Oktober 25, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Selamat Hari Primata Nasional

“Macam duet makratos (seperti uang 500 rupiah)?” celetuk Firman Bariwasi memotong pembicaraanku.

“Kiwek kau Man (sialan kamu Man),” jawabku.

Seketika teman-teman tertawa mendengar ucapan kami berdua.

Pembicaraan itu berlangsung saat makan siang di kantin panjang Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, awal September 1995. Saat itu, pada istirahat jam makan siang, merupakan minggu pertama perkuliahan kami di Politeknik Untan Pontianak -kini kampus Politeknik Negeri Pontianak (Polnep). Kami sebut istirahat jam makan siang, lantaran perkuliahan berlangsung selama delapan jam. Dari pukul tujuh pagi, hingga pukul tiga sore. Setiap hari, dari Senin hingga Jumat. Mirip jam kerja karyawan di perusahaan.

Memang demikian adanya, karena kami para lulusan Politeknik dikader untuk terjun ke dunia industri. Maka perkuliahannya pun mirip dunia industri. Ada praktik bengkel, laboratorium, dan hanya sedikit waktu di dalam kelas.

Nah, karena hendak diterjunkan ke dunia industri, oleh pihak kampus, kami disyaratkan untuk mengikuti Latihan Dasar Kedisiplinan (LDK) yang dilangsungkan untuk mahasiswa-mahasiswa baru sebelum perkuliahan berlangsung. Biasanya kegiatan yang mirip Latihan Dasar Kemiliteran (Diksarmil) tersebut dilangsungkan setelah penyelenggaraan Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus (Opspek). Bahkan biasanya para pesertanya akan dididik oleh instruktur dari TNI, di mana pelatihannya berlangsung di Depo Pendidikan (Dodik) Bela Negara Singkawang atau Dodik Bela Negara Rindam XII Tanjungpura saat ini.Karena sesuatu dan lain hal, kegiatan LDK kami hanya dilangsungkan di lingkungan kampus. Sementara instruktur-instruktur yang melatih berasal dari Resimen Mahasiswa (Menwa) dari sejumlah kampus di Kota Pontianak.

Pikir kami, dengan dididik anggota Menwa, pelatihan menjadi lebih ringan dibandingkan jika harus digembleng langsung oleh tentara. Ternyata kami salah. Jika para tentara yang menangani, mereka benar-benar mendidik. Tapi di tangan anggota Menwa, kami benar-benar dikerjai. Ya, aku sebut dikerjai, lantaran kami dijemur habis-habisan di lapangan terbuka, di bawah sengatan matahari. Bukan hanya latihan baris berbaris. Sampai makan siang pun dilangsungkan di lapangan terbuka. Kami para peserta pelatihan duduk bersila di atas aspal halaman kampus, saling berhadap-hadapan, menghabiskan makan siang kami yang tersaji dalam bungkus nasi, tanpa harus mencuci tangan kami terlebih dahulu. Sudahlah nasi yang disajikan masih panas, dengan lauk pauknya yang juga panas, dan kami harus menghabiskannya dalam waktu kurang dari 5 menit di bawah sengatan matahari yang panas dan aspal yang panas sebagai tempat duduk kami. Rasanya waktu makan siang itu adalah hal yang sangat menyiksa buatku. Bayangkan selama sepekan kami harus melakukan itu, di saat Kota Pontianak sedang mengalami musim panas.

BACA JUGA :   Aliran Ontologi, Macam - Macamnya

Meski ada jeda waktu di dalam kelas, saat menerima materi Bela Negara, atau pada waktu salat asar maupun zuhur, namun waktu kami lebih banyak dihabiskan di luar ruangan, bercengkrama dengan sengatan matahari. Seminggu pelatihan itu telah cukup membakar kulit kami. Itu sebabnya ketika hari pertama perkuliahan, kulihat rerata kulit teman-temanku, terutama pada bagian wajah, menghitam, bahkan beberapa di antaranya mengelupas. Termasuk kulit wajahku yang juga mengelupas.Itulah sebabnya, pada siang sambil menunggu hidangan makan, kami bercerita tentang suka duka selama mengikuti kegiatan Opspek dan LDK. Apalagi, di minggu pertama perkuliahan, tema yang paling menarik dibicarakan adalah pengalaman selama mengikuti kedua kegiatan tersebut. Saat itulah, ketika mendapat giliran bercerita, aku sampaikan bagaimana ibuku begitu kaget melihat wajahku usai kegiatan LDK.

“Kejot mak aku nengok muke aku (kaget ibuku melihat wajahku), pecah-pecah, sampai tak kenal mak aku, macam ape gituk kate’e (seperti apa begitu katanya),” ungkapku.

“Macam duet makratos (seperti uang 500 rupiah),” sambung Firman.

Seketika semua tertawa. Sementara aku menggerutu. Duet makratos yang dimaksud temanku ini adalah uang kertas pecahan Rp500 yang bergambar orangutan. Saat itu, uang pecahan keluaran 1992 dari Bank Indonesia tersebut masih berlaku.

Karena menggunakan orangutan sebagai gambar utama, maka uang pecahan ini kadang jadi bahan ledek-ledekan sesama teman. Mengasumsikan teman sebagai orangutan dengan menyebutnya seperti uang lima ratus atau dalam bahasa Melayu Pontianak macam duet makratos. Ini sama dengan bahasa halus untuk menyebut teman seperti orangutan atau seperti kera. Karena dalam bahasa Melayu Pontianak, semua jenis primata disebut kera atau kerak, sehingga kadang ucapan kasar menyamakan teman dengan primata adalah, “Kau ni macam kerak!”

BACA JUGA :   5 Proses Melahirkan Hewan yang Paling Unik

Karena ucapan itu terdengar kasar, maka disinonimkan dengan ucapan, “Kau ni macam duet makratos!”

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: