral adalah pelajaran yang tidak bisa dihafal lalu diujikan dalam soal. Ia lebih mengarah ke praktisi daripada teoritis. Lebih mengarah ke mencontoh dari apa yang dilihat di lingkungan sekitar. Jika di lingkungan rumah saja, si anak acapkali mendapati percekcokan kedua orang tuanya, bukan mustahil anak ini memiliki bakat menghina.

BACA JUGA :   Candi Tangkas Kori Agung Pesangkan Bali

Jika kerusakan-kerusakan moral ini tak ditangani secara serius, mungkin, suatu hari nanti, bangsa kita bukan lagi bangsa yang beradab. Masyarakat yang katanya toleransi, barangkali hanya menjadi dongeng anak keturunan, dan hanya dijumpai di buku-buku cerita. Selebihnya, bangsa ini akan diisi orang-orang beringas, yang buasnya melebihi binatang liar di hutan-hutan.

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, perkenankan saya mengakhirinya dengan ucapan Syaikh Abdul Qadir Jailani: “Aku Lebih Menghargai Orang Beradab daripada Orang yang Berilmu. Kalau Hanya Berilmu, Iblis-pun Lebih Tinggi Ilmunya daripada Manusia.”(Wallahu a’lam bisshowab)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: