Oktober 23, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Bra dan Kutang, Darimanakah Kalian Berasal?

Melihat sebuah video dokumenter tentang perempuan Bali pada 1930-an membuat saya terhenyak. Mereka umumnya tidak memakai bra atau kutang. Salah satu fakta shahih yang bisa menceritakan sejarah ini terlihat dari beberapa lukisan karya Antonio Blanco. Seniman keturunan Spanyol lumayan lama tinggal di Bali.

Hal ini mengundang pertanyaan dalam benak saya –tentu bukan pertanyaan mesum- semenjak kapan kaum perempuan, lebih khususnya di Indonesia mulai memakai bra, BH atau sebutan yang lebih umum, kutang ? Untungnya Mbah Google menyediakan jawaban tentang pertanyaan saya ini.Jawabannya akan saya kutipkan, atau rangkumkan dalam artikel singkat ini.

Di Indonesia sendiri, kita mengenal 3 istilah untuk pelindung payudara bagi kaum Hawa ini. Sebagian menyebutnya bra, yang lain menyebutnya BH, tetapi yang lebih umum biasanya menyebut “kutang.”Mengapa bisa muncul beragam istilah untuk fungsi yang sama ? Begini sejarahnya.

Ternyata pemakaian bra atau kutang sudah berumur ribuan tahun!Jejak pemakaian kutang atau bra dimulai sejak abad ke-3 ketika para perempuan bangsa Romawi membebatkan semacam perban untuk membungkus dada mereka saat berolahraga.

Lantas, awal mula bra seperti yang kita kenal sekarang diluncurkan pertama kali di Paris, Prancis, pada tahun 1889. Sebagai kota fashion, sepertinya memang Paris menyandang sebagai kota pertama tempat kelahiran bra. Desain bra modern itu dibuat oleh seorang pengusaha pakaian bernama Herminie Cardolle. Bentuknya masih menyerupai korset, pendahulu bra. Brassiere yang merupakan akar kata dari bra kali pertama digunakan oleh majalah Vogue pada 1907.

Nah, kita sekarang menjadi tahu, dari mana istilah “bra” tersebut muncul. Lalu, darimanakah istilah BH ? Beha atau yang disingkat dengan BH merupakan kependekan dari kata  Belanda, yakni  Buste Houder, yang diserap dalam bahasa Indonesia Cuma singkatannya saja.  Dengan kata lain, kita mengenal istilah “beha” atau disingkat BH warisan istilah dari kolonial Belanda.

BACA JUGA :   Jaga Lingkungan Sumatera Utara (Jalin Sumut) Sukses laksanakan Mubes I Dan Deklarasi

Lalu, darimanakah istilah kutang berasal, istilah ini lebih populer di kalangan masyarakat awam.Seperti yang telah saya sampaikan di paragraf awal tulisan ini, di Bali sampai pertengahan abad ke 20, sebagian besar para perempuannya belum memakai kutang. Sementara menurut sastrawan sekaligus seniman Remy Sylado, dalam novelnya Pangeran Dipenogoro di jelaskan asal muasal istilah kutang. Menurut Remy, kebiasaan itu diperkenalkan Belanda. Kisahnya begini.

Pada waktu itu, dalam proyek pembangunan jalan raya pos Anyer – Panarukan, Belanda mempekerjakan budak perempuan dan laki-laki. Don Lopez, seorang pejabat Belanda, melihat budak perempuan bertelanjang dada. Dia kemudian memotong secarik kain putih dan memberikannya kepada salah seorang di antara mereka sembari berkata dalam bahasa Prancis : “tutup bagian yang berharga coutant itu. Berkali – kali dia mengatakan “coutant.” Coutant yang kemudian terdengar sebagai kutang oleh para pekerja. Dan istilah ini menyebar dari mulut ke mulut sehingga menjadi kosakata yang banyak dianut masyarakat Indonesia hingga kini.

AFReza (1)

Bagikan Yok!
%d blogger menyukai ini: