• Rab. Jul 28th, 2021

Ketika Kita MenTuhankan Kesibukan, dan Melupakan Tuhan Itu Sendiri

ByRui Massa

Feb 2, 2021 , ,

Suatu petang, saya tertegun mendapati pemandangan di perempatan lampu merah. Deretan depan yang dihuni pengendara sepeda tak ubahnya perlombaan lari maraton. Semua tampak gelisah. Tampak sekali jika jemari ini sangat gatal menarik gas sepeda. Sebagaimana pertandingan, nyala lampu kuning yang disusul warna hijau disambut dengan hentakan gas. Semua berlomba mempercepat laju kendaraan seakan-akan berebut berada di garda depan. Sialnya, saya adalah satu di antara pengemudi itu.

            Beberapa hari kemudian, saya kembali mendapati pemandangan serupa. Kali ini terjadi pada pagi hari ketika semua orang bergegas menuju tempat tujuan. Dari pakaian yang dikenakan, saya berusaha menebak; ada yang berangkat kerja; berangkat sekolah; ada pula yang kuliah. Semuanya terlihat tergesa-gesa. Serba ingin cepat dan serba ingin sampai ke tempat tujuan. Saya kembali tertegun. Membayangkan, berapa banyak pengendara di antara mereka yang melakukan aktivitas dengan sesegera mungkin. Bisa jadi pagi tadi dibangunkan bunyi beker, lalu bangkit terburu-buru ke kamar mandi. Bahkan kalau perlu, semua jemari harus dimaksimalkan; menerima telepon sembari menyuapi anak; menerima telepon sembari menyapu lantai; makan sembari menelepon. Dan beragam pekerjaan lainnya yang dilakukan secara bersamaan demi waktu yang efektif.

            Hari bertambah hari. Bulan bertambah bulan. Pemandangan ini menyadarkan saya, betapa saya terlahir di tengah-tengah zaman yang menuntut segala sesuatu berlangsung cepat. Semua tampak melaju ke arah depan dengan sangat kencang. Melaju dengan beragam kesibukan demi mencapai tujuan masing-masing. Sialnya, jika tujuan itu telah tercapai, kita masih memiliki tujuan-tujuan lain yang mesti diraih. Masih ada kesibukan-kesibukan yang duduk mengantre di belakang, dan tidak memberi kesempatan kepada kita untuk beristirahat sekian pekan. Dan akhirnya, kita tidak memiliki stasiun pemberhentian karena semua stasiun yang kita miliki hanya sekadar tempat istirahat barang sebentar, bukan akhir dari sebuah perjalanan.

BACA JUGA :   GENERASI PANDEMI

            Terkadang saya bertanya-tanya, mungkinkah sikap serba tergesa-gesa yang menandakan kita memiliki kesibukan adalah kriteria sukses bagi seseorang? Saya terus bertanya-tanya. Kadang pertanyaan itu melahirkan jawaban dan jawaban itu melahirkan pertanyaan lain. Begitu seterusnya berulang-ulang. Pertanyaan seputar kesibukan. Seputar kesuksesan. Seputar tujuan hidup. Semuanya mengantarkan saya pada satu hal: dapatkah saya menemukan makna hidup di tengah tuntutan zaman yang menginginkan segala sesuatu berjalan cepat? Yang saya takutkan, justru saya menemukan apa itu ‘hidup’ dan bagaimana ‘saya’ ketika menjelang ajal. Duh, moga-moga tidak begitu.

            Ah, kadang saya mengelak. Jangan-jangan pertanyaan itu muncul karena saya lebih suka rebahan sehingga mencari-cari alasan dan membenarkan apa yang telah saya perbuat. Itu yang sulit saya cerna.

            Kendati begitu, pertanyaan seputar kesibukan terus menghantui kepala. Mungkinkah kesibukan itu tujuan hidup saya? Mungkinkah kesibukan berarti kesuksesan? Atau sukses berarti mapan dalam sandang dan pangan? Lagi-lagi saya kelimpungan menjawab pertanyaan sendiri. Saya kelimpungan mengingat kesibukan-kesibukan lain terus lahir atas tuntutan kerja. Tuntutan zaman. Sehingga yang terjadi adalah mata rantai kesibukan dan kita melewati kesempatan untuk memaknai apa ‘hari ini’.

            Sialnya, saat pertanyaan-pertanyaan di atas belum tuntas dijawab, pertanyaan-pertanyaan lain justru bermunculan dalam kepala. Kadang saya menikmati hadirnya pertanyaan-pertanyaan ini. Kadang saya tersiksa mengingat satu-dua hari tak kunjung menemukan jawaban. Kadang saya jingkrak-jingkrak mendapati jawaban yang diajukan akal sendiri, namun beberapa menit kemudian saya kembali duduk termenung sebab jawaban tersebut melahirkan pertanyaan yang lebih berkembang. Lebih bercabang.

            Seperti sekarang ini. Saya mengartikan sukses bukan lagi sebagai mapan dalam sandang dan pangan. Melainkan sukses bertemu Tuhan di akhirat kelak. Tentu saya memiliki dasar mengapa pertanyaan itu muncul di tengah malam buta. Saya rasa, tak satupun manusia –kecuali nabi- yang dijamin masuk surga. Tak alim ulama; tak guru. tak pelacur; tak pembunuh. Semua memiliki peluang masuk surga atau justru tercebur ke dalam neraka. Bisa jadi orang yang terlihat alim selama di muka bumi, justru dalam hatinya tumbuh perasaan iri dan dengki. Na’udzubillah. Sebaliknya, kisah pelacur yang memberi minum anjing justru menjadi jalan bagi perempuan itu masuk surga. Lagi-lagi, ini wilayah kedaulatan Tuhan bukan manusia.

BACA JUGA :   Budayakan Curhat Biar Waras! Meski Kadang Nggak Dapat Penyelesaian, yang Penting Jangan Dipendam

            Lantas, apakah tujuan hidup manusia di muka bumi? Berjumpa Tuhan? Masuk surga atau neraka? Bagaimana kalau keduanya tidak ada, akankah saya tetap bersujud padaNya seperti lagu almarhum Chrisye? Lagi-lagi beragam pertanyaan bermunculan. Saya kelimpungan. Saya betul-betul kelimpungan. Seakan-akan tiada kelimpungan yang lebih parah daripada menghadapi pertanyaan yang kini datang bertubi-tubi, dan sedang menunggu saya di ruang tamu bernama kepala.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *