Kebahagiaan Bukanlah Sebuah Benda

Kebahagiaan Bukanlah Sebuah Benda

Ketika berusia 18 tahun, saya membaca sebuah buku motivasi yang dibuka dengan kisah Socrates yang gemar mengunjungi pasar, namun jarang sekali membeli sesuatu. Konon katanya, Socrates sering mengubah jadwal demi pergi ke sana. Hingga suatu hari, salah seorang muridnya yang penasaran, bertanya, “Mengapa Anda begitu sering pergi ke pasar, dan berbelanja begitu sedikit?”

Socrates tersenyum sembari menjawab, “ Aku hanya suka melihat segala macam barang-barang bagus yang tak kubutuhkan itu.”

            Ketika membaca buku tersebut, kening saya mengerut penasaran sekaligus bertanya-tanya, “Kebahagiaan macam apa yang dirasakan filsuf Yunani ini sampai-sampai selalu ingin mendatangi pasar?”

            Baru dua tahun kemudian –lepas dari pesantren– saya mencoba mempraktikkan apa yang dilakukan Socrates. Mula-mula, saya semangat sekali. Jika tak ada jadwal kuliah sore, saya kerap mendatangi Pasar Tanjung. Mengelilingi pedagang yang sibuk menawarkan dagangan. Melihat sayur-mayur, beragam camilan sampai pakaian. Berlagak sok filsuf, begitu. Sialnya, saya tak merasakan apa-apa kecuali rasa lelah berada di tengah-tengah keramaian.

            Selang beberapa hari kemudian, saya kembali mendatangi Pasar Tanjung. Kali ini lebih parah. Rasa bosan mendengar adegan tawar-menawar begitu memekikkan telinga. Hiruk-pikuk pertengkaran kecil sesama penjual begitu memuakkan. Saya cepat-cepat menuju parkiran. Pulang. Aduh, kata saya. Jangan-jangan Socrates itu gila. Demi kata bahagia saja dia mengelilingi kerumunan orang.

            Saya tidak ingat, entah kedatangan ke berapa atau tahun ke berapa, yang pada akhirnya mengantarkan saya pada tingkat kenyamanan mengelilingi pasar tanpa membeli banyak barang. Yang bisa saya pastikan, saya tetap mendatangi Pasar Tanjung dengan modal rasa keingintahuan atas apa yang dirasakan Socrates. Kendati saya tidak bisa memastikan perasaan Socrates yang sesungguhnya, setidaknya saya berusaha menebak, “Oh, semacam ini yang dirasakan filsuf itu.”

BACA JUGA :   Bahagia: Konsep atau Rasa? atau Konsep Merasa?

            Tentu keadaan batin saya sangat berbeda jika dibandingkan kedatangan pertama kali. Ada semacam kebahagiaan yang tidak bisa saya nilai dengan materi. Pernah saya membeli sepotong tempe, tetapi saya mengeliling pasar sampai sejam lamanya. Padahal transaksi jual-beli ini bisa dilakukan barang satu sampai dua menit karena saya tahu letak pedagangnya di mana, tapi saya masih keluyuran ke mana.

            Lambat laun mengelilingi pasar, saya menemukan banyak hal di dalamnya. Ada seni di setiap ucapan penjual kepada pembeli. Pun begitu sebaliknya, kengeyelan pembeli menawar harga kadang membuat geli. Saya lebih mudah tersenyum manakala mendapati pertengkaran kecil musabab uang kembalian yang kurang. Atau belajar sabar dari adegan nenek tua yang duduk termenung menanti seseorang memborong barang dagangan. Saya kira, Socrates dengan kebiasaannya mengelilingi pasar, telah mengajarkan kepada kita bahwa manusia sejatinya memiliki ruang yang dapat memproduksi rasa bahagia. Kebahagiaan semacam ini tidak bisa diproduksi pabrik layaknya makanan ringan maupun benda kesayangan. Kebahagiaan ini telah ada bersama kelahiran manusia itu sendiri sebab ia menyatu dalam diri manusia. Oleh karenanya, ia disebut sebagai kebahagiaan batin.

            Kebahagiaan batin, Anda tahu, lebih condong ke arah non materi. Jika perhiasan, alat tansportasi maupun benda-benda berharga dicap sebagai pemuas dahaga, saya kira, penilaian ini terjadi karena tampilan fisik maupun fungsi dari barang tersebut. Berbeda dengan kebahagiaan batin yang muncul secara alami. Misalnya, bagi orang sakit parah. Aroma tanah kering ketika ditetesi hujan, desir angin di padang ilalang maupun sentuhan embun di pagi hari, akan terasa bermakna dan mereka ingin sekali menikmati apa-apa yang diberikan alam saat sehat kembali.

BACA JUGA :   SUAMI KU PELIT PADAKU NAMUN TIDAK KE ORANG LAIN

Sebagai manusia, saya rasa sepatutnya kita mencari kebahagiaan batin yang ada dalam diri kita masing-masing. Setidaknya, kebahagiaan batin inilah yang akan menopang dan menguatkan hidup, manakala kebahagiaan yang berwujud materi dan fisik tidak terpenuhi. Bukankah, semua keinginan kita tidak menjadi nyata, dan tidak semua kenyataan berangkat dari keinginan kita? Ah, tentu saya tak mau menggurui. Bagaimanapun juga saya masih belajar mencari kebahagiaan batin yang ada dalam diri saya. Saya ingin terus berlatih sampai akhirnya menemukan kebahagiaan batin yang sejati. Meski saya mengetahui kebahagiaan sejati saya berwujud Tuhan, saya kira, saya harus tetap mencariNya sampai akhir hayat.

            Wallahu’alam Bisshowab

Bagikan Yok!
Share
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
%d blogger menyukai ini: