• Rab. Jul 28th, 2021

Become a Mother

ByA Anggita N Putri

Des 22, 2020

Menjadi seorang ibu adalah pergantian identitas, dan juga menjadi salah satu perubahan fisik paling signifikan yang dapat perempuan alami. Pergantian identitas ini bahkan bisa jadi lebih berat dari proses melahirkan itu sendiri. Hal-hal ini adalah hal yang terutama perlu diperhatikan :

1. Perubahan Dinamika Keluarga : Memiliki anak bukan hanya melahirkan seorang manusia, tapi juga menciptakan anggota keluarga baru. Seorang anak adalah katalis yang dapat menciptakan kemungkinan untuk menciptakan hubungan-hubungan yang lebih intim sekaligus tekanan dalam hubungan seorang ibu dengan pasangannya, saudaranya, dan teman-temannya. Perubahan dinamika ini sangat dipengaruhi dengan pengalaman sang ibu saat dibesarkan oleh ibu mereka sendiri. Bila seorang perempuan memiliki hubungan yang bermasalah dengan ibu mereka, mereka akan mencoba untuk menjadi ibu yang dia harapkan untuk dimiliki.

2. Ambivalensi : Menjadi ibu berarti mengalami kontradiksi di mana ibu ingin menjadi dekat dengan anak mereka sekaligus menginginkan ruang untuk diri mereka sendiri. Hal ini adalah hal yang normal dalam hubungan antar manusia, tidak terkecuali antara ibu dan anak. Menjadi ibu tidaklah hal yang baik atau buruk, namun adalah hal yang baik dan buruk. Belajar untuk mentoleransi dan bahkan berusaha merasa nyaman dengan hubungan yang ambivalen antara ibu dan anak ini.

3. Fantasi dan Realita : Ketika anak lahir, seorang ibu telah menciptakan fantasi mengenai anak mereka. Fantasi ini dibentuk oleh observasi yang dilakukan kepada ibu mereka sendiri, sanak saudara perempuan, teman, dan budaya. Seiring berjalannya waktu, fantasi ini akan semakin kuat dan bisa jadi sangat mengecewakan bila realita tidak sesuai dengan fantasi mereka.

4. Rasa Bersalah, Rasa Malu, dan “Ibu yang Cukup Baik” : Dalam pemikiran perempuan, terdapat konsep ibu ideal yang mereka punya. Biasanya ibu ideal ini akan selalu ceria, mengutamakan kebutuhan anaknya sebagai prioritas utama, dan hal-hal ideal lainnya. Kebanyakan perempuan, bila tidak semua, tidak dapat menjadi ibu ideal ini karena dia hanyalah khayalan dan standar yang tidak realistis. Menjadi ibu berarti menghadapi berbagai pilihan sulit dan terkadang perlu mengutamakan kebutuhannya sendiri yang lebih mendesak. Kegagalan untuk mencapai kesempurnaan yang tidak realistis membuat banyak ibu merasa bersalah dan malu. Mereka merasa menjadi “cukup baik” tidak dapat diterima dan merasa bahwa ada yang salah dengan diri mereka ketika mereka gagal memenuhi fantasi mereka.

BACA JUGA :   Kretek dan Korek

diingat juga adalah tantangan dan masalah yang dialami ibu ini bukanlah hal yang harus dihadapi oleh mereka sendiri. Ekspektasi dan fantasi yang seorang ibu miliki juga tercipta karena peran sosialisasi dan budaya yang membentuk persepsi mereka. Dalam hal ini pelimpahan seluruh tugas domestik pada perempuan, konsepsi ibu sempurna yang dapat menghadapi seluruh masalahnya sendiri, dan ekspektasi terhadap ibu yang tidak realistis yang berkembang di masyarakat adalah hal yang patut dikritisi. Kita memerlukan perubahan di masyarakat yang bukan hanya berhenti membentuk imaji seorang ibu super yang tidak realistis namun juga masyarakat yang mampu memberikan bantuan kepada perempuan yang memiliki kebutuhan spesifik ketika menjadi seorang ibu.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *