Oktober 20, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Dirgahayu ke-64 Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat

“Belajarlah kitak yang rajen, biar nantik bise jadi gubenor (belajarlah kalian yang rajin, biar nanti bisa menjadi gubernur),” ucap guru mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila kami, Pak Ramli, suatu pagi pada Januari di tahun 1988. Kami sekelas cekikikan mendengarnya, karena kami pikir itu hanya candaan Beliau. Beliau memang tekenal sebagai guru yang senang bercanda.
“Saye serius (saya serius), kitak jangan ketawak (kalian jangan tertawa), ini serius, belum pernah ade orang Kalbar yang menjadi gubenor, bahkan di Kalbar sendiri,” ungkapnya.
Seketika kelas menjadi senyap. Dari air muka guru paling senior di sekolah kami itu, Sekolah Dasar Negeri 09 Pontianak Selatan, tidak tampak jika Beliau sedang bercanda.
“Tau (tahu) kalian, siapa nama gubernur kita yang sekarang?” tanya dia kepada kami.
“Parjoko Pak,” jawab Pudin, ketua kelas kami.
“Ya, betul, lengkapnya Parjoko Suryokusumo. Dari namenye jak kitak udah bise nebak (dari namanya saja kalian sudah bisa menebak), pasti bukan orang kite (kita),” ungkapnya.
“Kalau Sujiman Pak?” tanyaku.
“Sujiman juga bukan orang Kalbar,” jawab Beliau.
Sujiman yang kami maksud adalah Mayor Jenderal TNI Soedjiman, gubernur Kalbar periode 1977-1988 yang kemudian digantikan Brigadir Jenderal TNI Pardjoko Suryokusumo. Beliau adalah ayah dari mantan Panglima Kodam XII Tanjungpura, mendiang Mayor Jenderal TNI Toto Rinanto.
Secara kebetulan aku memang hafal nama-nama gubernur dari 27 provinsi se-Indonesia yang seangkatan dengan Soedjiman pada waktu itu. Ini dikarenakan dulu ayahku sering membelikan poster-poster bergambar para menteri hingga gubenur se-Indonesia, lengkap dengan nama serta jabatan di bawahnya. Karena setiap hari poster-poster itu kulihat dan terpampang di dinding kamar, secara tidak langsung terekam di kepalaku hingga aku bisa menghafalnya.

BACA JUGA :   Pemimpin Harus Paham yang Dipimpin


“Pernah sekali jak (saja) orang Kalbar menjadi gubernur Kalbar, namenye (namanya) Upang Uray, tapi itu udah lamak (lama) sekali, tak suah kitak dengar namenye kan (belum pernah kalian mendengar namanya bukan)?” ungkap Pak Ramli.
Memang nama Upang Uray atau Oevaang Oeray terdengar asing di telinga siswa kelas lima sekolah dasar seperti kami di masa itu. Belum ada satu pun fasilitas pemerintah yang dibangun kemudian menyandang nama putra Kalbar yang kini diajukan sebagai pahlawan nasional tersebut, waktu itu. Tak seperti sekarang ini. Siapapun familiar dengan nama Oevaang Oeray. Namanya diabadikan sebagai salah satu fasilitas olahaga renang di Kalbar, kolam renang Oevaang Oeray. Salah satu fasilitas olahraga yang terdapat di kompleks Gelanggang Olahraga Khatulistiwa Pontianak. Oevaang Oeray atau JC Oevaang Oeray adalah gubernur definitif pertama Kalbar yang menjabat sepanjang 1960-1966. Setelah itu Beliau digantikan Soemardi, Kadarusno, Soedjiman, hingga kemudian Pardjoko yang dilantik menjadi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalbar pada 8 Januari 1988.

“Tau ndak kitak (tahukah kalian), ngape kite belom diberek (mengapa kita belum diberi) kesempatan untuk memimpin di daerah kite sorang (kita sendiri)? Karene kite dianggap belom pintar. Make dari itu, belajarlah, biar pintar, biar bise jadi gubenor,” gugah sang guru menyemangati kami.

Beliau memang terkenal paling jago menyemangati kelas. Jika kelas mengantuk, Beliau akan menghentakkan kaki kanannya ke lantai kelas kami yang masih berupa papan itu. Hentakannya itu sontak mengejutkan kami dari kantuk kami, sehingga kelas kembali segar.


Lama tak pernah kudengar lagi kabar dari guruku tersebut, setelah kami meninggalkan sekolah ini pada pertengahan 1989. Semangat yang digelorakannya untuk melihat orang Kalbar memimpin kembali Kalbar, terus terngiang di kepala kami. Mimpi itu baru terwujud 15 tahun kemudian, ketika Usman Jafar, seorang pengusaha nasional asal Kalbar dilantik menjadi gubernur ke-7 Kalbar pada Januari 2003. Sayangnya mimpi itu tak pernah bisa disaksikannya. Kabar terakhir yang kudengar bahwa guru kami ini telah menghadap Sang Khalik sekitar tahun 90-an. Alfatehah buat Beliau…

BACA JUGA :   Kadis Kominfosan Lulus Ujian Tertutup Program Doktor, LMP Mada Bengkulu Ucapan Selamat dan Sukses

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: