Selamat Hari Hijab Sedunia

Selamat Hari Hijab Sedunia

31 Agustus 2011, istriku Yus Nia mulai mencoba menggunakan penutup kepala atau kerudung penutup rambut sebagai jilbab atau hijab. Saat itu, 1 Syawal 1432 Hijriah, merupakan hari pertama perayaan Idulfitri di tahun tersebut. Ini juga perayaan lebaran kali pertama bersama putri sulung kami, Allila Awalia Novania yang usianya belum genap setahun. Saat itulah istriku melengkapi pakaian yang dikenakannya bersama penutup kepala. Meski pemakaiannya masih sebatas untuk bertamu ke rumah sanak saudara, namun itu menjadi langkah positif buat dia untuk mulai mencoba mengenakan hijab.

Sebelum menikah denganku, dia memang belum berhijab. Aku bahkan menaruh hati dengannya lantaran melihat rambut panjangnya yang tergerai. Rambut panjangnya begitu indah di pandangan mataku.

Setelah menikah, dia berencana akan mengenakan hijab jika sudah kubawa ke Baitullah untuk umrah. Namun kukatakan padanya bahwa hal itu akan sulit untuk kuwujudkan dalam waktu dekat. Begitu banyak cicilan bulanan yang menggerogotiku dari sejak masih lajang, hingga kemudian menikah. Dan cicilan bulanan itu kian parah setelah aku berumah tangga. Bagaimana bisa aku menabung untuk segera mewujudkan niatnya sampai ke Tanah Suci.

Akhirnya dia memutuskan akan segera berhijab setelah menjadi seorang ibu. Aku tak pernah memintanya apalagi memaksa dia untuk melakukan itu.Beruntung dia melakukan keputusan itu di saat tren ibu-ibu berhijab sedang melanda. Jika di masa lalu, aku ingat bagaimana para perempuan berhijab begitu kesulitan dengan busananya. Semisal, belum ada gaun pengantin yang dirancang untuk pengantin perempuan berhijab. Aku masih ingat, bagaimana dulu istri temanku yang terpaksa harus melepaskan jilbabnya saat menjadi pengantin bersama temanku itu, sekitar tahun 2000. Ini terjadi lantaran belum ada pakaian pengantin yang sesuai untuk perempuan berhijab kala itu.

BACA JUGA :   Yaumil Milad ke-74 HMI

Belum lagi atlet perempuan berhijab, yang dulu terpaksa harus melepaskan hijabnya terlebih dahulu saat berlaga, karena menyesuaikan dengan kostum olahraga yang dikenakannya. Betapa sulitnya eksistensi perempuan-perempuan berhijab di masa lalu.

Tapi kini, eksistensi mereka kian terjamin. Tak ada lagi perundungan buat mereka yang berhijab sebagaimana dulu. Masih terngiang di ingatanku saat aku menegur teman kampusku, sekitar 1995 dulu, saat menyebut perempuan-perempuan berjilbab sebagai ninja perempuan.

“Iyelah, sekolah kau kan dolok tak ade perempuannye (ya iyalah, sekolah kamu kan tidak ada siswi perempuannya), makenye kau heran nengok perempuan berjilbab (makanya kamu heran melihat perempuan berjilbab),” ledekku kepadanya dalam bahasa Melayu Pontianak, dengan maksud menegurnya. Dia terdiam dan kemudian menyadari bahwa olokannya tersebut menjadi tidak lucu karena tak didukung teman-teman yang lain.

Begitu beratnya mengenakan hijab di masa itu. Tak hanya harus menguatkan hati, tapi juga mental. Sementara aku sendiri telah terbiasa berteman dengan perempuan-perempuan berjilbab lantaran menempuh pendidikan di madrasah selama 6 tahun.

Bagikan Yok!
Share
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
%d blogger menyukai ini: